Semuanya demi citra.



Aku jadi ingat kata-kata dari sebuah buku "jika tidak ada yang

melihatnya, berapa orang yang akan mengendarai mercy?" <<<< aku setuju kali ... 
ekstrimnya .. napa kita mesti pake baju klo ga akan ada yg lihat .... bugil 
juga gpp khan napa mesti malu .. toh ga ada yg liat ini ..... paling juga masuk 
angin hehehhehe

rgds
ivonne




--- On Fri, 8/22/08, :: nepha :: <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: :: nepha :: <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: CiKEAS> kondangan
To: [email protected]
Date: Friday, August 22, 2008, 9:51 AM










    
            Hanya tulisan iseng lainnya



============ =========



Dua minggu lalu aku dateng ke acara kondangan temen sma dan temen

kuliah. Ga ada yang istimewa dengan dua kondangan itu sebenarnya, sama

aja dengan kondangan-kondangan lain: penuh makanan dan orang-orang

berseliweran.



Yang heboh justru persiapan kami (aku dan temen) yang mo dateng kondangan itu.



Aku janjian sama temen untuk berangkat kondangan bareng jam 11 kurang.

Temenku rencananya bakal jemput aku di rumah. Dari rumah ke tempat

kondangan emang deket banget, tinggal koprol doang. (tapi engga

mungkin dateng kondangan pake koprol :-)  ).



Jam setengah 11 temen nelpon dan cukup dengan mendengar suara serak

aku, dia tahu bahwa aku baru bangun tidur... (maaf bu, abis begadang

semalem..). Trus aku bilang kalo aku bisa cepet beberes kok karena

emang engga suka ribet2 sama penampilan + ga pake dandan2 jadi engga

bakalan lama.



Jam 11 kurang temen dateng dan ternyata dia belum siap. Dia masih kudu

pake kebaya. Trus ngajakin aku pake kebaya (waks! gw ga punya kebaya.

Wisudaan aja gw minjem baju sepupu...). Eh, dia malah nyuruh aku

minjem lagi, which is ga mungkin karena rumahnya jauh sementara

kondangannya cuma sampe jam 2.



Akhirnya kita berangkat kondangan. Pulang kondangan ke mangdu (mangga

dua maksudnya) beli lcd trus ke kosan temen buat siap-siap kondangan

temen yang satu lagi. Kali ini ga ada obrolan mengenai busana. Tapi

soal make up. Temenku yang ini nyuruh dandan, sementara aku ga suka

dandan.



Ga ada waktu untuk meneruskan perdebatan, jadi kita berangkat dengan

apa adanya kita (gw maksudnya ... :-P )



============ ======



Kenapa image/citra menjadi begitu penting? Karena hidup kita selalu

berorientasi pada orang lain.



Yang punya kondangan bikin kondangan mewah karena ingin menjamu

tamunya dengan baik, ingin mendapat citra baik.

Sang tamu datang dengan "perlengkapan mewah" karena ingin menghargai

tamunya, ingin mendapat citra baik.



Para "presiden wanna be" repot dengan iklan2nya karena ingin citra

baik dari masyarakat.



Jakarta repot dengan monorailnya karena ingin citra baik, keren,

modern, dari bangsa lain.



============ =======



Sebenernya wajar aja kalo kita ingin selalu terlihat baik. Engga lucu

kan kalo kondangan langsung dari tempat tidur dengan piyama tanpa

mandi dan gosok gigi... eh tunggu dulu ini mah malah lucu ya, tambah

lucu pas diusir ma satpamnya :-D

Tapi lakukan dengan melihat kemampuan.



Aku misalnya, engga ada kebaya masa mau dipaksain minjem ke tetangga,

kan ukurannya beda. Atau engga bisa dandan masa maksain dandan,

bukannya cantik malah ancur.. :-P



Jakarta yang modern dan terlihat megah tidaklah sepadan dengan

banyaknya anak-anak (dan juga orang dewasa) yang hidup kelaparan di

desa-desa tertinggal.



Lebih lagi budaya "ingin terlihat baik yang cenderung mewah" ini juga

menjangkiti para pejabat, birokrat, yang akhirnya "memaksa" mereka

untuk mengambil yang bukan haknya.



Semuanya demi citra.



Aku jadi ingat kata-kata dari sebuah buku "jika tidak ada yang

melihatnya, berapa orang yang akan mengendarai mercy?"



cheers!


      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke