http://www.sinarharapan.co.id/berita/0808/27/sh03.html

Kenaikan Harga Elpiji
Ibu Rumah Tangga Makin Sulit Atur Keuangan 



Oleh
Chusnun Hadi/Suriani

JAKARTA - Menjelang Ramadan ini, sebagian besar masyarakat terutama ibu rumah 
tangga semakin kesulitan mengatur keuangan rumah tangga. Bagaimana tidak, harga 
gas melonjak tajam justru pada saat harga sembilan bahan pokok (sembako) naik 
karena bulan puasa tinggal menghitung hari. Maka tak heran jika para ibu rumah 
tangga terkejut sekaligus keberatan dengan keputusan PT Pertamina menaikkan 
harga gas elpiji isi 12 kg dari Rp 69.000 menjadi Rp 75.000.


Ni Ketut Parningsih, warga Denpasar, Bali, termasuk yang mengeluhkan kenaikan 
harga gas elpiji itu. Ia yakin kenaikan harga itu akan menambah beban 
masyarakat terutama yang berpenghasilan kecil. "Saya heran kenapa harga elpiji 
12 kg naik terus, padahal kita baru saja mengeluarkan banyak biaya untuk 
sekolah anak-anak," katanya.


Begitu pula Syamsiah, ibu rumah tangga yang berdomisili di Kecamatan Ujung 
Tanah-kawasan kumuh di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Dengan pendapatan tetap 
sebagai buruh home industry, ibu dari tiga anak ini terpaksa membantu suaminya 
yang menjadi tukang becak untuk menghidupi keluarganya. "Kami berdua hanya 
mendapat upah Rp 300.000 per bulan. Maka dengan naiknya harga sembako, tentu 
semakin menyulitkan kami," kata Sayamsiah.


Dari pantauan SH di sejumlah pasar tradisional, di antaranya Pasar Terong, 
Pannampu dan Maricaya, kenaikan harga sembako antara 30-50 persen dari harga 
sebelumnya. Seperti telur ayam ras yang biasanya Rp 22.000 per rak, kini 
harganya Rp 25.000. Sedangkan bawang merah dari Rp 13.000 menjadi Rp 19.000 per 
kg. Minyak goreng curah dari Rp 12.000 menjadi Rp 14.000 per liter.Harga 
sayur-mayur juga meningkat. Ambil saja contoh kacang buncis yang biasanya 
dijual seharga Rp 3.500 per kg kini mencapai Rp 6.500 kangkung dari Rp 500 per 
ikat kecil menjadi Rp 1.000. Harga gas elpiji ukuran 12 kg pun yang semula 
masih Rp 75.000 di tingkat pengecer, sekarang menjadi Rp 95.000. Tetapi di 
Palu, Sulawesi Tengah, keputusan Pertamina menaikkan harga gas elpiji ukuran 12 
kg sebesar 9,5 persen sejak Senin (25/8) lalu, memicu kenaikan harga dari Rp 
110.000 menjadi Rp 120.000 per tabung, bahkan ada pedagang yang menjual sampai 
Rp 125.000. 

Akibatnya, para pedagang di Palu menyebutkan bahwa persediaan elpiji menjelang 
Idul Fitri 1429 H cukup banyak, tetapi permintaan masih sepi. Seorang warga 
Kota Palu bernama Rina juga mengeluh. "Harga BBM sudah naik, sekarang gas naik 
lagi, semakin berat saja beban hidup ini," katanya. Menurut dia, sebelumnya 
pemerintah mengajak warga beralih ke gas seiring akan berakhirnya subsidi 
minyak tanah tahun 2010, tetapi harga gas malah dinaikkan.


Seharusnya, pemerintah memberikan kesempatan dulu kepada warga untuk 
mengoptimalkan pemanfaatan bahan bakar gas dari penggunaan minyak tanah, 
sehingga masyarakat merasakan dampak murah dari kebutuhan pokok itu, lanjutnya. 
Rina mengaku terpaksa kembali menggunakan minyak tanah karena harganya masih 
terjangkau.


