> "Sunny" <am...@...> wrote: > Refleksi: Mana bisa penakut dapat pangkat > jenderal, tetapi berakal bulus mungkin saja > dan oleh karena itu harta haram Soeharto > tidak digubris. >
Sebenarnya bukan urusan takut atau berani, melainkan SBY itu orang Jawa yang karakternya dibentuk penuh oleh budaya Jawa yang percaya bahwa kepada orang yang sudah mengangkat diri kita tidak boleh kita balas dengan khianat atau susu dibalas air tuba karna hal itu akan ada pembalasan karmanya sendiri. Oleh karena itu, dizaman Suharto, agar dia jangan di Kudeta, maka kepada setiap taruna akabri ditanamkan jiwa persaudaraan dimana nantinya apabila mereka menghadapi masalah yang mengharuskan konflik satu sama lain agar tidak dilakukan dengan kekerasan melainkan dengan musyawarah. Untuk menjalin persauaraan inilah, setiap taruna akabri yang sedang dalam perjalanan bila butuh biaya atau uang bisa langsung kekantor gubernuran dan minta uang tanpa usah ragu2. Dan sang Gubernur dulunya selalu harus militer dan dengan demikian tahu aturan seperti ini sehingga bila ada taruna yang berkunjung ke Gubernuran langsung saja sang gubernurnya yang menyambutnya sendiri dan menanyakan "perlu berapa dik.....!" Masalah seperti ini juga sebenarnya ditanamkan dari mulai kekuasaan Bung Karno. Dengan cara2 seperti inilah tidak memungkinkan terjadinya kudeta. Itulah sebabnya saya yakin bahwa Suharto tidak pernah mengkudeta Sukarno dan semua kejadian G30S murni bukan urusan atau kerjaan orang2 dalam negeri melainkan kerjaan dari luar sana. Sebagaimana kita sama2 tahu, bahwa tidak akan ada seorang bisa menjadi panglima tanpa melalui pendidikan di Westpoint. Itulah sebabnya, Omar Dhani dan Ahmad Yani, keduanya adalah lulusan Westpoint ini. Sewaktu mengikuti pendidikan Westpoint inilah Ahmad Yani ditanyakan apakah berani mengambil alih kekuasaan Sukarno. Ahmad Yani menjawab "berani", demikianlah CIA kemudian mempercayakan penggulingan Sukarno ini kepada Ahmad Yani. Namun setelah kembali ke Jakarta, Sukarno tanya2 dan Ahmad Yani tidak ragu2 cerita kalo dia disuruh menggulingkan Bapak. Mulanya, Ahmad Yani mengira Bung Karno akan kaget..... enggak tahunya malah Sukarno tertawa ter-bahak2. Dia bilang, lho.... kalo kamu mau kudeta saya, janganlah diceritain kepada saya !!! Ahmad Yani juga tertawa. Kemudian Sukarno membicarakan serius dengan Ahmad Yani, dia bilang, kalo memang mau jatuhkan saya, silahkan saja, saya enggak melawan, memang saya juga tahu CIA sudah beberapa kali menyuruh saya turun. Bung Karno kemudian bilang, kalo memang siap menggantikan saya, silahkan saja dan saya pasrah. Bung Karno juga bilang kalo dia memang tak mungkin bisa bertahan kalo tentara itu bergerak. Saat inilah Ahmad Yani berpikir, apabila dia mengambil alih ter-buru2 bukan tidak mungkin terjadi pertumpahan darah. Akhirnya, Ahmad Yani mundur2, hatinya juga lemah sehingga tak tahu kapan waktunya untuk bergerak. CIA merasa ditipu, dana sudah diberikan kepada Ahmad Yani melalui pembelian beberapa buah pesawat. Namun semua berjalan biasa saja. Namun kepada Omar Dhani sewaktu di Westpoint juga ditanyakan hal yang sama, apakah dia berani menggulingkan presiden Sukarno ??? Omar Dhani malah tidak mau menjawab, dia cuma senyum2 saja. Tetapi setelah pulang kerumah, dia ceritakan kepada isterinya kalo dia ditugaskan menggulingkan Sukarno. Tapi aku ora jawab gitulah kata