http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008082810000033


      Kamis, 28 Agustus 2008 
     
      OPINI 
     
     
     
Golput dan 'Politik atas Nama' 

      Benny Susetyo

      Pendiri Setara Insititute

      ®MDBU¯Berbagai proses demokrasi yang digelar akhir-akhir ini menyisakan 
fenomena golput yang cukup "memprihatinkan". Disebut memprihatinkan karena 
keyakinan bahwa apatisme tersebut terjadi sebagai bentuk keengganan publik yang 
seolah merasa tidak memercayai dan membutuhkan figur kepemimpinan yang ada, 
misalnya dalam perhelatan pilkada akhir-akhir ini.

      Kegagalan Pemimpin

      Ketidakpercayaan itu tumbuh dan selalu memiliki alasan yang bisa 
dimengerti. Publik menilai pemimpin yang ada bukan saja telah gagal memberikan 
kebaikan dan peningkatan kehidupan kepada masyarakat, melainkan juga keberadaan 
para calon pemimpin sudah terlebih dahulu terendus bau busuknya. Pencalonan 
para pemimpin sering kali menggunakan "politik atas nama". Mereka menebar 
jaring dan janji serupa seperti masa-masa sebelumnya.

      Akibat kondisi seperti itu, kesadaran rakyat tumbuh bahwa mereka tak mau 
ditipu kembali. Golput sedikit banyak merepresentasikan mereka yang sudah 
jengah dengan politik dan janji-janji busuk para calon pemimpin.

      Contoh, besarnya angka golput pada pilkada Jawa Timur pada putaran 
pertama, dan diprediksikan akan naik tajam pada putaran kedua, bisa jadi 
merupakan salah satu fenomena yang mencerminkan hal tersebut. Para calon 
pemimpin yang ada dianggap kurang merepresentasikan dan kurang memiliki 
kepekaan terhadap kebutuhan rakyat. Publik juga sudah bisa menilai apa saja 
yang terjadi pada saat proses penjaringan calon pemimpin yang lebih banyak 
didominasi elite politik partai daripada merupakan kehendak publik.

      Begitu jelas kenyataan yang menunjukkan partai politik nyaris sudah tidak 
memiliki "taring" dalam pergulatan proses demokrasi, namun elite politik masih 
memaksakan kehendak bahwa dirinya seolah paling tahu kebutuhan rakyat. Partai 
merasa bahwa apa yang dilakukannya merupakan suara hati rakyat. Mereka memilih 
calon pemimpin yang bisa "menyenangkan" partai dan tidak selalu harus mereka 
yang benar-benar berjuang untuk kepentingan rakyat. Ini menyesakkan dada sebab 
di antara calon yang ada pun tidak pernah tegas sikapnya terhadap para korban 
lumpur, misalnya.

      Umumnya partai mengklaim diri dilahirkan dan dibesarkan dari kekuatan 
wong cilik. Faktanya, sepanjang periode pascareformasi partai-partai justru 
ditinggalkan konstituennya dan sering dihujat karena justru menjadi biang 
persoalan bangsa. Kekuasaan yang dicita-citakan sering hanya diperuntukkan kaum 
elitenya dan rakyat selalu ditinggalkan.

      Baik partai lama dan baru, belum ada yang membuktikan diri mau berjuang 
sungguh-sungguh untuk kepentingan rakyat. Mereka yang berkuasa sering kali 
kehilangan arah ketika ia berkuasa. Mereka tak mampu menjalankan hal baik bagi 
perkembangan politik bangsa. Kini menjelang hajat pemilu digelar, mereka 
mencoba merangkul rakyat untuk mendukung upaya meraih kekuasaan.

      Rakyat, Komoditas Politik Partai

      Mereka menjadikan rakyat sebagai komoditas untuk "diperjualbelikan" dalam 
politik dagang sapi di tingkat elite. Rakyat tak pernah diperhatikan nasib dan 
masa depannya. Elite politik buta terhadap realitas sesungguhnya yang dialami 
rakyat.

