http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2008081809161616

      Senin, 18 Agustus 2008 
     

      BURAS 
     
     
     

Moralitas Bangsa Merdeka! (2) 


       
      "ELITE yang tidak kenal kata 'cukup' dengan tumpukan hartanya menjadi 
kendala untuk berbagi dengan rakyat yang tercekam kemiskinan!" tukas Temin. 
"Jadi, asumsimu kalau makmur selalu cukup untuk dibagi, keliru! Buktinya, alam 
negeri kita kaya dan makmur, dieksploitasi nyaris tanpa sisa pun--hutan-hutan 
gundul, minyak bumi hampir habis--rakyat tetap miskin! Itu, selain akibat 
minimnya sikap adil elite, rasa tanggung jawab moralnya sebagai bangsa merdeka 
juga rendah! Kemerdekaan cuma jadi praktek bebas menggunakan kekuasaan untuk 
kepuasan diri, keluarga dan kroni! Tanggung jawab pada rakyat yang memberi 
mereka kekuasaan, sebatas retorika!"

      "Tanggung jawab sebagai elemen moralitas bangsa merdeka itu harus ditarik 
ke asal-usul kekuasaan, yakni kedaulatan rakyat!" timpal Temon. "Kekuasaan 
elite politik di ranah publik itu diperoleh dari rakyat si pemegang kedaulatan 
lewat proses pemilihan langsung! Maka itu, sebelum menuntut tanggung jawab 
elite atas amanah yang diberi rakyat, ditanya dahulu apakah rakyat telah 
melakukan pilihan bagi penentuan nasibnya secara bertanggung jawab? Kalau 
ternyata memilih asal-asalan, misal, menukar kedaulatannya dengan satu kresek 
sembako, harus siap menanggung konsekuensinya--masa depannya telah ditukar 
sembako itu!"

      "Untuk itu rakyat tak bisa dijadikan keranjang sampah kesalahan elite!" 
tegas Temin. "Rakyat berpegang pada janji elite! Kerbau dipegang talinya, 
manusia, apalagi pemimpin, yang dipegang janjinya! Kalau terbukti dia ingkar 
janji serta khianat pada amanah yang diterima dari rakyat, bukan salah rakyat, 
tapi tanggung jawab elite itu atas perbuatannya! Katanya hidup adalah 
perbuatan!"

      "Tapi rakyat tetap menanggung konsekuensi dari kesalahannya memilih 
pemimpin!" timpal Temon. "Mereka harus menyadari, rakyatlah pemilik mahkota 
kedaulatan negara, hingga pelaksanaan tanggung jawabnya untuk itu sebagai 
amalan moralitas bangsa merdeka harus dilakukan sebaik-baiknya! Mahkota itu 
jangan dijual murah, apalagi cuma dibayar janji kosong!"

      "Rakyat tidak berpikir sejauh itu atas mahkota kedaulatannya!" tegas 
Temin. "Bahkan bagi sebagian besar rakyat, memilih dalam pemilu masih dianggap 
kewajiban ketimbang hak! Juga, itu dipandang tidak lebih penting dari tanggung 
jawab menafkahi keluarga atau menjaga keamanan desa! Belum dipandang sebagai 
penentu nasib! Kalau tidak kerja keras, keluarga kelaparan!"

      "Sikap rakyat itu, kurang peduli terhadap janji elite bagi perbaikan 
nasibnya, salah satu pemicu krisis rasa tanggung jawab kalangan elite!" tukas 
Temon. "Karena usai memilih di pemilu, rakyat segera terbenam kembali dalam 
usaha bertahan hidup, elite jadi personalized dengan kekuasaannya--kekuasaan 
diperlakukan sebagai milik pribadi yang tidak perlu bertanggung jawab kepada 
rakyat! Elite jadi terkapsul dalam keasyikan dan kepentingan sendiri! Pada yang 
lain, cukup silat lidah menutupi ingkar janji!"

      H. Bambang Eka WIjaya
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke