Pemerintah Melakukan Devaluasi Terselubung Rp15000/dollar !!!
                                        
Sesungguhnya ekonomi Indonesia sama seperti dizaman Sukarno yaitu
Ekonomi Demokrasi Terpimpin.  Semuanya diatur oleh pemerintah
dibelakang layar sehingga segalanya menjadi abu2 menjadi tersamar,
menjadi tertutup.

Kenaikan harga dollar sama sekali tidak ada kaitannya dengan krisis di
Amerika terbukti semua mata uang dunia juga tetap stabil yaitu kadang
turun kadang naik yang akan keposisi yang sama.

Beda dengan di Indonesia, pemerintah bisa menarik/merampas/merampok
harta rakyatnya melalui devaluasi atau kenaikan dollar yang katanya
volatile.

Dibawah ini berita dari surat kabar waspada yang menjelaskan permainan
kotor Sri Mulyani dalam memperkaya para pejabat2 dilingkungannya tanpa
bisa dituduh korupsi.

http://www.waspada.co.id/ekonomi/rupiah-sengaja-digiring-ke-15.000.html

Seharusnya tidak ada alasan ataupun tidak ada hubungannya krisis di
Amerika dengan kenaikan dollar di Indonesia.  Kaitannya hanyalah
terletak ditangan pejabat2 pemerintah yang sengaja mengambil
kesempatan mengeruk keuntungan dengan alasan kenaikan harga dollar
yang memang sengaja dinaikkan dimana sebelnya mereka memborong banyak
dollar sewaktu harganya masih rendah.  Barulah setelah itu harga
dollar dinaikkannya dan sewaktu dollar sudah dipuncak tertinggi dollar
itu kembali dijual kepada pemerintah dan barulah kemudian dollar itu
turun lagi.

Krisis ekonomi di Amerika artinya pemerintah Amerika kekurangan
dollar, dan untuk memenuhi kebutuhan dollar ini dijual bond dan stock,
akibatnya, pengusaha menjual usahanya untuk beli bond dan stock karena
dengan menyimpan bond dan stock setahun saja akan bisa mendapatkan
keuntungan lebih dari 100% katimbang harus susah2 berusaha dikala
pasaran lagi sepi.

Dilain pihak, pejabat2 pemerintah kesemuanya adalah spekulan2 yang
paling curang karena mereka sudah tahu kapan akan dinaikannya harga
dollar dimana anak isteri dan cucu2nya disuruh memborongnya sementara
pemerintah sendiri melarang rakyat jelata untuk membeli dollar
menikmati keuntungan kilat seperti yang dinikmati para pemimpinnya.

Hal ini benar2 merugikan rakyat jelata, dan juga kepercayaan kepada
pemerintah benar2 makin tipis.

Ini penipuan terang2an, semua pejabat berusaha memperkaya diri dengan
kenaikan harga dollar untuk mempersiapkan pemilu tahun depan.

Ny. Muslim binti Muskitawati.







Kirim email ke