Meskipun PilGub Diulang: Kofifah Tetap Kalah
Inilah contoh umat Islam, dikiranya masyarakat akan berpihak kepadanya
kalo rajin shalat dan beriman tinggi. Ternyata masyarakat juga enggak
bodoh2 banget, mereka tahu kalo kepercayaan mereka sedang dimanipulasi
agar memilih mereka yang dianggap sama keimanannya. Kenyataannya
Kofifah ini kalah. Namun dia tetap ngotot bahwa dia dicurangi, ada
kecurangan perhitungan suara. Seharusnya tidak ada aturan untuk
melakukan pengulangan PilGub ini, namun memang panitianya banyak dari
kalangan Islamnya sehingga meskipun jelas2 Kofifah ini kalah tetap
saja mereka mengharuskan PilGub-nya diulangi.
Pihak Golkar yang tadinya dituduh curang akhirnya tak bisa berkutik
karena keputusan dari MK berpihak kepada Kofifah. Setelah PilGub
diulangi ternyata tetap saja Kofifah kalah suara bahkan suara yang
dikumpulkannya jadi lebih sedikit dibandingkan putaran PilGub pertama.
Rupanya masyarakat juga enggak simpati kepada manusia2 yang cuma
pandai memanipulasi nama agama untuk mendapatkan posisi yang membuka
dirinya peluang untuk bisa korupsi.
Disini kita kembali melihat contoh, bagaimana agama Islam sebenarnya
bukan mayoritas ditanah pertiwi, padahal Madura ini adalah wilayah NU
benteng Kofifah sendiri. Jadi Kofifah ini kalah dikandangnya sendiri.
Jangan karena banyak yang menjunjung Quran langsung disimpulkan
masyarakat Indonesia itu mayoritasnya Islam. Padahal kebanyakan
masyarakat Indonesia sebetulnya tidak suka kepada Islam meskipun
kenyataannya mereka beragama Islam. Namun mereka rata2 tidak berani
mengkritik menyatakan ketidak sukaannya kepada Islam karena tahu
betapa kejinya ajaran Islam itu sendiri. Itulah sebabnya, sewaktu
kampanye pemilu semuanya se-olah2 mau memilih partai Islam tertentu,
namun setelah tiba waktunya menyoblos, mereka tidak ada yang menyoblos
partai2 Islam, mereka lebih suka menyoblos partai2 sekuler.
Sekarang terjadi tragedy, para ulama sudah menyadari sepenuhnya bahwa
Islam tidak bisa berkuasa ditanah nusantara ini, maka mereka dengan
berbagai muslihat berganti kulit, yaitu membangun partai2 yang
kelihatannya berlabel sekuler namun isinya semuanya Islam. Tujuannya
agar masyarakat mengira mereka adalah partai sekuler sehingga mau
memilih partai mereka. Disinilah letak tragedy baru, akibat penipuan
semacam ini akhirnya banyak ulama2 mendapatkan kursi di legislativ
mewakili Islam padahal pemilihnya itu justru bertujuan memilih mereka
yang sekuler. Jadi jangan heran sekarang isi Legislative itu semuanya
Islam meskipun cuma benderanya saja sekuler.
Semoga kejadian Kofifah ini bisa berulang lagi di-daerah2 lain dimana
partai2 Islam dirontokin melalui pemilu yang demokratis.
Ny. Muslim binti Muskitawati.