http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2008081909172017

      Selasa, 19 Agustus 2008 
     

      BURAS 
     
     
     

Moralitas Bangsa Merdeka! (3) 


       
      "KONDISI terkapsulnya elite dalam keasyikan dan kepentingan sendiri larut 
jadi disorientasi terhadap realitas pergumulan kesulitan hidup rakyat!" ujar 
Temin. "Egosentrisme menonjol, beranggapan hanya dirinya paling benar, layak 
mendapat hak-hak istimewa hingga membenci dan memusuhi orang lain yang 
menginginkan hal serupa! Gejala ini tidak terbatas pada lurah dan mantan lurah 
sering tidak akur, bahkan di antara mantan presiden kita neng-nengan--tidak 
saling bicara!"

      "Saling benci dan curiga antarelite merebak dengan fragmentasi 
pendukungnya, warga tercabik dalam kotak-kotak antagonisme 
horizontal--menonjolkan dan mempertajam perbedaan hingga yang terkecil dan 
tersembunyil!" sambut Temon. "Sejauh persaingan berjalan sehat, itu bisa 
menjadi pemacu kemajuan! Tapi dengan kenyataan saling hujat dan membusukkan 
pihak lain, fragmentasi jadi belantara fitnah dan cari kesalahan, persaingan 
jadi kontraproduktif!"

      "Moralitas bangsa merdeka yang seharusnya menghormati kepentingan orang 
lain sesama warga bangsa pun, dengan begitu berubah menjadi saling curiga dan 
saling jegal, ada kalanya malah berusaha saling bunuh," tegas Temin. 
"Kebersamaan dan ke-kita-an sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa 
tinggal sebatas penghias bibir! Realitasnya, elite terfragmentasi dalam 
egosentrisme dan segala bentuk ke-kami-an--dari nepotis, primordialis, 
sektarianis, sampai partisan!"

      "Kohesivitas warisan leluhur, seperti biduk lalu kiambang bertaut, 
fragmentasi yang terjadi saat pemilihan lurah segera melebur usai pesta 
demokrasi itu, berubah jadi dendam hingga pemilihan lurah atau pilkada 
berikutnya!" timpal Temon. "Moralitas merdeka yang mempersatukan segala 
perbedaan elemen bangsa tercabik-cabik oleh egosentrisme dan ke-kami-an yang 
sempit! Murid dan mahasiswa tawuran hanya akibat perbedaan sepele! Ini pertanda 
ke depan fragmentasi sosial bisa makin serius!"

      "Dengan moralitas berbangsa kita harus kembali ke akar struktur dasar 
masyarakat bangsa, RT-RW-Dusun!" tegas Temin, Di dasar itu masih ada majelis 
taklim, pengajian bersama malam Jumat, masih ada giliran ronda menjaga keamanan 
kampung, masih ada gotong royong dan saling membantu baik saat kesusahan maupun 
pesta! Bangsa retak centang-perenang di struktur bangunan atas, tapi di bawah, 
fondasinya masih utuh! Itulah modal sosial terpenting bangsa ini untuk bangkit 
kembali dengan moralitas bangsa merdeka, bangkit bersama semua unsur dan elemen 
masyarakat, bukan kelompok satu mau hidup sendiri dengan mengeliminasikan 
kelompok lain!"

      "Malangnya hubungan warga strutur paling bawah itu dengan elite seperti 
istri terhadap suami--swargo nunut, neroko katut!" tukas Temin. "Ketika konflik 
elite merebak, rakyat di bawah duluan kejeblos dijadikan tumbal! Sedang 
elitenya, justru mendapat posisi tawar baru dengan timbulnya konflik!"

      H. Bambang Eka Wijaya
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke