Nama Tidak Sama Maka Barang/Orang-nya Juga Tidak Mungkin Sama
                      
Sistem penamaan tujuannya jelas untuk membedakan, jadi janganlah nama
yang tidak sama dianggap barang/orang/objeknya adalah sama.  Seperti
menyamahak Tuhan dengan Allah, jelas enggak sama karena dalam kita
suci Quran dan Hadist-nya sendiri dengan jelas dikatakan "tidak ada
Tuhan" dan Allah bukan Tuhan.  Bahkan Islam melarang umatnya menyembah
Tuhan dan hanya Allah yang boleh disembah bukan Tuhan.

Dalam Quran, Allah itu adalah pencipta yang maha kuasa bukan Tuhan,
tetapi dalam agama lainnya dikatakan bahwa Tuhanlah sang pencipta yang
maha kuasa dan mereka tidak menyembah Allah dan juga tidak menyamakan
atau menganggap bahwa Tuhan sebagai sama dengan Allah.

Janganlah mentang2 dalam Islam dikatakan Allah itu pencipta yang maha
kuasa, den kemudian dalam agama lain dikatakan bahwa Tuhan itu
pencipta yang maha kuasa, kemudian disimpulkan bahwa Allah itu sama
dengan Tuhan.......  itu cara kesimpulan yang salah, itu bukanlah cara
kerja otak yang berlogika, itu kerjaan dari tukang dakwah yang biasa
berbohong untuk berjualan racun agamanya.

Marilah kita membuktikannya, baru2 ini PKB menyatakan bawa ketua PKB
adalah Muhaimin.  Tidak lama kemudian PKB mengumumkan bahwa ketua PKB
adalah Gus Dur.  Jangan mentang2 Muhaimin ketua PKB dan Gus Dur juga
ketua PKB kemudian disimpulkan bahwa Muhaimin itu sama orangnya dengan
Gus Dur, janganlah disimpulkan bahwa nama lain dari Muhaimin adalah
Gus Dur.  Disini jelas, namanya lain orangnya juga lain meskipun
jabatannya sama yaitu sama2 ketua PKB tak peduli seharusnya ketua PKB
itu cuma satu, ternyata mereka adalah dua orang yang berebutan kekuasaan.

Dan tidak berbeda dengan kasus Allah dan Tuhan, keduanya sama2
dianggap sebagai sang pencipta yang maha kuasa, namun bukan berarti
keduanya adalah satu figur yang sama karena jabatannya sama. 
Kesimpulannya sama dengan kasus Gus Dur dan Muhaimin, yaitu rebutan
kursi, rebutan jabatan, rebutan kekuasaan, rebutan untuk disembah. 
Artinya Allah dan Tuhan itu rebutan umat.  Tapi dalam hal ini karena
baik Allah ataupun Tuhan itu bukanlah realitas yang sebenarnya, maka
yang rebutan itu sebenarnya bukanlah keduanya melainkan hanyalah
mereka yang percaya karena baik Tuhan dan Allah adalah keberadaan yang
fiktif meskipun korban2 yang berjatuhan akibat rebutan ini bukanlah
bencana yang fiktif.


> abdulrahmanriza <abdulrahmanr...@...> wrote:
> Pak Eka,
> Islam mengakui Nabi2 dari keturunan Ishaq AS
> dan mereka bukan berbahasa Arab tentu menyebut
> Tuhan Semesta Alam dengan bahasa masing-masing.
> Tuhannya Musa AS dengan Tuhannya Yahya AS
> adalah sama mungkin dengan penyebutan bahasa
> lokal masing2.
> 


Bahasa boleh2 saja berbeda, tetapi nama seseorang dimanapun dan bahasa
apapun dan lokal dimanapun tetap sama.

Contohnya saja, presiden Amerika itu namanya George Bush, ternyata di
Indonesia yang bahasanya lain tetap namanya sama yaitu George Bush.

Juga dalam Islam, yang disembah itu bukanlah Tuhan tetapi Allah, dan
Islam di Amerika juga sama namanya yaitu Allah.  Di Afrika, meskipun
bahasanya beda dan Qurannya beda tapi nama yang disembahnya sama yaitu
Allah.

Enggak berbeda dengan Islam Ahmadiah, biarpun Islamnya tidak diakui,
tetapi memberi nama yang disembahnya juga sama yaitu Allah.

Kesimpulannya sudah jelas bukan????  Kalo namanya tidak sama maka
barangnya juga beda, meskipun lokalnya bereda tapi tetap namanya sama.
 Dan kalo tidak sama namanya atau penyebutannya maka janganlah sekali2
dianggap sama atau seenaknya saja menyamakannya.

Jadi jangan samakan sang Hyang yang disembah dalam Hindu dianggap sama
dengan Allah, jelas segalanya beda bahkan dalam Hindu tidak dikenal
nama Allah dan juga tidak pernah menyembah Allah dan itulah sebabnya
Hindu halal dimusnahkan karena dianggap musuh Islam karena memusuhi
Islam.  Dengan tidak mengganti nama sang Hyang menjadi Allah maka
agama Hindu dianggap memusuhi Islam dan mereka yang memusuhi Islam
dihalalkan dibunuh karena bukan Islam yang duluan memusuhi tapi Hindu
yang memusuhi duluan karena sejak mulanya tetap menolak mengganti
sebutan sang Hyang menjadi Allah.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke