2009 Akan Menjadi Tahun Krisis
Selasa, 25 November 2008 | 19:00 WIB
http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/11/25/19003859/2009.akan.menjadi.tahun.krisis


JAKARTA, SELASA - Krisis ekonomi di tahun 1998 lalu, diyakini akan kembali 
terulang pada tahun 2009. Gejala-gejalanya sudah ada, akhir tahun akan banyak 
perusahaan yang menyatakan bangkrut serta nilai tukar rupiah terhadap dollar 
Amerika yang terus menurun. PHK tak bisa dihindari.

"Perlu diingat, Soeharto jatuh saat rupiah berada di level 16.000 ketika itu. 
Situasi sekarang memang makin mengkhawatirkan, sama seperti tahun 1998. 
Gejalanya sudah terasa, PHK sudah mulai dilakukan, pesana-pesanan dari luar 
negeri sudah berkurang dan tidak bisa mengandalkan pasar di dalam negeri," ujar 
Ketua Komite Fiskal Kadin, Bambang Susatyo dalam diskusi yang diadakan di DPR, 
Selasa (25/11).

Kadin, kata Bambang, berharap penuh kepada para pelaku politik yang ada saat 
ini untuk bisa bersama-sama mencari solusi agar negara bisa keluar dari krisis. 
Termasuk, mendorong kepada pemerintah terkait rencana menurunkan harga BBM 
secara signifikan. Rencana pemerintah yang akan menurunkan harga BBM dengan 
angka Rp 500 masih jauh dari harapan. Harusnya, yang moderat adalah untuk 
premium penurunannya sebesar Rp 1.500 dan untuk solar Rp 1.000. Ini harus 
dilakukan dalam upaya untuk menggerakkan daya beli masyarkat yang makin menurun 
sekarang ini," papar Bambang.

Ia tidak memungkiri bila pemerintah sudah melakukan penurunan terhadap suku 
bunga. Namun, yang diminta bagi kalangan dunia usaha sebetulnya penurunan bisa 
sampai 8,5 persen. "Turunnya harusnya secara signifikan. Karena apabila dunia 
usaha hancur, maka secara politik Pemilu 2009 nanti, tidak akan semarak seperti 
Pemillu 2004. Para pelaku politik harus sama-sama membangun APBN yang pro 
rakyat. Kalau ekonomi tak bagus, rakyat akan jadi pragmatis dan suara yang akan 
diberikan tidak akan realistis lagi," ungkapnya.

Hasto Kristianto, politikus dari PDI Perjuangan mengungkapkan, dalam proses 
APBN 2008-2009 menjadi penggelembungan ekonomi politik, seakan menjadi politik 
image saja. Pemerintah mengalami kesulitan bahkan sudah ada rencana untuk 
mempersiapkan revisi APBN yang sebelumnya belum dilakukan.

"APBN sebagai stimulus fiskal, secara politis gagal. Ini membuat pesimisme kami 
atas usaha-usaha yang dilakukan pemerintah dalam perbaikan masalah ekonomi. 
Tidak ada konsistensi kebijakan yang bisa diterapkan oleh pemerintah sekarang 
ini," ujar Hasto.

Ditinjau dari struktur anggaran, jelasnya, masih sangat bergantung pada ekonomi 
global, tidak ada keinginan pemerintah melakukan renegoisasi dalam upaya untuk 
bisa meningkatkan penyerapan tenaga kerja. "Kami mengusulkan defisit di 0 kan 
saja dulu. Jalan-jalan keluar negeri, tidak usah dulu. Pembangunan yang tidak 
penting, tak usah dilakukan. Dan kami mengusulkan agar BLT dihapus," kata Hasto.

"Jangan sampai, rakyat di saat kondisi ekonomi yang susah, malah diajarkan 
menjadi pengemis. Lebih baik dialokasikan untuk padat karya membangun 
usaha-usaha kecil untuk rakyat," tambah Hasto.

YAT 
Sumber : Persda Network



      

Kirim email ke