Refleksi: Hasrat  monopoli kekuasaan  elite politik  ibarat madu dikemuni 
semut. Mungkin di negeri lain hasrat  kekuasaan untuk perbaikan kehidupan 
rakyat,  tetapi di Indonesia  hasrat tsb luntur. Kekuasaan adalah sumber guna 
mengeruk kekayaan untuk kepentingan pribadi. Hal ini bisa dilihat sejak Haji 
Muhammad Soeharto dan konconya naik panggung kekuasaan 43 tahun lalu, para 
penguasa menjadi kaya dan rakyat tetap miskin melarat.

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/27/Editor/edit01.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Hasrat Kekuasaan Elite Politik
 

Benny Susetyo 

Musim partai politik menyetor para calon elite untuk diadu dan diuji 
keberuntungannya dalam Pemilu 2009. Berita politik didominasi oleh para artis 
dan figur dadakan yang digandeng oleh parpol dalam kerangka merebut simpati 
rakyat. Bahkan, ada yang merasa perlu membuka lowongan di media massa untuk 
menjadi penghuni gedung Senayan. 

Sudah begitu jelas dan dipahami, partai politik gagal menjadi media pembibitan 
calon politisi andal, yang jelas pemihakannya kepada rakyat. Mereka lebih 
berorientasi pada kemenangan politik dalam pemilihan. Tak ada lagi rasa malu 
atas semua kenyataan ini. Dengan bangga mereka mengumumkan figur-figur publik 
yang tak pernah merasakan gemblengan partai dan hampir pasti tidak jelas kepada 
siapa mereka berpihak. 

Kontradiksi-kontradiksi lain dalam dunia politik hari ini cukup membingungkan. 
Tanpa disadari oleh semua pihak yang berkepentingan, para figur itu hanya 
menjadi vote getter yang sangat semu. 

Ke manakah arah orientasi politik Indonesia dengan kenyataan seperti ini? 
Hasrat berkekuasaan nyatanya jauh lebih mendominasi daripada cita-cita untuk 
membangun republik ini bersama-sama. Politik jatuh pada fatamorgana dan 
ketidakjelasan pemihakan. Rakyat hanya menjadi obyek penipuan besar yang 
bernama kekuasaan golongan. Hilangnya kebersamaan penderitaan nyata. 

Republik ini sering berangkat dari tiadanya kebersamaan dan kemampuan para 
elite untuk melayani rakyat dengan sungguh-sungguh. Mereka tidak bekerja untuk 
rakyat tetapi bekerja untuk diri sendiri dan kelompoknya. Hasrat untuk 
memenangkan dan menguasai kapling-kapling sumber daya negara makin lama makin 
menguat dengan beragam cara. Semua ini dilakukan di balik segala berita dan 
wacana "kebersamaan membangun republik". Politik memang merupakan seni untuk 
berebut kekuasaan. 

Sejak zaman para pendahulu hasrat untuk saling menguasai ini bukannya tidak 
ada. Namun, di zaman perjuangan dengan musuh bersama yang nyata di depan mata, 
kebersamaan untuk membangun republik lebih terasa. Apa yang ada di pikiran 
mereka, yang bisa kita baca dari pemikiran-pemikiran mereka, merupakan upaya 
untuk membangun republik ini dan mengentaskannya dari ketertindasan. Tapi, 
zaman berubah. Para elite mulai menghilangkan kebersamaan untuk membangun 
republik ini. 

Mungkin mereka mengira dengan mudah bahwa saat ini sudah tidak ada lagi musuh 
dan masalah yang perlu dihadapi bersama. Saat ini zaman pesta pora, siapa yang 
tidak berkuasa akan dijadikan bulan-bulanan penguasa. Zaman bebal Orde Baru 
telah mengajari para elite untuk hidup saling menerkam. Dunia politik semakin 
dipenuhi intrik yang pada ujungnya menjadikan rakyat sebagai korban. 

Pada zaman Orde Baru sejarah perjuangan bangsa ini hanya dijadikan hiasan dalam 
buku-buku anak sekolah. Ia tak pernah dihayati dan dijadikan pelajaran untuk 
membangun republik menghadapi masa depan. Rakyat sebagai korban saat bentuk 
penjajahan sudah berubah, para elite terlena dan menganggap tak ada lagi yang 
perlu dipersoalkan. Mereka tidak melihat kemiskinan dan pengangguran adalah 
musuh bersama, yang sama sekali tidak pernah bisa diselesaikan dengan cara 
"sendiri-sendiri". Klaim penguasa yang bisa mengentaskan kemiskinan dalam 
berbagai kampanye adalah bohong besar. 

