Refleksi: Bagaimana kesejahteraan bisa dicapai untuk menciptakan perdamaian? 
Apakah selama SBY-Kalla berkuasa telah ada jalan menuju kesejahteraan di 
Indonesia?

Jawa Pos


 

[ Kamis, 31 Juli 2008 ] 

Perdamaian Bisa Terwujud dengan Kesejahteraan 

SBY Buka ICIS III

JAKARTA - The 3rd International Conference Islamic Scholars (ICIS) di Hotel 
Borobudur kemarin dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden berharap, 
konferensi cendekiawan muslim internasional itu bisa menghasilkan rumusan untuk 
mewujudkan perdamaian dunia.

Menurut SBY, masyarakat Islam sebaiknya mengutamakan pencegahan konflik. Sebab, 
sangat sulit mengobati jika sudah terjadi konflik. ''Mencegah terjadinya 
konflik juga mencegah jatuhnya korban jiwa, energi politik, dan sumber daya 
ekonomi,'' ujar SBY saat membuka ICIS kemarin. 

Untuk mencegah, lanjut SBY, diperlukan kemampuan untuk mendeteksi potensi 
konflik. Dan, pencegahan konflik juga membutuhkan kepemimpinan. Kepemimpinan 
itu, kata SBY, dapat berasal dari siapa pun. Mulai pemimpin politik, pemimpin 
informal, pemimpin komunitas, hingga pemimpin agama, bergantung kepada konflik 
yang sedang terjadi. 

Setiap konflik memiliki karakter berbeda. Karena itu, perlakuannya juga 
berbeda-beda. ''Saya juga percaya bahwa seberapa lama dan rumitnya sebuah 
konflik pasti akan dapat dicari solusinya," ungkap SBY.

Karena itu, SBY berharap agar konferensi yang bertema Upholding Islam as 
Rahmatan Lil Alamin: Peace and Conflict Prevention in the World itu dijadikan 
kesempatan untuk memformulasikan cara-cara praktis mengatasi tantangan dan 
hambatan politik, ekonomi, dan sosial menuju perdamaian dan kemajuan. 

SBY juga mengungkapkan, salah satu kunci untuk mewujudkan perdamaian di dunia 
Islam adalah peningkatan kemampuan ekonomi dan kesejahteraan. Dunia muslim 
masih tertinggal jauh. PBB dalam Human Development Index (HDI) mencatat hanya 9 
negara muslim yang masuk kategori high development. Selain itu, 40 persen 
populasi dewasa di negara-negara muslim masih buta huruf. 

''Dengan kondisi seperti ini, kita tidak bisa bersaing dalam dunia yang sudah 
mengglobal. Kita di luar lingkaran ekonomi global dan jauh dari pusat 
kesempatan-kesempatan ekonomi,'' katanya.

Menurut SBY, jika dikelola dengan baik, negara muslim memiliki potensi yang 
sangat besar untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Sebab, negara muslim 
memasok 70 persen kebutuhan energi dunia dan 40 persen kebutuhan bahan mentah 
untuk industri. Pasar muslim sendiri mencakup 20 persen populasi dunia.

''Jika kita bisa bersatu, potensi-potensi itu bisa ditransformasikan untuk 
produksi, perdagangan, dan investasi untuk pencapaian perdamaian di antara kita 
sendiri dan dunia," kata SBY. 

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars 
(ICIS) KH Hasyim Muzadi mengatakan, penyebab utama lahirnya konflik etnis dan 
agama adalah ketidakadilan global, baik politik, ekonomi, maupun budaya. Dan, 
ketidakadilan global itulah yang mendorong banyak kelompok masyarakat 
menggunakan kekerasan sebagai alternatif penyelesaian ketidakberdayaan.

Menurut Hasyim, ICIS III yang dihadiri 350 perserta dari 64 negara itu bisa 
dijadikan ajang para tokoh dunia, ulama, dan peneliti untuk mencari akar 
munculnya berbagai konflik, terutama di negara-negara muslim. ''Konflik yang 
terjadi di Palestina, Afghanistan, Iraq, Sudan, termasuk di Thailand Selatan 
dan Filipina Selatan, akan diurai satu per satu dan dicari akar masalahnya,'' 
kata ketua umum PB NU itu. 

<<15408large.jpg>>

Kirim email ke