Bangka Pos

Prospek Budidaya Ikan Air Tawar

edisi: Sabtu, 13 Desember 2008 WIB 

Penulis: Oleh: Alpata Zulkarnain (Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Bangka)
Konsep wisata "Back to Nature" menjadi slogan dalam membangun wisata 
pemancingan yang saat ini semakin gencar dikembangkan di Babel. Ini sebuah 
pemikiran dan perencanaan yang tidak main-main dengan mengeluarkan modal 
ratusan juta rupiah.



Bila kita bandingkan Pulau Jawa atau Sumatera, Provinsi Kepulauan Bangka 
Belitung tidak ada apa-apanya dalam hal proses pengembangan potensi Aquaculture 
(Budidaya Ikan Air Tawar). 

Barometer Aquaculture tidak hanya berkolerasi dengan kebijakan yang berkaitan 
dengan tekstur tanah yang baik, lokasi yang strategis, sumber air yang ada, 
sumber daya manusia yang handal, maupun teknis pemilihan indukan jantan dan 
betina yang berkualitas. Tetapi juga permasalahan-permasalahan yang dihadapi 
pembudidaya ikan air tawar seperti pangsa pasar ataupun marketnya. 

Masih menjadi pertanyaan besar, apakah pasar lokal di Bangka Belitung sudah 
siap menampung hasil panen mereka. Apakah lidah orang Babel ini bisa 
membiasakan diri mereka menikmati gurihnya daging ikan air tawar bila kita 
bandingkan dengan ikan laut yang identik dengan menu hidangan dapur masyarakat 
pulau timah ini? Ini pertanyaan yang semestinya harus dipecahkan oleh kita 
bersama. Dan pemerintah hendaknya mencari solusi yang terbaik supaya petani 
tidak kelimpungan untuk memasarkan ketika musim panen tiba. Bayangkan saja jika 
di lahan yang luasnya 2 hektar dimana dibangun 40 kolam dengan ukuran 10 x 20m 
akan menghasilkan berton-ton ikan air tawar baik dari varietas nila gift, lele 
dumbo, ikan mas, gurame, ataupun jenis betutu. 


Pasar Lokal Ikan Air Tawar 


Di sela-sela diskusi temu lapang di Desa Air Mesu Kabupaten Bangka Tengah 
(17/11) lalu, dalam bahasan "Pengembangan Potensi Aquaculture" yang dihadiri 
oleh utusan Dinas Kelautan dan Perikanan Bangka Tengah, Staf BBIS Pemali, Wakil 
dari OPRO Kabupaten Bateng, serta petani anggota unit pembenihan rakyat (UPR) 
Air Mesu. Ada perbincangan intens yang disampaikan oleh petani dari Desa Air 
Mesu tentang program berkesinambungan OKP Bateng untuk pembangunan kolam 
budidaya ikan air tawar seluas 20 hektar yang terbagi diseluruh wilayah di 
Bangka Tengah. 

Ini satu gebrakan dari pihak pemerintah daerah dalam program pengembangan dan 
pengelolaan sekaligus sosialisasi kepada masyarakat di bumi sejiran setason. 
Wacana pembicaraan semakin responsif ketika wakil legislatif menyatakan ketika 
40 kolam tadi memasuki masa panen ikan kemudian hasilnya over load bagaimana 
masalah pemasarannya, apakah di Pulau Bangka sudah ada pasar yang menampung 
ikan air tawar. Harapan dan motivasi besar dari petani setidak-tidaknya 
mendapat follow up dari pihak pemerintah jangan sampai memjadi proyek mubazir. 

Sumirjan pembudidaya sukses ikan lele dumbo mengusulkan agar Pemerintah Daerah 
Kabupaten Bangka Tengah berfikir solutif, kreatif mencari jalan keluarnya 
dengan cara menciptakan pasar lokal khusus ikan air tawar kemudian menjadikan 
Bangka Tengah sebagai sentral Aquaculture. 


