Cendrawasih Pos
30 Agustus 2008 05:08:30


Panser Pesanan TNI Terlambat



Kiriman Mesin dari Prancis Molor
BANDUNG - Peringatan HUT TNI pada 5 Oktober mendatang dipastikan belum 
diramaikan 20 panser Armored Personnel Carrier (APC) 6x6 pesanan Departemen 
Pertahanan. Sebab, mesin panser yang dipesan dari pabrikan asal Prancis, 
Renault, sejak Maret lalu itu terlambat dikirim.Dirut PT Pindad Adik Avianto 
Soedaryanto menyatakan, saat ini baru dua mesin panser yang dikirim di antara 
20 unit yang dipesan tahun ini. Dengan begitu, pada 8 September mendatang, 
Pindad baru menyerahkan satu panser. Satu panser lain diserahkan pada 28 
Oktober. ''Sebenarnya bodi 20 panser sudah selesai dikerjakan. Namun, karena 
mesin belum dikirim, panser belum bisa diserahkan,'' ujar Adik di sela 
kunjungan kerja Wakil Presiden Jusuf Kalla di fasilitas produksi PT Pindad, 
Kiara Condong, Bandung, kemarin (29/8).


Meski demikian, dia memastikan akhir September Renault mengirimkan 18 blok 
mesin. Dengan begitu, 20 panser pesanan Dephan untuk tahun ini bisa diserahkan 
Desember mendatang. ''Mulai tahun depan, 10 blok mesin dikirim setiap bulan, 
sehingga setiap bulan dapat kami serahkan 10 panser ke Dephan,'' tuturnya.
Maret lalu, Dephan memesan 150 panser APC 6x6 ke Pindad. Panser yang dipesan, 
antara lain, jenis komando, ambulans, recovery, kargo/logistik, dan mortar. 
Selain itu, dipesan empat panser 4x4 jenis intai. Pindad mengerjakan bodi lapis 
peluru, senjata, suspensi, elektrikal, dan steering.


Sistem propulsi (penggerak) panser diimpor dari Korea Selatan, sedangkan mesin, 
transmisi, serta cooling pack diimpor dari Renault di Prancis dan Jerman. 
''Satu panser tanpa senjata, spare part, dan paket pelatihan pada operator 
seharga Rp 5,6 miliar. Untuk 154 panser, nilai kontraknya Rp 1 triliun,'' jelas 
Adik. Wapres tak mempermasalahkan panser yang akan digunakan TNI-AD tidak bisa 
dipamerkan pada peringatan HUT TNI 5 Oktober mendatang. Bagi dia, lebih penting 
Pindad menyelesaikan kontrak penyediaan 20 panser tahun ini dibanding mengejar 
target menyediakan panser untuk parade. ''Jangan lupa, kita tidak memproduksi 
panser untuk parade, tapi untuk pertahanan negara. Tapi, karena 5 Oktober harus 
ada, jadi diproduksi satu-dua,'' katanya. Kalla menilai, produksi panser itu 
sangat penting untuk meningkatkan kesiapan TNI menjaga negara. Selain itu, 
produksi panser di dalam negeri ditujukan untuk memberikan insentif bagi 
industri pertahanan nasional. 


Dia mengaku harga bahan baku baja naik sekitar 5 persen. Namun, Pindad telah 
terikat kontrak pengadaan 20 panser tahun ini, sehingga tidak ada eskalasi 
anggaran pengadaan. Tahun depan, pemerintah membuka peluang menyesuaikan harga 
dengan kenaikan harga baja. ''Tidak masalah, dibanding harus mengimpor. Harga 
panser produk dalam negeri lebih murah 60 persen dibanding panser impor dari 
Eropa. Padahal, kualitas panser itu sama karena mesinnya juga dari Eropa,'' 
ujarnya. Adik menambahkan, Pindad telah mendapatkan pinjaman dari sindikasi 
perbankan dalam negeri untuk membiayai produksi panser. Uang muka Rp 30 miliar 
baru diserahkan Dephan pada 8 September. ''Nilai 20 panser yang diserahkan 
tahun ini sekitar Rp 151 miliar. Namun, kami harus membayar bunga pinjaman yang 
mencapai Rp 5,2 miliar,'' paparnya. (noe/ok

Kirim email ke