http://www.sinarharapan.co.id/berita/0901/03/opi05.html
Belajar Menjadi "Top Leader" Oleh Khalifi Elyas Bahar Judul Buku : The Best of Chinese Leadership Wisdoms Pengarang : Leman Yap Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan : 2008 Tebal : 105 hlm Perkembangan China atau dikenal dengan sebutan Negeri Tiongkok terbukti memiliki banyak keunggulan yang terukir dalam sejarah. Berdasarkan esensi historisnya, nilai filosofi kehidupan China memang luar biasa, yaitu sebuah konstruksi dan sendi kehidupan masyarakat yang pergulatannya penuh dengan kerja keras dan selalu kompetitif. Bentuk mainstream masyarakatnya pun menampilkan komitmen yang bukan diaspora belaka, tetapi benar-benar dapat dibuktikan. Selain itu, kemajuan China menjadi tolok ukur bagi negara-negara berkembang lainnya. Karena itu, China dianggap turut memobilisasi terbentuknya sebuah kesadaran kolektif untuk kemajuan bersama. Sekelumit sejarah peradaban China terbentuk dalam kurun waktu yang relatif panjang, sehingga dalam eksistensinya, China banyak melahirkan kerajaan, mencetak ribuan filsuf dan ilmuwan serta ribuan pemimpin andal yang mampu mengembangkan bangsanya sendiri. Para pemimpin besar yang dilahirkan oleh China cukup mampu menjadi pionir yang tak henti-hentinya menggalakkan kemajuan berdasarkan kehendak bersama. Dari kerajaan-kerajaan yang terbentuk kemudian sistem yang diterapkan di dalamnya tetap berprinsip pada karakter dan landasan filosofinya masing-masing, begitu juga dengan tradisi serta aturan undang-undangnya. Pada wilayah yang lain China masih menjadi negara legendaris. Hal ini tidak bisa terlepas pada esensi dari kebijaksanaannya yang klasik. Ribuan tahun lalu, yang berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia relevansinya tetap kental dengan zaman global sekarang ini. Kisah-kisah beberapa tahun lalu yang berkaitan dengan perilaku dan seni kepemimpinan yang berkembang pada masa itu telah mampu menginspirasi berbagai belahan dunia dan dapat dipadukan dengan konsep kepemimpinan modern. Kehadiran buku The Best of Chinese Leadership Wisdoms ini mengajak kita untuk melihat kembali kisah-kisah kepemimpinan China klasik. Kepemimpinan China adalah suatu keberdayaan yang meniscayakan tumbuhnya nilai-nilai dasar guna mengemban dan mengembangkan suatu amanah serta tanggung jawab besar dalam memimpin. Lagi, kelebihan buku ini akan mengantarkan kita menuju gerbang perfeksionis, membawa ruang berpikir kita menjadi Top Leader. Uniknya lagi, di dalamnya tidak hanya memberikan ilustrasi abstrak, tetapi juga mengonkretkan kejadian-kejadian di wilayah kekuasaan zaman dahulu, seperti pada masa dinasti Qin sampai dengan berahirnya dinasti Qing yang terus terakumulasi sampai saat ini. Untuk mencari keteladanan dari kisah masa lalu China, kehadiran buku karangan Leman Yap ini memberikan konsepsi dan resolusi terbaik untuk dikonsumsi. Kandungannya mengajarkan kita kepada banyak hal, mulai dari cara-cara bagaimana seorang pemimpin mengambil keputusan dan kebijakan demi kebaikan masyarakat banyak. Karena itu pula menurut konsep yang ideal, kemampuan memengaruhi dan menggerakkan orang untuk mencapai suatu target tertentu merupakan seni dalam sebuah kepemimpinan. Pada umumnya modal untuk menjadi seorang pemimpin yang baik di antaranya harus kapabel, memiliki kecerdasan dan jiwa kepemimpinan yang mumpuni. Kepemimpinan diartikan sebagai kapasitas kreatif untuk menggugah kemampuan dan potensi positif dalam diri kita, dan konsekuensi logisnya bagi orang lain. Sebaliknya, banyak kasus terjadi yang justru menghancurkan reputasi suatu kepemimpinan karena tidak adanya kriteria seperti yang telah disebutkan. Begitu banyak orang berlomba-lomba menjadi pemimpin, tetapi karakter dan skill kepemimpinannya tidak ada. Akibatnya bukan hanya sistem, masyarakat yang dipimpinnya pun menjadi korban atas kelemahan tadi. Dengan demikian, bagi calon pemimpin, membaca buku ini menjadi suatu keharusan, tidak hanya pengalaman tokoh legendaris China yang akan didapat, tetapi muatan kata-kata bijak sosial yang tersajikan di dalamnya juga didapat. Misalnya, seorang pemimpin harus berani mengambil inisiatif (pelopor), berani menggunakan wewenang, berani mengambil keputusan dan tindakan tegas, dan lain sebagainya. Bentuk Storytelling yang dikutip dari cheng yu dalam buku ini menarik disimak, sedangkan cheng yu sendiri memiliki muatan nilai yang menganjurkan seseorang (pemimpin) harus dengan hati terbuka dan sungguh-sungguh meminta maaf. Untuk dapat mewujudkan kesejahteraan di level mana pun, kepemimpinan sejati adalah suatu hal yang tidak bisa disangkal. Alih-alih terkait masalah sistem dan kebijakan-kebijakan dalam sebuah rezim kepemimpinan China telah terbukti berhasil dan representatif untuk dipelajari. Kalau kita coba kontekskan dan melihat kembali kondisi bangsa Indonesia yang sudah karut-marut oleh berbagai polemik permasalahan, terutama problem perebutan kekuasaan, tampaknya buku ini akan sangat membantu sebagai referensi awal untuk bergerak lebih arif dan bijak. Apalagi menjelang pesta demokrasi Pemilu 2009, kita harus hati-hati dan lebih selektif memilih seorang pemimpin, karena kesalahan yang kita buat akan berakibat fatal terhadap keberadaan masyarakat. Tidak hanya itu, seorang pemimpin yang berdedikasi tinggi serta memiliki responsibility sangat dirindukan oleh masyarakat. Karena itu, selain buku ini cukup representatif untuk dipelajari, pada abad 21 ini para pemimpin harus bisa lebih mengedepankan jiwa kepemimpinannya. Pola pikir dan pandangan inovatif menjadi suatu hal yang tidak bisa dinafikan dan harus dimiliki seorang pemimpin. Hal ini diprioritaskan agar sebuah sistem kepemimpinan bisa berjalan sesuai dengan selera masyarakat atau komunitas yang dipimpinnya. Menjadi Top Leader bukanlah hal mudah, perlu banyak belajar dari pengalaman dan dimensi sejarah, sehingga berangkat dari ruang inilah kemudian masyarakat akan berdaya dan tercerahkan. Penulis adalah penikmat buku, studi pada Faculty of Social Sciences and Humanity, Sosiology UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
