Hanya tulisan iseng lainnya

=====================

Dua minggu lalu aku dateng ke acara kondangan temen sma dan temen
kuliah. Ga ada yang istimewa dengan dua kondangan itu sebenarnya, sama
aja dengan kondangan-kondangan lain: penuh makanan dan orang-orang
berseliweran.

Yang heboh justru persiapan kami (aku dan temen) yang mo dateng kondangan itu.

Aku janjian sama temen untuk berangkat kondangan bareng jam 11 kurang.
Temenku rencananya bakal jemput aku di rumah. Dari rumah ke tempat
kondangan emang deket banget, tinggal koprol doang. (tapi engga
mungkin dateng kondangan pake koprol :-)  ).

Jam setengah 11 temen nelpon dan cukup dengan mendengar suara serak
aku, dia tahu bahwa aku baru bangun tidur... (maaf bu, abis begadang
semalem..). Trus aku bilang kalo aku bisa cepet beberes kok karena
emang engga suka ribet2 sama penampilan + ga pake dandan2 jadi engga
bakalan lama.

Jam 11 kurang temen dateng dan ternyata dia belum siap. Dia masih kudu
pake kebaya. Trus ngajakin aku pake kebaya (waks! gw ga punya kebaya.
Wisudaan aja gw minjem baju sepupu...). Eh, dia malah nyuruh aku
minjem lagi, which is ga mungkin karena rumahnya jauh sementara
kondangannya cuma sampe jam 2.

Akhirnya kita berangkat kondangan. Pulang kondangan ke mangdu (mangga
dua maksudnya) beli lcd trus ke kosan temen buat siap-siap kondangan
temen yang satu lagi. Kali ini ga ada obrolan mengenai busana. Tapi
soal make up. Temenku yang ini nyuruh dandan, sementara aku ga suka
dandan.

Ga ada waktu untuk meneruskan perdebatan, jadi kita berangkat dengan
apa adanya kita (gw maksudnya ... :-P )

==================

Kenapa image/citra menjadi begitu penting? Karena hidup kita selalu
berorientasi pada orang lain.

Yang punya kondangan bikin kondangan mewah karena ingin menjamu
tamunya dengan baik, ingin mendapat citra baik.
Sang tamu datang dengan "perlengkapan mewah" karena ingin menghargai
tamunya, ingin mendapat citra baik.

Para "presiden wanna be" repot dengan iklan2nya karena ingin citra
baik dari masyarakat.

Jakarta repot dengan monorailnya karena ingin citra baik, keren,
modern, dari bangsa lain.

===================

Sebenernya wajar aja kalo kita ingin selalu terlihat baik. Engga lucu
kan kalo kondangan langsung dari tempat tidur dengan piyama tanpa
mandi dan gosok gigi... eh tunggu dulu ini mah malah lucu ya, tambah
lucu pas diusir ma satpamnya :-D
Tapi lakukan dengan melihat kemampuan.

Aku misalnya, engga ada kebaya masa mau dipaksain minjem ke tetangga,
kan ukurannya beda. Atau engga bisa dandan masa maksain dandan,
bukannya cantik malah ancur.. :-P

Jakarta yang modern dan terlihat megah tidaklah sepadan dengan
banyaknya anak-anak (dan juga orang dewasa) yang hidup kelaparan di
desa-desa tertinggal.

Lebih lagi budaya "ingin terlihat baik yang cenderung mewah" ini juga
menjangkiti para pejabat, birokrat, yang akhirnya "memaksa" mereka
untuk mengambil yang bukan haknya.

Semuanya demi citra.

Aku jadi ingat kata-kata dari sebuah buku "jika tidak ada yang
melihatnya, berapa orang yang akan mengendarai mercy?"

cheers!

Kirim email ke