      Berangkat dari fakta di lapangan bahwa sebagian besar masyarakat kita 
terbangun apatisme dan melihat bahwa ideologi yang dibangun partai politik 
hanya lipstik, bukan roh. Ideologi yang ada belum membawa idealisme untuk 
sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan bersama. Partai politik sering kali 
hanya menjual ideologi rakyat kecil, tetapi dalam kenyataannya rakyat kecil 
kerap kali dijadikan kendaraan semata.

      Kenyataan inilah sumber "malapetaka" ketidakpercayaan rakyat terhadap 
figur kepemimpinan yang diajukan partai. Citra partai terpuruk karena kegagalan 
partai mengoptimalkan fungsi-fungsinya secara konsisten dan konsekuen. Dominasi 
elite-elitenya yang cenderung manipulatif atas pendukungnya merupakan penyebab 
utama mengapa partai sulit mengubah kenyataan ini. Dampaknya adalah konflik 
internal partai yang menjadi bahaya laten setiap saat ketika terjadi proses 
perebutan kekuasaan.

      Apa yang kita lihat dari perjuangan partai untuk mengangkat derajat kaum 
kecil dan tertindas? Mereka seringkali tidak serius mengambil posisi tegas 
ketika harga gabah petani rendah; harga beras dan bahan pokok lainnya naik; 
nelayan tidak bisa melaut; angka pengangguran yang hampir mencapai 40 juta; 
ketika para tenaga kerja kita nasibnya terkatung-katung di negeri jiran; ketika 
rakyat menjerit karena penaikan harga BBM dan seterusnya. Tidak ada perubahan 
dalam diri partai, tidak ada sebuah habitus dan cara pandang baru.

      Kritik paling tajam, partai politik tak jarang hanya menjadikan dirinya 
seolah-olah sebagai media politik dagang sapi. Partai politik tak ubahnya 
sekadar alat perantara para pemilik kapital. Seolah tak berdaya menghadapi para 
mafia, mereka bungkam terhadap penderitaan rakyat.

      Kegagalan Politik Partai

      Partai politik sejauh ini belum memberikan makna dalam mengawal 
demokrasi. Demokrasi hanya dimaknai sebagai sekadar cara untuk membeli dukungan 
belaka. Dan demokrasi pun tak lagi memberikan harapan ketika partai politik dan 
elite politik terjebak pada permainan politik tingkat tinggi (high politics).

      Kegagalan partai politik menjalankan fungsi-fungsinya secara maksimal 
mengakibatkan citra partai politik yang semakin memburuk di era reformasi ini. 
Fungsi sosialisasi, rekrutmen, dan artikulasi politik tidak lebih menonjol jika 
dibandingkan dengan fungsi meraih kekuasaan.

      Ciri elitisme yang diperankan partai politik membuat apatisme rakyat 
terhadapnya semakin meningkat. Ketidakpercayaan itu semakin menguat dalam 
banyak hal, bahkan terhadap hal-hal baik yang dilakukannya. Antipati itu bukan 
tanpa sebab. Partai politik dinilai lebih banyak peduli kepada kepentingan 
kekuasaan daripada untuk memediasi kepentingan rakyat.

      Banyak hal yang membuat masyarakat menjadi gusar akan sepak terjang 
partai politik yang dalam hal ini sering sekadar menjadi pedagang perantara. 
Partai menjual diri sebagai alat legalitas kepentingan para pemilik uang. 
Partai politik terpenjarakan oleh kekuatan modal.

      Rakyat mulai menyadari strategi "politik atas nama". Dan mereka tak sadar 
bahwa "politik atas nama" yang selama ini dijadikan legalitas dukungan kini 
menjadi semakin kabur. Rakyat tidak mau lagi dijadikan sebagai stempel 
kekuasaan. Rakyat mulai sadar dan yakin bahwa elite politik tidak lagi memiliki 
mata hati terhadap kebutuhan mereka
     

<<bening.gif>>

Kirim email ke