14/10/08 05:55
Kepemimpinan Nasional Indonesia Harus Berdasar "Wahyu"
http://www.antara.co.id/arc/2008/10/14/kepemimpinan-nasional-indonesia-harus-berdasar-wahyu/
Jakarta (ANTARA News) - Sistem pemilihan pemimpin bangsa dan negara yang
berdasarkan demokrasi seperti saat ini dinilai tidak akan mampu mengatasi
persoalan yang dihadapi Indonesia, karena itu sistem tersebut harus
ditinggalkan dan beralih untuk mencari pemimpin yang memperoleh "wahyu" dari
Tuhan.
"Sistem pemerintahan tidak berdasarkan demokrasi, tidak berdasarkan apapun tapi
berdasarkan wahyu dari Tuhan," kata tokoh spiritual Haris Suhyar yang juga
pendiri Yayasan Sirnagalih di Jakarta, Senin malam.
Haris Suhyar mengatakan hal itu ketika menjadi pembicara tunggal dalam
sarasehan yang digelar secara rutin oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
setiap malam selasa kliwon atau malam anggoro kasih. Sirnagalih selama ini
dikenal aktif mengembangkan peningkatan kesadaran dan kualitas diri manusia.
Sarasehan itu mengupas soal "sangkan paraning dumadi" atau asal muasal dan
tujuan akhir manusia yang pada malam itu dibeberkan secara sederhana melalui
tayangan video.
Dalam tayangan tersebut digambarkan bahwa manusia berasal dari cahaya suci Sang
Hidup dan ketika ia kembali harus juga dalam kondisi suci. Namun langkah ini
ternyata begitu berat karena manusia terjebak dengan panca indranya dan
berbagai perbuatan yang semakin mengotori dirinya.
Berbagai kotoran itu kemudian menutup cahaya terang suci tersebut. Tugas
manusia sendiri dalam kehidupan ini adalah bagaimana membersihkan berbagai
kotoran tersebut sehingga hati nuraninya menjadi terang dan dapat menjadi
pengarah dalam semua gerak manusia.
Manusia yang telah mampu mencapai kesucian ini yang disebut telah mencapai
kepada tujuan akhirnya, dan manusia seperti itu yang layak menjadi pemimpin.
"Barang siapa yang telah mendapatkan wahyu ini berarti tahu keselamatan umat
manusia," kata Haris yang berbicara di hadapan sedikitnya 250 penganut
kepercayaan terhadap Tuhan dan kalangan umat beragama.
Dikatakannya jika ada rakyat yang sudah menemukan orang yang telah mencapai
tingkat keselamatan seperti itu maka wajib untuk mendukungnya. "Manusia seperti
itu telah dibimbing oleh rasa atau cahaya ilahi tadi, maka selamatlah manusia
dan selamat pula negara," katanya.
Namun apa yang terjadi dengan bangsa ini justru sebaliknya. Yang ada, katanya,
adalah pengingkaran terhadap ajaran leluhur seperti sangkan paraning dumadi.
"Kita harus kembali ke leluhur, gali.. Andalah yang harus menentukan keadaan
negara, andalah yang harus mendapatkan cahaya ini," katanya.
Haris Suhyar juga mengajak para peserta untuk bersama-sama mencari orang yang
telah mampu atau sampai ke tujuan seperti yang diuraikan dalam tayangan video
mengenai sangkan paraning dumadi.
"Mau tidak mau, kalau ingin selamatkan bangsa ini cari orang yang semacam ini,"
katanya.
Konsekuensi dari kegagalan mencari penerima wahyu tersebut, menurut dia adalah
tidak adanya ketenangan dan kedamaian.
Seperti yang terjadi saat ini, katanya, rakyat yang sakit memilih pemimpin yang
berasal dari rakyat yang sakit itu juga, dan hasilnya tentu bisa ditebak bahwa
pemimpin yang demikian tidak akan mampu membawa Indonesia kepada masa keemasan.
"Kita harus berdoa agar menemukan penyembuh yaitu mereka yahng telah
tercerahkan oleh cahaya ilahi. Inilah tonggak kita sekarang, ayo kita sama-sama
wujukkan ini. Siapa saja," katanya.(*)
COPYRIGHT © 2008