Jawa Pos

 

[ Jum'at, 02 Januari 2009 ] 

Raja tanpa Kuasa di Indonesia 

Di Indonesia, hingga kini tercatat sedikitnya ada 150 kerajaan. Meski ada, 
sebagian besar rajanya tak lagi punya kekuasaan. Inilah beberapa di antara 
mereka. 

------------

Salah satu dari raja tersebut adalah Sultan Palembang Darussalam, Sultan 
Iskandar Mahmud Badaruddin. Berkunjung ke istananya di Griya Keraton, Jl 
Terpedo Palembang, dan bertemu dengan dia, jauh dari kesan formal. Raja berusia 
42 tahun itu hidupnya terkesan bebas, tanpa aturan keraton yang kaku. 

Para tamu leluasa keluar masuk istananya. Di sana tak ada pengawalan khusus 
atau tentara keraton yang berjaga-jaga. Tamu yang datang bisa langsung duduk di 
ruang tamu griya yang luasnya mencapai 1.200 meter persegi itu. Masuk pintu 
utama, mata akan tertuju ke singgasana Sultan yang disampingnya terdapat foto 
Sultan dengan pakaian kebesaran khas Palembang. 

Sehari-hari Sultan seperti rakyat biasa. Pakai kaus oblong dan rambut 
panjangnya dibiarkan tergerai sebahu. Plus jenggot tipis menghiasi wajahnya. 
"Ayo, silakan masuk. Wah, griya lagi berantakan. Ada beberapa bagian yang 
sedang direnovasi," kata Sultan yang lahir di Palembang, 23 Februari 1966, 
ketika ditemui Sumatera Ekspres (Jawa Pos Group) di istananya. 

Dalam daftar penguasa di Kesultanan Palembang, Iskandar masuk dalam urutan 
ke-22. Anak keempat dari lima bersaudara pasangan RH M. Harun dan Hj Nyayu 
Rogayah itu mengaku sebagai keturunan dari tiga sultan yang pernah berkuasa di 
Palembang. Tiga sultan itu adalah Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminim 
Sayyidul Imam, Sultan Muhammad Mansyur Jaya Ing Lago, dan Sultan Mahmud 
Badaruddin Jayo Wikramo. 

Sehari-hari Sultan memilih sebagai pengusaha ketimbang profesi lain. Dia adalah 
direktur utama tiga perusahaan: PT Kelantan Sakti, PT Adi Pratama, dan PT 
Gerindro Utama Mandiri. Selain itu, dia menjadi komisaris di PT Mercury 
Pratama. 

Istrinya, Ratu Anita Soviah, membuka butik pakaian hasil rancangan sendiri. 
Pasangan Sultan-Ratu Anita dikaruniai empat anak. Mereka adalah M. Arga Bayu, 
18; RA Siti Delima Ananda Putri, 14; RA Sahidah Damara Venesia, 11; dan RM 
Galih Rio Purboyo, 6. 

Kehidupan keluarga Sultan sangat harmonis. Dia juga tidak pernah terlibat dalam 
hiruk-pikuk politik. Ketika ada pemilihan gubernur beberapa waktu lalu, Sultan 
berhasil menjaga jarak dengan para kandidat. Dia memilih netral. Sultan juga 
mengaku sempat ditawari DPP Partai Golkar menjadi caleg untuk DPR. Tapi, dia 
menolaknya secara halus. 

"Saya hanya ingin fokus memikirkan kemajuan rakyat Palembang. Melestarikan 
budaya wong kito dan memperkenalkannya hingga ke luar negeri," kata Sultan 
bersemangat. 

Selain memimpin perusahaan, dalam keseharian Sultan disibukkan dengan menjadi 
narasumber seminar, mulai pendidikan, membedah buku, hingga mengupas sejarah 
Kerajaan Palembang Darussalam. Dia juga rajin berkunjung ke daerah dalam upaya 
meningkatkan ekonomi para petani. 

Iskandar tak pernah mempersoalkan mana wilayah kerajaan yang dia pimpin. "Bagi 
saya Sultan tidak bisa bikin KTP. Kita hanya mitra pemerintah dalam memfilter 
pengaruh-pengaruh budaya asing. Tapi, harus diingat, keberadaan Sultan di 
Palembang sangat penting," katanya diplomatis. 

Iskandar adalah ketua umum Himpunan Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam dan 
ketua Asosiasi Kerajaan dan Kesultanan Indonesia. Dia diangkat berdasarkan 
musyawarah mufakat oleh 11 zuriat sultan di Palembang beserta zuriat Melayu di 
Sumsel (Sumatera Selatan) pada 19 November 2006 di halaman dalem Plaza Benteng 
Kuto Besak.

Kesultanan Iskandar juga direstui oleh ahli nasab Kesultanan Palembang 
Darussalam, RM Yusuf Prabu Tenaya, yang merupakan zuriat dari Sultan Ahmad 
Najamuddin Pangeran Ratu bin Sultan Mahmud Badaruddin II. "Jadi, saya bukan 
diangkat berdasarkan wangsit," kata Iskandar. 

*** 

Meski keturunan raja, kehidupan Iskandar di masa muda sempat terseok-seok. Dia 
pernah menjadi pengamen, berkeliling dari satu kafe ke kafe lain untuk 
membiayai kuliah. "Itu terjadi sekitar 15 tahun lalu," ungkap Sultan yang 
menamatkan kuliah di Fakultas Pertanian Jurusan Agronomi di Universitas 
Muhammadiyah Palembang pada 1989 ini.

Dari hasil mengamennya itu, Iskandar berhasil membiayai semua kehidupannya 
sendiri. "Ayah saya waktu itu usahanya kolaps. Jadi, saya harus mandiri mencari 
biaya sendiri," katanya. "Gara-gara mengamen, saya sempat menjadi juara 
festival band," tambahnya. 

Sebetulnya, hobi menyanyi Sultan berlanjut hingga sekarang. Hanya, dia tidak 
lagi menyalurkannya di kafe. "Kalau lagi ada acara, saya sering didaulat 
nyanyi," katanya lantas tersenyum. 

Menurut Sultan, darah seni yang mengalir dalam dirinya menyebabkan dia 
terobsesi untuk terus melestarikan budaya dan adat istiadat Kesultanan 
Palembang. Salah satunya masalah bahasa. "Sebagai salah satu keturunan penguasa 
di Palembang, saya melihat 70 persen adat istiadat di Palembang mulai pudar. 
Ini yang harus terus dibangkitkan lagi," tandasnya.(kemas/jpnn/kum)

<<44208large.jpg>>

Kirim email ke