Demikian pula klaim oposan yang melihat semua langkah penguasa mengatasi 
kemiskinan adalah kesalahan, tak lebih hanya sekadar intrik untuk saling 
menjatuhkan. 

Justru di tengah pertarungan-pertarungan seperti inilah rakyat ibarat pelanduk 
yang mati di tengah-tengah gajah berkelahi. 

Kemiskinan bisa diatasi bila semua komponen duduk bersama dan mencari solusi 
yang paling tepat. Pengangguran tidak bisa diselesaikan hanya dengan visi dan 
misi kampanye. Kesejahteraan petani dan nelayan tidak akan pernah bisa 
diperbaiki bila kebijakan pemerintah masih berorientasi pada pemodal dan 
menegasikan rakyat. 


Berjuang Sendiri 

Kebijakan belah bambu, mengangkat yang sudah mapan dengan cara menginjak-injak 
yang menderita, semakin lama semakin banyak model atau bentuknya. Semakin lama 
pula ia semakin dianggap sebagai hal yang wajar. Rakyat kecil berjuang dengan 
dirinya sendiri untuk bangkit dari kemelaratan di satu pihak, di pihak lain 
negara dengan aparatusnya aktif memproduksi kebijakan-kebijakan yang memukul si 
miskin. 

Keseimbangan antara penguasa dan oposan tidak menghasilkan formula yang 
kondusif bagi rakyat sebab kontrol yang dilahirkan tak lebih dari sekadar 
intrik untuk saling menjatuhkan dan meraih popularitas. Sudah nyata dan 
terbukti, mereka yang berada di luar kekuasaan dan prorakyat kecil tidak pernah 
memberikan jaminan apa pun untuk melakukan pembelaan yang sama saat mereka 
berada dalam kekuasaan. 

Kehidupan rakyat semakin susah karena ruang-ruang berkreasi sudah semakin 
sempit. Lapangan kerja begitu sulit. Perkembangan kesejahteraan seolah tidak 
pernah linier dengan waktu yang terus berjalan. Dahulu mereka miskin, sekarang 
juga masih miskin (atau bahkan bertambah miskin). Dahulu orangtua tidak bisa 
bersekolah karena tidak ada biaya, sekarang begitu pula anak-anak mereka. 

Siapa prorakyat? Negara dan elite-elitenya terperangkap pada pemihakan 
segilintir kelompok dan melalaikan kelompok besar lainnya. Negara tak mampu 
berpihak kepada rakyat kecil, sebab sumbangsih rakyat kecil yang terlihat 
hanyalah "suara" dalam pemilihan. Partai politik juga lebih sering berfungsi 
sebagai benalu daripada membela konstituennya dengan benar. Partai politik, 
sebagaimana dicerminkan dari tingkah laku para elite itu, lebih banyak bekerja 
untuk kepentingan elite-elitenya. 

Negara dalam penderitaan yang sangat akut. Negara sudah mulai alpa terhadap 
penderitaan rakyatnya. Rakyat hanya dijadikan korban nafsu penguasa. Ia hanya 
pelengkap acara dan upacara demokrasi. Rakyat baru dirasakan kehadirannya saat 
pesta demokrasi lima tahunan. Kita disandera dua kekuatan besar 
fundamentalisme, yakni fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar. 

Agama jarang memunculkan kesejatian dirinya sebab tak jarang ia juga dibajak 
kepentingan para pemodal. Pada saat yang sama, agama terasing di tengah-tengah 
arus modal yang luar biasa besar. Agama begitu mudah diseret ke dalam konflik 
kepentingan yang tidak diketahui benar apa maksudnya. 

Begitu pula dengan keyakinan mati-matian terhadap mekanisme pasar, telah banyak 
mendorong penguasa untuk melahirkan kebijakan yang tidak memihak rakyat. Di 
tengah suasana kompetisi bebas, secara konseptual negara seharusnya berada di 
pihak yang lemah. 

Dalam praktik sehari-hari kita lihat dengan mata telanjang hura-hura para elite 
yang membela kaum pemodal dan menginjak si lemah. 

Negara ini membutuhkan figur-figur pemberani yang berani menentang arus. 
Kehancuran negara yang sudah demikian dekat hanya bisa diatasi dengan kembali 
membudayakan habitus baru dalam membangun republik ini. 

Penulis adalah Pendiri Setara Institute 



--------------------------------------------------------------------------------

Last modified: 27/8/08 

<<bennysus.gif>>

Kirim email ke