Wacana Minapolitan 


Dampak krisis ekonomi yang melanda dunia membuka secercah harapan bagi 
masyarakat Babel untuk beralih profesi dari pelimbang, petani karet/sawit ke 
pembudidaya ikan. Peluang ini membuka harapan bagi dunia perikanan air tawar 
yang masih setengah hati dilirik oleh masyarakat di negeri ini.  Provinsi 
Kepulauan Bangka Belitung yang terkenal sebagai penghasil komoditas Muntok 
White Pepper ternyata menyimpan banyak cadangan hasil alam yang belum kelihatan 
geliat olahannya. Cadangan hasil bumi ini perlu mendapat sentuhan tangan agar 
tergarap secara maksimal. Konsep Minapolitan sebuah gagasan yang spektakuler 
yang dicanangkan oleh DKP Provinsi Babel. Desa Air Mesu salah satu desa yang 
siap berkompetisi secara sehat untuk mendapatkan gelar minapolitan itu. Dengan 
motivasi yang tinggi dari masyarakatnya, pertimbangan lokasi, bukan tidak 
mungkin desa itu salah satu kandidat untuk minapolitan di Negeri Serumpun 
Sebalai. 


Peluang Pariwisata 


Era kebangkitan budidaya ikan air tawar di Babel dimulai sekitar tahun 2003, 
ditandai dengan peresmian Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Pemali 22 oktober 
2003 oleh mantan Gubernur Babel H.A Hudarni Rani, SH. Sekalipun BBIS berjalan 
tertatih-tatih tanpa perda yang jelas, SDM yang masih minim pengalaman dan 
entah persoalan apalagi tetapi tidak menyurutkan semangat juang untuk tetap 
melanjutkan mengibarkan bendera perikanan Babel demi mewujudkan arus 
transformasi di sektor perikanan air tawar. Geliat pertumbuhan budidaya ikan 
air tawar cukup signifikan memasuki awal tahun 2008. Pembudidaya ikan air tawar 
mulai bermunculan tersebar di berbagai daerah, dari sistem coba-coba 
mengandalkan kolong TI kemudian ke sektor sampingan karena masih kalah bersaing 
dengan bidang pertambangan dan perkebunan.  Peluang ini tidak disia-siakan oleh 
pengusaha lokal dalam berinvestasi budidaya ikan tawar. 

Konsep wisata "Back to Nature" menjadi slogan dalam membangun wisata 
pemancingan yang saat ini semakin gencar dikembangkan di Babel. Ini sebuah 
pemikiran dan perencanaan yang tidak main-main dengan mengeluarkan modal 
ratusan juta rupiah.

Kita dapat melihat sepanjang jalan raya Sungailiat-Pangkalpinang, terutama 
rencana bakal dibukanya kolam pemancingan sebelum Rumah Sakit Yunan Maulana, 
kemudian di Desa Riding Panjang Kecamatan Merawang saat ini wisata kolam 
pemancingan dikolaborasikan dengan rumah makan ala sunda sudah berjalan dan 
masih dalam proses penyelesaian. Kalau kita berkunjung ke Bumi Sejiran Setason 
tepatnya di desa Jelutung Kecamatan Pangkalan Baru, mata kita akan tertuju pada 
kolam budidaya ikan air tawar disamping kiri dan kanan jalan raya, yang 
dikelola kelompok UPR desa Jelutung atas binaan DKP Bangka Tengah. 

Disini Petani lebih jeli melihat potensi, selain memanfaatkan lahan yang luas 
sebagai kolam, mereka juga mempunyai rencana untuk mengembangkan agrowisata 
dengan telah menanami pohon jeruk manis, kemudian rencana penanaman pohon jambu 
air, durian, duku, kedondong, pepaya, dan mangga untuk memanjakan pengunjung 
yang ingin mancing sambil berwisata ke kebun mereka. Inilah bukti bahwa 
budidaya ikan air tawar mulai menebar pesona bagi masyarakat Babel. Semoga 
sektor budidaya ikan air tawar akan maju terus pantang mundur untuk menciptakan 
mata pencaharian dan tentunya peluang kerja untuk masyarakat di Negeri Serumpun 
Sebalai ini.

Kirim email ke