Riau Pos
Masjid Tanpa Data Jamaah?
Jumat, 26 Desember 2008
(Refleksi Tahun Baru Islam 1 Muharram 1430 H)
Oleh: H Ibrahim Muhammad
Beda dengan pembangunan ruko, yang masih fondasi sudah di-booking beli
atau sewa oleh seseorang, pembangunan masjid tak demikian halnya. Pembangunan
masjid juga beda dengan pembangunan hotel, mall maupun rumah sakit dan
supermarket.
Oleh karena setelah hotel, mall, rumahsakit, supermarket rampung dibangun
maka orang berduyun-duyun mendatanginya. Sedangkan masjid? Ambisi umat buat
membangun sebobot masjid memang sungguh menggebu-gebu belakangan waktu ini,
termasuk ambisi kalangan pemerintah daerah.
Motivasi pembangunan masjid dipicu sikap kompetitif. Jika dicermati,
banyak masjid yang tidak memiliki ruang parkir, tidak mengakomodasi sarana
pembuangan limbah, kurang mempertimbangkan lingkungn pemukiman, tidak memiliki
toilet dan sanitasi yang layak dan hygenis, tidak menampilkan ruang wudhuk yang
standar dan sebagainya. Malah, nafsu kompetitif membangun masjid kini cenderung
ditargetkan spektakuler dengan merancang Masjid bertingkat. Meski ironinya,
hampir semua lantai tingkat masjid relatif tak kunjung terisi dan nyaris
sebagai gengsi-gengsian belaka.
Memakmurkan Masjid
Sejumlah kalangan kini semakin intens mempertanyakan substansial dari
kata "Memakmurkan" yang difrmankan Allah SWT dua kali dalam Surat At-Taubah,
masing-masing pada ayat 17 dan 18 yakni "Tidak patut bagi orang musyrik
memakmurkan Masjid Allah.... (ayat 17)" Hanya saja orang yang memakmurkan
Masjid Allah itu mereka yang beriman kepada Allah, Hari Kiamat serta menegakkan
Salat, membayar Zakat sedangkan mereka tak menaruh rasa takut selain kepada
Allah.... (ayat 18). Apakah memakmurkan itu berarti membangun sosok masjid yang
megah, gagah, elegan dengan desain mutakhir, atau lebih cenderung berarti
memberi ruh dengan memantapkan basis jamaah?
Pengertian jamaah bisa berarti pengurus masjid meregistrasi jamaah
sekitar lingkungan, dan bisa pula berarti meregistrasi seberapa persentase
komunitas jamaah dari luar lingkungan. Hal ini perlu dilakukan, terutama
mengingat hadits Rasulullah SAW bahwa Rasulullah pernah menanyakan para sahabat
saking diperhatikannya jamaah oleh Rasul, kemana gerangan salah seorang di
antara mereka yang absen berjamaah salat saat itu. Sekarang, hal semacam
demikian justeru terabaikan. Tak ada yang peduli, apakah seseorang itu datang
ke masjid untuk salat berjamaah atau tidak!
Tidak Memiliki Data Evaluasi
Lebih dari itu, dari hasil survai yang dilakukan ternyata sama sekali
tidak ada masjid yang mencantumkan data akurat tentang grafik jamaah. Seperti
berapa orang jamaah Salat Subuh, Zhuhur, Asar, Magrib, Isya hari ini, besok dan
seterusnya. Tidak ada data tersebut sedikitpun! Padahal, setiap masjid bahkan
mempublikasikan besar-besar data donatur, data hewan qurban, data penceramah
Ramadan, neraca keuangan serta data pembangunan lainnya. Semua berorientasi
fisik dan bukan ruh masjid. Ironinya, dua masjid percontohan dunia yakni
Masjidil Haram serta Masjid Nabawi malah tak memiliki data-data fisik seperti
itu!
Ada pendapat yang menyatakan pengurus masjid, masjid merasa malu membuat
data jamaah lantaran angkanya sangat minim sekali. Misalnya, sebuah masjid yang
berkapasitas daya tampung 1.000 orang ternyata jamaah Salat Subuhnya cuma
berjumlah 15 orang, Salat Asar dan Zhuhur 20 orang. Nah, alasan malu tentu tak
relevan dikemukakan. Sebab, dengan pemaparan data-data demikian itu pada white
board, dapat memberi sentuhan sensitif bagi Ketua RT/RW serta Ketua Pemuda dan
Ketua PKK setempat, maupun jamaah Salat Jumat yang lazimnya bisa mencapai
ratusan orang urun-rembung dan musyawarah mungkin bisa digelar sebagai langkah
evaluasi dan mencari solusi.
Polarisasi SWOT
Jika setiap institusi dan perusahaan selalu mempolarisasikan parameter
SWOT bagi mencapai kemajuan perkembangan, seyogyianya masjid juga memulai
menerapkan SWOT (Strengh, Weakness, Opportunity, Threat) dimaksud. Kaji ulang
kembali Strengh (Potensi) apakah memang telah dimanfaatkan maksimal. Sebagai
simbol keislaman, masjid mengakomodasikan kekuatan syiar amar ma'ruf nahi
mungkar apabila Satpol PP sibuk merazia PKL, masjid harus mampu memberi solusi
bagi jamaahnya yang PKL dan miskin.
Weakness (Kelemahan) tentu saja menyangkut introspeksi yang jernih.
Apakah titik lemah masjid pada penataan manajemen, pada pengurus, pada sikap
kepemimpinan iman masjid dan sebagainya. Sedangkan Opportunity (Peluang) jelas
menghendaki pemikiran-pemikiran yang jenius, brilian serta berwawasan luas dari
komunitas jamaah masjid itu sendiri. Perlu ditumbuhkan sikap inovatif, kreatif
serta motivasi ide cemerlang yang transparan. Anehnya pada konteks ini,
lazimnya pengurus masjid yang bertemperamen konservatif justeru tak ingin
membuka ruang dialog yang rutin dengan jamaah.
Adapun Threat (Ancaman) terang saja mensterilkan masjid dari berbagai
persoalan non-ukhrawi. Seperti berbisnis membicarakan negosiasi proyek,
berdikusi tentang dunia olahraga dan sebagainya, hal itu jangan sampai
dilakukan di masjid. Konon pula untuk kampanye politik! Sebab, masjid adalah
Rumah Allah SWT yang semata-mata cuma sebagai sarana salat berjamaah, dakwah,
berzikir, bermunajat, mentilawah Alquran serta beri'tikaf merenungkan dosa-dosa
masa silam yang menggunung tak terperikan!***
H Ibrahim Muhammad, peminat masalah keagamaan.