Di tempat terpisah, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sulawesi Tengah 
menilai kebijakan pemerintah menaikkan harga elpiji untuk konsumen rumah tangga 
belum tepat waktunya. "Kebijakan itu kurang tepat dan menjadi salah satu bentuk 
ketidakpedulian pemerintah terhadap nasib rakyat," kata Ketua YKLI Sulteng 
Salman Hadiyanto.

Menurut dia, kenaikan harga elpiji dan langkanya BBM yang terjadi beberapa 
pekan terakhir di Sulteng membuat masyarakat kian sulit dalam membiayai hidup 
karena kenaikan harga tersebut diikuti oleh melambungnya harga hampir semua 
jenis bahan pokok. Dia berharap agar pemerintah mendesak Pertamina untuk 
menganulir kenaikan elpiji tersebut. 


Akibat langkanya minyak tanah setelah program konversi berjalan dan naiknya 
harga elpiji kemasan 12 kg, warga Malang, Jawa Timur, kini beralih ke elpiji 
kemasan 3 kg. Salah seorang warga perumahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, 
Kota Malang, Wahyuni, mengaku sudah berancang-ancang untuk beralih ke elpiji 3 
kg, karena elpiji 12 kg selain harganya mahal juga sulit didapat. "Kalau kita 
mau jujur, setelah program konversi berjalan, kenyamanan masyarakat terusik, 
sebab minyak tanah langka, elpiji juga harganya mahal. Terus kami sebagai 
rakyat biasa ini mau bagaimana? Yang jelas hidup semakin susah," katanya. 
Selain terusik dengan kenaikan harga elpiji, dirinya dan ibu-ibu rumah tangga 
lainnya juga mengeluhkan kenaikan harga sembako termasuk sayur-mayur dan daging 
yang semakin jauh dari jangkauan rakyat kecil dengan penghasilan pas-pasan.

Korban Lapindo
Penderitaan akibat harga sembako yang kian merangkak tentu saja juga dialami 
para pengungsi korban lumpur Sidoarjo dari Desa Besuki, Kecamatan Jabon, di 
bekas jalan tol Porong-Gempol, padahal bantuan yang mereka terima kini semakin 
jarang datang. Maka untuk bertahan hidup, mereka justru terpaksa menjual paket 
tabung elpiji bantuan pemerintah untuk mendapatkan uang.


Seperti yang dialami oleh Ngateni (56), Mariyam (60) dan Rodha (50), warga RT 
04/ RW V, Desa Besuki. Ditemui SH saat ngerumpi di salah satu gubuk di bekas 
jalan tol, mereka menyatakan pasrah pada pemerintah. "Kami tidak bisa berbuat 
apa-apa. Memang inilah nasib kami," kata Mariyam yang mengaku saat ini tidak 
punya pekerjaan lagi.


Sekitar Maret 2008 lalu, warga di pegungsian bekas jalan tol tepatnya di KM-41 
ini mendapatkan bantuan paket elpiji dari pemerintah dalam program konversi 
dari minyak tanah ke gas. Pada awalnya, mereka sempat menggunakan elpiji untuk 
keperluan memasak sehari-hari. Tetapi lambat laun, mereka sudah tidak punya 
uang lagi untuk memasak.


"Semua warga di pengungsian ini menjual tabung dan kompor elpiji bantuan 
pemerintah. Uangnya bisa untuk makan. Untuk memasak, kami menggunakan kompor 
minyak tanah atau dengan kayu bakar," kata Rodha, salah seorang pengungsi yang 
membuka usaha warung kopi. 
Karena itu, saat pemerintah menaikkan harga elpiji 12 kg dan 50 kg sehingga 
berdampak pada permintaan elpiji ukuran 3 kg yang terus naik, para pengungsi 
itu tidak merasa pusing. 


"Biar saja elpiji naik, toh kami sudah tidak menggunakan lagi," ungkapnya. 
Padahal untuk mendapatkan minyak tanah, mereka harus antre di agen minyak tanah 
Desa Ginonjo yang jaraknya sekitar 1 km dari lokasi pengungsian. Itu pun harus 
antre berjam-jam. 
(cinta malem ginting/

Kirim email ke