http://www.antara.co.id/arc/2009/1/1/makin-gemuk-makin-sedikit-sperma/

01/01/09 10:25

Makin Gemuk, Makin Sedikit Sperma


Beijing, (ANTARA News) - Pria yang kegemukan ternyata punya kemungkinan tiga 
kali lebih besar memiliki lebih sedikit sperma dibandingkan dengan pria dengan 
berat tubuh normal. Hal itu disimpulkan dari studi yang disiarkan di jurnal 
Fertility and Sterility dan dikutip Xinhua.

"Pria dengan bobot berat menghadapi resiko tiga kali lipat memiliki sedikit 
sperma motil progresif," ungkap temuan studi Dr. Ahmad O. Hammoud dari 
University of Utah, Salt Lake City, dan rekannya.

"Ada hubungan kuat antara kelebihan berat badan serta kegemukan dan perubahan 
parameter sperma," kata Hammoud dan timnya.

Kegemukan mungkin merusak kesuburan pada pria, kata para peneliti tersebut, 
sementara peningkatan lemak tubuh dapat memberi sumbangan pada tingkat 
tertosterone yang lebih rendah dan tingkat estrogen yang lebih tinggi.

Untuk mengkaji bagaimana indeks massa tubuh (BMI) mempengaruhi kualitas sperma, 
mereka mengevaluasi 390 pria yang berusaha menjalani perawatan kesuburan dengan 
pasangan mereka selama kurun waktu dua tahun.

Sebanyak 24 persen pria memiliki berat normal, sedangkan 43 persen memiliki 
kelebihan berat badan, dan 33 persen kegemukan. Secara keseluruhan, 10.5 persen 
memiliki sedikit jumlah sperma.

Prevalensi jumlah sperma yang rendah muncul saat BMI meningkat; pria kegemukan 
3,3 kali lebih mungkin untuk memiliki sedikit jumlah sperma dibandingkan dengan 
pria dengan berat normal.

Risiko memiliki sedikit jumlah sperma mobil progresif juga naik sejalan dengan 
BMI; pria yang sangat gemuk 3,4 kali lebih mungkin dibandingkan dengan pria 
bertubuh normal untuk memiliki sedikit jumlah sperma mobil progresif.

Pria yang bertubuh sangat gemuk juga 1,6 kali lipat lebih mungkin memiliki 
sperma berbentuk tidak normal jika dibandingkan dengan pria yang kelebihan 
berat badan atau berat normal.

Kenyataan itu membuat lebih mungkin bahwa kelompok studi tersebut memiliki 
kualitas sperma yang lebih buruk dibandingkan pria pada umumnya, kata Hammoud 
dan rekannya.(*)

Kirim email ke