http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/11/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY -------------------------------------------------------------------------------- THE GLOBAL NEXUS Olimpiade Beijing dan Fadel Muhammad Christianto Wibisono Olimpiade telah menjadi atribut coming of age, kredensial dan lisensi peringkat kematangan, kualitas dan bobot suatu negara bangsa. Tiongkok mencapai atribut itu di tengah iri hati dan cemburu dari para mantan sesepuh superpower masa lalu, Presiden Bush datang ke Beijing sambil mengeluh tentang HAM di Bangkok. Presiden Sarkozy, yang sempat arogan mau memboikot, juga datang ke Beijing. Pada zaman prarepublik, dinasti Qing terkenal dengan arogansinya memaksa utusan negara-negara Eropa untuk kowtow, berlutut kepada Kaisar. Di zaman Kang His dan Chien Lung, abad ke 17-18, PDB Tiongkok melampaui Eropa yang masih merasa "inferior" terhadap Tiongkok. Yang paling cepat dan tangkas belajar ialah Jepang, justru di bawah Meiji Tenno, seorang kaisar yang merebut kembali kekuasaan politik dari junta militer shogun. Pencerahan seorang kaisar menggusur militerisme konservatif. Jepang insaf bahwa ilmu dan teknologi ada di tangan Barat, yang melejit meninggalkan manusia lain yang masih berkutat pada peradaban praindustri, peninggalan belasan milenium. Dalam tempo satu generasi sejak Meiji melancarkan restorasi armada Jepang di bawah Laksamana Togo mengalahkan armada Rusia di Selat Tsushima pada 1905. Inilah titik balik yang dilampaui Jepang yang merangsang elite India, Tiongkok, dan Hindia Belanda, waktu itu, untuk mengubah perlawanan dan perjuangan dari model tombak primitif menjadi gerakan modernisasi melalui pendidikan tuntas meniru dan menerapkan ilmu dan teknologi Barat. Di Barat sendiri, industrialisasi dan penggulingan sistem monarki dibarengi dengan lahirnya ideologi Marxisme, yang kemudian berhasil merebut kekuasaan di Rusia pada 1917. Dalam satu generasi, Marxisme melanda Eropa Timur sampai ke Tiongkok, yang pada 1949 menjadi negara komunis terbesar di dunia dalam jumlah penduduk. Semua orang di luar Eropa Timur dan RRT terpukau dan di Indonesia elite PKI menepuk dada mengklaim sebagai partai komunis terbesar di belahan bumi selatan pada 1965. Kemudian ditumpas habis oleh rezim militer Soeharto tanpa ampun dan nyaris "gratis". Sedang di Vietnam, AS perlu mengorbankan 50 000 jiwa untuk membendung komunis, tapi gagal total ketika pada 1975 harus keluar dari Vietnam sebagai pecundang. Olimpiade Tokyo Pada 1964, setelah bangkit dari kekalahan Perang Dunia II, Jepang memperoleh atribut Olimpiade Tokyo. Sayang ketika Olimpiade untuk pertama kali memahkotai negara Asia, Indonesia justru terkucil gara-gara solidaritas dengan Timur Tengah. Pada 1962, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV, yang bangunan stadionnya dibantu oleh Uni Soviet. Karena solidaritas dengan Arab, maka Israel dan Taiwan yang masih menjadi anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC) tidak diundang ke Jakarta. IOC menjatuhkan skorsing kepada Indonesia. Akibatnya atlet Indonesia tidak bisa ikut dalam Olimpiade Tokyo, tapi negara-negara Arab justru berlenggang berlomba di Tokyo bersama atlet Israel. Suatu solidaritas dengan dampak negatif yang sangat menyakitkan hati Bung Karno. Olimpiade 2012 telah ditetapkan di London dan Tokyo kembali akan menawarkan diri menjadi tuan rumah pada 2016. Sementara Indonesia untuk Asian Games saja belum berani mencalonkan diri lagi setelah 46 tahun lalu, sebagai tuan rumah juga masuk 3 besar Asia. Kinerja bangsa secara keseluruhan akan tercermin di berbagai bidang dengan kesetaraan yang sulit dimanipulasi oleh elite. Dalam "Presidential Lecture", Kamis 31 Juli 2008, Dr Kishore Mahbubani menyebutkan tujuh pilar rahasia sukses Asia. Ketujuhnya berasal dari Barat, yang diadopsi oleh Asia dengan