Kamis, 16 Oktober 2008 22:51 WIB
Properti Indonesia Kebal Dampak Krisis Global
Penulis : Silvia Wardani
http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MzcxNDg=
JAKARTA--MI: Pertumbuhan properti di Indonesia diperkirakan akan kebal terhadap
dampak krisis global. Namun pemerintah tetap diminta memerhatikan pertumbuhan
properti menengah ke bawah untuk menopang laju pertumbuhan ekonomi di atas 6%.
Menurut Direktur Pusat Studi Properti Indonesia Panangian Simanungkalit
properti saat ini menjadi satu-satunya yang dapat dijadikan penopang sektor
riil. "Sektor properti sulit, karena kalau sampai terpukul, naiknya kembali
susah," ujarnya di Jakarta, kAMIS (16/10).
Panangian menghitung, setidaknya dibutuhkan dana subsidi sebesar Rp10 triliun
untuk mempertahankan pertumbuhan rumah susun sederhana milik (rusunami) ataupun
RSH (rumah sederhana sehat) yang menjadi tonggak properti saat ini. "Angka ini
hanya 1% dari total subsidi dalam APBN, atau selisih subsidi akibat penurunan
subsidi BBM beberapa waktu lalu," jelasnya.
Bahkan berdasarkan penelitiannya, meningkatnya jumlah penjualan rumah baru
nasional dalam lima tahun terakhir bukan disebabkan membaiknya daya beli
masyarakat. "Itu justru karena adanya subsidi.".
Untuk kebutuhan itu, sedikitnya diperlukan Rp3 triliun untuk penyediaan 200
hektare lahan untuk pembangunan rusunami di Jakarta. Jika tiapa hektare dapat
didirikan 1.500 unit rusunami, total rusunami yang dapat dibangun mencapai 300
ribu unit.
Begitu juga pembangunan RSh di tiap provinsi Indonesia, dengan asumsi tiap
provinsi membutuhkan Rp100 miliar, alokasi subsidi yang dibutuhkan mencapai Rp3
triliun. Adapun sisanya, dibutuhkan untuk subsidi pemilikan rusunami dan RSh.
Berdasarkan data Pusat Studi Properti indonesia, penjualan rumah baru nasional
sampai Oktober 2008 telah mencapai 235 ribu unit, terus naik sejak 2002 sebesar
121 ribu unit. Sama halnya dengan penjualan RSh sebesar 153 ribu unit pada 2008
dibandingkan dengan tahun 2002 sebesar 74 ribu unit.
Sementara itu jumlah akumulasi kredit KPR (kredit pemilikan rumah) pada 2008
mencapai Rp121 triliun, naik lebih dari lima kali lipat dibandingkan dengan
tahun 2002 sebesar Rp21 triliun. (Slv/OL-03)
Arsip Berita : : :