Tak kenal maka tak sayang, katanya..
Mereka yang sudah dikenal publik, memiliki keuntungan.. apalagi sebagai
(mantan) pejabat.. Terkadang media massa sendiri belum tentu bersikap
fair terhadap tokoh yang ada.. apalagi media yang dimiliki pemodal yang
sekaligus (kalangan) tokoh tadi..

Di satu sisi, ajaran agama menyebutkan soal ikhlas dan tidak boleh riya.
Sementara di sisi lain ada tuntutan dari publik, yang ingin tahu apa saja
prestasi seseorang selama ini..

Saya sepakat, make-up/dandanan mustinya kalah penting dari substansi
maupun rekam jejak seseorang. Namun kalau tanpa dandanan yang wajar,
rasanya juga lucu dan memalukan, seandainya kita pergi kondangan hanya
dengan bercelana pendek dan kaos oblong.. apalagi yang bolong".. :-p
Artinya, dandanan diperlukan sebatas masih dalam kewajaran..

AFAIK, pengenalan diri (termasuk apa yang kita kenal dengan CV) terkadang
diperlukan apalagi di tengah persaingan yang tidak fair di atas.. Yang
penting
niatnya untuk kebaikan umum atau pribadi saja?

Pernahkah anda melamar pekerjaan tanpa melampirkan/ditanyakan soal CV?
Banyak yang paham, kalau ikutan proyek, CV (perusahaan) menjadi salah satu
bahan penilaian penting lho.. Dapatkah anda bilang, mis: saya ini orangnya
ikhlas (dan gak mau riya), jadi gak bisa menuliskan prestasi dan yang
dikuasai
dalam CV.. :D

Wallahu a'lam.. CMIIW...

-- 
Wassalam,

Irwan.K
"Better team works could lead us to better results"
http://irwank.blogspot.com/

Pada 22 Agustus 2008 20:51, :: nepha :: <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

>   Hanya tulisan iseng lainnya
>
> =====================
>
> Dua minggu lalu aku dateng ke acara kondangan temen sma dan temen
> kuliah. Ga ada yang istimewa dengan dua kondangan itu sebenarnya, sama
> aja dengan kondangan-kondangan lain: penuh makanan dan orang-orang
> berseliweran.
>
> Yang heboh justru persiapan kami (aku dan temen) yang mo dateng kondangan
> itu.
>
> Aku janjian sama temen untuk berangkat kondangan bareng jam 11 kurang.
> Temenku rencananya bakal jemput aku di rumah. Dari rumah ke tempat
> kondangan emang deket banget, tinggal koprol doang. (tapi engga
> mungkin dateng kondangan pake koprol :-) ).
>
> Jam setengah 11 temen nelpon dan cukup dengan mendengar suara serak
> aku, dia tahu bahwa aku baru bangun tidur... (maaf bu, abis begadang
> semalem..). Trus aku bilang kalo aku bisa cepet beberes kok karena
> emang engga suka ribet2 sama penampilan + ga pake dandan2 jadi engga
> bakalan lama.
>
> Jam 11 kurang temen dateng dan ternyata dia belum siap. Dia masih kudu
> pake kebaya. Trus ngajakin aku pake kebaya (waks! gw ga punya kebaya.
> Wisudaan aja gw minjem baju sepupu...). Eh, dia malah nyuruh aku
> minjem lagi, which is ga mungkin karena rumahnya jauh sementara
> kondangannya cuma sampe jam 2.
>
> Akhirnya kita berangkat kondangan. Pulang kondangan ke mangdu (mangga
> dua maksudnya) beli lcd trus ke kosan temen buat siap-siap kondangan
> temen yang satu lagi. Kali ini ga ada obrolan mengenai busana. Tapi
> soal make up. Temenku yang ini nyuruh dandan, sementara aku ga suka
> dandan.
>
> Ga ada waktu untuk meneruskan perdebatan, jadi kita berangkat dengan
> apa adanya kita (gw maksudnya ... :-P )
>
> ==================
>
> Kenapa image/citra menjadi begitu penting? Karena hidup kita selalu
> berorientasi pada orang lain.
>
> Yang punya kondangan bikin kondangan mewah karena ingin menjamu
> tamunya dengan baik, ingin mendapat citra baik.
> Sang tamu datang dengan "perlengkapan mewah" karena ingin menghargai
> tamunya, ingin mendapat citra baik.
>
> Para "presiden wanna be" repot dengan iklan2nya karena ingin citra
> baik dari masyarakat.
>
> Jakarta repot dengan monorailnya karena ingin citra baik, keren,
> modern, dari bangsa lain.
>
> ===================
>
> Sebenernya wajar aja kalo kita ingin selalu terlihat baik. Engga lucu
> kan kalo kondangan langsung dari tempat tidur dengan piyama tanpa
> mandi dan gosok gigi... eh tunggu dulu ini mah malah lucu ya, tambah
> lucu pas diusir ma satpamnya :-D
> Tapi lakukan dengan melihat kemampuan.
>
> Aku misalnya, engga ada kebaya masa mau dipaksain minjem ke tetangga,
> kan ukurannya beda. Atau engga bisa dandan masa maksain dandan,
> bukannya cantik malah ancur.. :-P
>
> Jakarta yang modern dan terlihat megah tidaklah sepadan dengan
> banyaknya anak-anak (dan juga orang dewasa) yang hidup kelaparan di
> desa-desa tertinggal.
>
> Lebih lagi budaya "ingin terlihat baik yang cenderung mewah" ini juga
> menjangkiti para pejabat, birokrat, yang akhirnya "memaksa" mereka
> untuk mengambil yang bukan haknya.
>
> Semuanya demi citra.
>
> Aku jadi ingat kata-kata dari sebuah buku "jika tidak ada yang
> melihatnya, berapa orang yang akan mengendarai mercy?"
>
> cheers!
>

Kirim email ke