Refleksi: Memang harus foya-foya, sebab berfoya-foya adalah rejeki nomplok,  
kalau tidak foya-foya lantas   kena "stroke" atau "heart attack, tidak lagi 
bisa menikmati kelezatan dunia  atas biaya negara. Paling tidak yang tidak 
mempunyai kesempatan foya-foya, hanya bisa ucapkan : "syukuralhamdullah ada 
yang dapat berkat  berfoya-foya". Dirgahayu NKRI!

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=2429

      Senin, 21 Juli 2008 | BP 
     
      45% Anggaran Untuk Foya-foya
     
      Denpasar (Bali Post) 
      APBN 2008 mencapai Rp 1.000 trilyun. Jumlah ini, merupakan yang tertinggi 
dalam sejarah bangsa Indonesia. Namun, dari jumlah tersebut, 40 hingga 45 
persen di antaranya digunakan berfoya-foya. Padahal, jika mau berhemat, 
sebenarnya bangsa ini bisa mengalihkan pengeluaran tersebut untuk tujuan 
pembangunan dan peningkatan pertumbuhan ekonomi.

      Demikian disampaikan Wapres Jusuf Kalla pada hari terakhir pelaksanaan 
Munas XIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Hotel Grand Hyatt, Nusa 
Dua, Minggu (20/7) kemarin. Wapres merinci, dari anggaran Rp 1.000 trilyun 
tersebut, subsidi energi negara mencapai Rp 300 trilyun. Sementara untuk 
subsidi pangan jumlahnya Rp 320 trilyun. Pengeluaran lain sebesar Rp 400 
trilyun untuk membayar cicilan dan bunga dari utang negara.

      Anggaran yang diistilahkan Wapres digunakan untuk berfoya-foya tersebut, 
menguap lewat knalpot kendaraan, makanan, energi listrik dan sebagainya. Untuk 
itulah, lanjut Wapres, bangsa ini harus mulai sadar untuk melakukan 
penghematan. Misalnya melalui program konversi minyak tanah (mitan), paling 
tidak dalam tiga tahun ke depan, Indonesia bisa menghemat Rp 70 trilyun. 
Melalui berbagai implikasi penghematan semacam itu, diperkirakan tahun 2010, 
bangsa ini bisa memiliki sumber pendapatan baru yang jumlahnya bisa mencapai Rp 
200 trilyun.

      Jika hal tersebut bisa dilaksanakan dan dipertahankan, Wapres optimis, 
anggaran negara bisa dialihkan untuk tujuan peningkatan berbagai program 
pembangunan di segala bidang. Di mana dampak dari hal tersebut, paling tidak 
tiap tahunnya akan dapat memacu kenaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 
tiga persen. 

      Dalam pidatonya di depan anggota Hipmi, Wapres juga menyampaikan, 
kekuatan ekonomi Indonesia kini lebih besar berada di luar Jawa. Hal tersebut 
merupakan dampak dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang makin merata. Untuk 
itulah, Wapres berpesan kepada para pengusaha untuk bergerak bersama-sama dalam 
upaya membangun kekuatan ekonomi daerah. (ded) 

<<1JK.GIF>>

Kirim email ke