sukses. Pilar utama ialah Meritokrasi, di mana semua orang dihargai karena prestasi, kinerja dan bukan karena pendekatan kabalistik karena turunan, ras, etnis, agama, dan kasta. Pasar bebas yang pernah dikungkung oleh Marxisme, rule of law, pengembangan iptek, kemampuan adaptasi, adopsi dan inovasi, kultur kerukunan, dan pendidikan. Mahbubani mengusulkan kontrak sosial baru untuk mengangkat mereka yang tercecer dalam proses pembangunan, sekaligus menekankan asas meritokrasi untuk menjamin peluang bagi bakat terpendam dalam mencapai kinerja unggulan tanpa hambatan primordial dan kelas. Keyakinan bahwa demokrasi harus bisa dimanfaatkan untuk mencapai cita-cita meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ketiga, memberdayakan kaum muda sebagai modal, pemikir, pikiran, dan imajinasi manusia. Dalam akronim bahasa Inggris, Mahbubani menyebut tiga usulannya sebagai SBY (social contract, belief, and youth). Sejak Maret 2008, Global Nexus Institute memprakarsai kedatangan Mahbubani, yang kemudian diambil alih dan ditingkatkan menjadi "Presidential Lecture" yang merangsang elite Indonesia untuk merenungkan di mana posisi Indonesia pada era Restorasi Asia jilid II. Menko Perekonomian/Menkeu Dr Sri Mulyani selaku moderator telah memberikan kontribusi bahwa Indonesia siap berperanan sebagai satu dari empat besar Asia, dan bukan sekadar menjadi figuran dari tiga aktor utama, Tiongkok, Jepang, dan India. Tokoh Utama Sejak Rabu pekan lalu, koran ini telah mengorbitkan Fadel Muhammad sebagai tokoh utama dan Jumat petang, Jakob Oetama salut atas rekor MURI, Gubernur terpilih dengan voting lebih dari 80 persen. Ironisnya justru intra elite Golkar yang sibuk membendung rencana Fadel untuk menjadi caleg dan berhenti jadi gubernur. Sistem "kumpul kebo", presidensial dengan puluhan partai gurem dan partai kartel yang tidak memungkinkan calon internal meroket ke atas, telah menghasilkan stagnasi dan impotensi sistem politik kita. Jusuf Kalla dulu tidak dicalonkan oleh Golkar, baru setelah jadi Wapres ia merebut jabatan Ketua Umum. Susilo Bambang Yudhoyono mestinya bisa dicalonkan oleh Golkar, tapi ia harus bersusah payah mendirikan Partai Demokrat, yang hanya ukuran menengah. Elite Indonesia gemar berimprovisasi, sehingga tidak jelas lagi siapa loyalis partai, siapa bajing loncat, dan siapa oportunis. Politisi bisa jadi mitra pasangan capres bagaikan penganut free sex, gonta-ganti pacar, tanpa rasa dosa atau salah. Dengan sistem politik seperti itu kinerja pemerintahan tidak bisa optimal. Karena selalu diganggu dengan intrik, manipulasi, pemerasan politik oleh partai dan legislatif terhadap eksekutif. Sedang yudikatif juga asyik bertelepon ria dengan makelar model Ayin yang hanya merupakan puncak dari gunung es mafia peradilan. Jika Golkar adalah Partai Republik atau Partai Demokrat dalam sistem AS, maka Gubernur Fadel tidak perlu mundur dari jabatan untuk melamar jadi kongreswan dan harus direstui oleh ketua umum dan DPP Partai. Gubernur siapa pun bisa langsung terjun menantang seniornya seperti dulu gubernur Reagan, gubernur Bush, dan mantan gubernur Bill Clinton tanpa khawatir distop oleh struktur DPP partai. Rakyatlah yang akan menentukan apakah Gubernur Sultan atau Gubernur Fadel layak jadi capres atau cawapres. Dengan sistem politik seperti itu, bakat terbaik untuk menjadi presiden terbendung atau terkebiri oleh struktur partai. "Kita hanya mempraktikkan talking democracy," kata Jakob Oetama dan belum working democracy. Itulah sebabnya kita tidak tahu kapan kita akan jadi negara bermartabat yang punya atribut Olimpiade. Semuanya serba tidak jelas, karena aturan yang membelenggu proses munculnya Obama Indonesia. Penulis adalah pengamat politik nasional dan internsional -------------------------------------------------------------------------------- Last modified: 10/8/08
<<christan.gif>>
