Galamedia

      30/08/2008 Hasil Kesepakatan Ormas Islam
            Awal Ramadan pada 1 September
           

      GANESHA, (GM).-
      Organisasi masyarakat (ormas) Islam sepakat dalam menetapkan awal Ramadan 
dan Idulfitri pada tahun ini. Awal Ramadan yang merupakan hari pertama puasa, 
jatuh pada 1 September. Sedangkan Hari Raya Idulfitri atau 1 Syawal, jatuh pada 
1 Oktober.

      Demikian kesimpulan workshop yang diadakan Yayasan Pembina Masjid Salman 
Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Keluarga Alumni Salman ITB, dengan tema 
"Berbedakah Lebaran Tahun Ini?", bertempat di ruangan utama Kompleks Masjid 
Salman ITB, Jln. Ganesha Bandung, Jumat (29/8).

      Hadir sebagai pembicara, Ketua Lajnah Falakiyah PB Nahdlathul Ulama (NU) 
K.H. Ghazalie Masroeri, anggota Dewan Hisab dan Rukyat PP Persis Ustaz Syarif 
Hakim, Wakil Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah, ahli astronomi dari Lapan dan 
Wakil Ketua Komite Penyatuan Penanggalan Islam (KPPI) Dr. T. Djamaluddin serta 
staf ahli kementerian agama, Tulus Sastrowijoyo. 

      Ditentukan dan disepakatinya tanggal awal Ramadan dan 1 Syawal tersebut, 
menurut ketiga ormas, bahkan telah disebarkan kepada sejumlah pengurus wilayah 
(PW) dan pengurus cabang (PC) se-Indonesia. 

      Seperti dikatakan Ustaz Syarif Hakim bahwa penetapan itu karena pada 29 
Sa'ban sudah terlihat posisi hilal rata-rata di atas ufuk 5 derajat. Sehingga 
pelaksanaan ibadah puasa yang dijalankan oleh umat muslim adalah selama 30 
hari. 

      "Sementara pada 29 Ramadan, posisi hilal berada di bawah ufuk. Maka 
dengan posisi hilal yang sudah tepat, kami berkesimpulan 1 Ramadan pada 1 
September dan 1 Syawal pada 1 Oktober," urainya yang disetujui NU dan 
Muhammadiyah. 

      Adanya kesamaan tanggal itu beredar kabar bahwa NU dan Muhammadiyah telah 
islah dengan dimediasi oleh Wapres Jusuf Kalla. "Ini semua untuk kepentingan 
umat. Mengalah demi kepentingan umat 'kan lebih baik," ucap Oman Faturahman. 

      Meski sejumlah ormas telah menyepakati kepastian tanggal itu, tetapi 
Tulus Sastrowijoyo tidak mengatakan secara pasti. Sebab untuk pemerintah 
mekanisme penetapan itu harus melalui sidang isbat, dengan terlebih dahulu 
mendengarkan pandangan pada hisab dan rukyat yang tersebar di seluruh Indonesia 
oleh Badan Hisab dan Rukyat. 

      "Insya Allah, kemungkinan besar penetapan itu sama dengan apa yang 
disampaikan oleh keputusan para ormas tersebut," ucapnya.

      Dengan adanya kesamaan persepsi penetapan itu, Tulus sendiri merasa lega. 
Apalagi jika melihat posisi hilal. "Kebersamaan penetapan itu karena adanya 
bantuan alam, yang kini tengah bersahabat. Dan mudah-mudahan dengan kondisi 
alam bersahabat ini, untuk dua tahun ke depan tidak ada lagi perbedaan dalam 
melaksanakan ibadah saum dan Lebaran, insya Allah," ungkapnya.  (B.107)**


     

Kirim email ke