http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=17671

14 Agustus 2008 23:36:53



Thaha: Papua Belum Ada Perubahan





JAYAPURA- Memasuki usai kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63, rupanya 
belum memberikan perubahan yang signifikan bagi pembangunan di tanah air, 
khususnya Papua. Sebagian besar rakyat Papua masih hidup dalam kemiskinan dan 
keterbelakangan yang mungkin tidak hanya terjadi di Papua tetapi di seluruh 
Tanah Air. Untuk itu, kedepan ini hendaknya dilakukan suatu pertobatan 
structural dan instpropeksi diri mulai dari Presiden H. Susilo Bambang 
Yudhoyono sampai pada kepala kampung. Hal itu dikemukakan Sekretaris Presidium 
Dewan Papua Thaha Al Hamid ketika menjawab Cenderawsih Pos Kamis kemarin.


"Saya kira perlu dilakukan suatu pertobatan structural yang di mulai dari 
Presiden sampai tingkat kepala desadi bawah, sebab sampai saat ini kita hanya 
menuai kegagalan," 
Ia melihat, negara ini terlalu labil dalam menghadapi problem - problem dasar 
atau perkembangan ditingkat regional maupun internasional, ia lalu menyebutkan 
bahwa ketika harga BBM naik di pasar dunia saja negara inis udah sangat 
terpukul. "Ini problem ini adalah problem dasar, bahwa posisi Repbulik ini 
sangat labil," ujarnya serius.


Kendati ia menyampaikan selamat Ulang Tahun Kemerdekaan RI tetapi Ia mengaku 
sedih, karena di usia kemerdekaan yang 63 ini masih sangat banyak masalah yang 
harus dibereskan. Mulai dari masalah kepimpinan nasional, masalah kemiskinan 
rakyat, masalah ekonomi, masalah kegagalam pembangunan, kegagalan sampai pada 
masalah penataan pola hubungna antara pusat dan daerah. "Saya kira ini semua 
menjadi masalah mendasar sehingga saya harap, kita tidak tenggelam dalam 
kemeriahan 63 tahun ini dengan kibaran Merah Putih dimana-mana tapi lebih baik 
mari kita tundukan kepala koreksi diri mana yang salah, itu yang harus dibenahi 
khususnya di Papua," katanya.


Karena itu kata Thaha Al Hamid khusus untuk Papua, Presiden Yudhoyono dan 
Wapres H. Muhamad Jusuf Kalla khusus harus bertanggung jawab dan harus 
membuktikan komitmen mereka terhadap implementasi Otsus di Papua. Sebab janji 
mereka terhadap rakyat melalui Otsus yang sudah berjalan 7 tahun sampai saat 
ini belum memberikan perubahan yang memadai, padahal, Otsus adalah solusi 
politik.
Meskipun pemeirntah pusat kerap mengaku telah memberikan wewenang yang begitu 
besar termasuk danan yang begitu besar, kata dia Indonesia ini adalah negara 
kesatuan sehingga tidak ada pusat atau daerah yang ada adalah pemerintah di 
dareah adalah wakil pemerintah pusat. Artinya Gubernur Barnabas Suebu itu 
adalah SBY di Papua atau Abraham Atururi adalah SBY di Papua Barat. "Jadi 
jangan bicara soal pemerintah daerah atau pusat tapi pemerintah itu satu karena 
yang namanya pemerintah itu satu," katanya.


Hal lainnya yang disoroti Thaha Al Hamid adalah tentang penegakan hokum yang 
masih belum berjalan baik hingga indikasi terjadinya korupsi di tubuh 
pemerintah daerah dan sejumlah pihak namun tak jelas tindaklanjutnya. "Jadi 
saya kira penegakan hukum juga tidak berjalan di negara ini, polisi juga lebih 
sibuk kalau ada bintang kejorea, polisi tidak pernah pusing dengan koruptor, 
saya curiga polisi juga kerjasama, jaksa juga apalagi. Jadi sebenarnya negara 
ini sedang sakit, sakit sekali, sangat parah," paparnya.Karena itu kata dia, 
negara ini harus sungguh - sungguh berani menghukum koruptor dan berani 
melakukan penegakan hokum. "Saya kira, kalau ada olimpiade korupsi pasti 
indonesai dapat medali emas," katanya.


Lanjutnya, untuk dapat keluar dari krisis ini, Thaha menyarankan agar jangan 
bertepuk tangan atau menjuaol konsep saja. Yang penting baginya saat ini adalah 
duduk sama-sama melihat kembali apa hakekat negara ini dibentuk demi membangun 
kesejahteraan rakyat. Apa masalah yang paling penting maka itu yang harus 
segera diselesaikan. "Saya kira sekarang ini siapapun yang menjadi presiden 
apapun yang dia bicara tentang penyelesaian masalah, sulit untuk keluar dari 
persoalan yang ada ini," katanya.
Sebab persoalan sekarang ini bukanlah persoalan ganti sopir yang semudah itu 
menyelesaikan masalah. Ia melihat basic stage negara ini memang sedang kacau 
balau ibarat ban mobil sedang tertanam di lumpur masalah. "Sekarang bagaimana 
kita tolong mobil ini supaya bisa diselamatakan, kalau tidak ya sudah, kita 
semua baku tipu dan tunggu saatnya nanti kita semua akan menuai air mata," 
tandasnya.(ta

Kirim email ke