Omar Dhani, masalahnya Bung Karno khan yang kirim aku ke Westpoint, masa aku disuruh gulingkan Bung Karno, aku pikir jangan2 ini cuma pancingan aja sehingga aku ora jawab. Naaah..... setelah terjadi G30S kira sama2 tahu, Ahmad Yani dianggap menipu dana yang diberikan CIA. Sedangkan Omar Dhani dianggap tidak punya pendirian dan pengecut enggak cocok jadi jendral. nasib keduanya khan beda. Sedangkan Suharto, memang ada perasaan enggan dan juga hormat kepada Bung Karno, namun setelah matinya jenderal2 tsb yang dia tahu siapa yang kerjain, maka Suharto cuma numpang lewat, artinya dia berani mengambil alih posisi Sukarno karena dia tahu Sukarno sudah tak ada harapan, daripada diambil orang lain kenapa bukan dia sendiri yang ambil. Demikianlah akhirnya Sukarno masuk ke RSGS dan tidak pernah keluar lagi, dia tahu permainan dunia militer enggak boleh ragu2 dan langsung saja dia suruh cabut infus Bung Karno setelah disuntikkan Insulin dosis tinggi sehingga Bung Besar kita mati dengan tenang. Naaah..... dari kenyataan2 seperti begini inilah anda boleh menilai bagaimana posisi perasaan SBY terhadap pak Harto. Artinya kalo dalam posisi harus konfrontasi, kemungkinan besar SBY sendiri mungkin tidak ragu2 untuk menembak Suharto, tapi posisinya bukan seperti itu melainkan posisi konflik sebatas uang korupsi yang tidak ada artinya kalo dibandingkan dengan kekuasaan. Kenapa aku harus menekan lagi kepada pak harto yang sudah menanamkan budi kepada diriku. Dia khan sudah tak berdaya, kenapa harus aku jepit lagi cuma membuat dan menambah musuh dibawa selimut yang aku tidak tahu. Apalah artinya menggorok leher Suharto yang sudah sekarat ini cuma menambah musuh didalam selimut yang tidak kelihatan. Bukankah lebih baik pura2 baik kepada pak Harto sembari pasang mata cari2 kemungkinan ada musuh didalam selimut ??? Dari kejadian2 diatas ini kita bisa belajar, yaitu kalo lawan sudah ditangan kita dan tidak mungkin bisa lari atau lepas dan tinggal tunggu matinya, maka kita tak perlu memancing kebencian pengikutnya, lebih baik pura2 juga jadi pengikutnya sambil tengok kiri kanan untuk mengenal siapa2 yang benar2 pengikutnya yang bisa membahayakan posisi kita nantinya, mereka2 inilah yang kita singkirkan pelan2. Demikianlah inti dari falsafah feodal Jawi,"Menang tapa menyoraki". Ny. Muslim binti Muskitawati. > http://www.suaramerdeka.com/beta1/news/print.php?id_news=20267 > > SUARA MERDEKA CYBERNEWS > > 28/12/2008 15:40 wib - Nasional Aktual > > > Gus Dur Nilai SBY Penakut > > > Jakarta, CyberNews. Mantan Presiden Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemimpin bangsa yang penakut. Hal tersebut disampaikannya dalam Orasi Catatan Akhir Tahun 2008, Minggu (28/12) di Hotel Santika Jakarta. > > "Lihat saja, untuk menangkap koruptor, dia cuma menyuruh KPK. Presiden SBY tidak berani terang-terangan," ujar Gus Dur. Turut hadir dalam acara orasi tersebut adalah Romo Magnis Suseno, mantan juru bicara era pemerintahan Gus Dur Wimar Witoelar, pakar komunikasi politik Effendi Gazali, dan pengamat politik Bondan Gunawan. > > Selain itu, Gus Dur menilai saat ini arah dan tujuan bangsa Indonesia masih belum jelas. Pemerintah ingin rakyat hidup makmur, tetapi menurutnya tidak mungkin terjadi jika sistem ekonomi Indonesia masih seperti saat ini. > > "Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin," ujarnya. >
