http://www.sinarharapan.co.id/berita/0812/31/pol07.html

Partai Buruh
Menuju Negara Sejahtera  

JAKARTA-Banyaknya partai politik (parpol) yang menjadikan buruh sebagai basis 
konstituen, tidak menyurutkan keinginan Partai Buruh untuk tetap menjadi parpol 
peserta pemilu. Alasannya, isu perburuhan sejatinya hanya digunakan banyak 
parpol sebagai jargon, tetapi selepas pemilu tak ada tanggung jawabnya. 
Ini berbeda dengan Partai Buruh yang memang sejak awal tumbuh ditopang oleh 
serikat buruh. Partai ini memiliki cita-cita welfare state (negara sejahtera). 
Sistem seperti itu bisa dilaksanakan apabila kaum buruh berkuasa secara 
politik. Berikut ini wawancara wartawan Sinar Harapan Tutut Herlina dengan 
Ketua Umum Partai Buruh Muktar Pakpahan di Jakarta, Selasa (30/12). 

Banyak partai yang mengaku juga mengonsolidasikan para buruh. Lantas kenapa 
masih mendirikan partai buruh? 
Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) menjadi musuh tulen 
Soeharto. Dulu pilihan SBSI jatuh ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Makanya, 
begitu PDI bergejolak, saya yang ditangkap Soeharto. Walaupun pada 27 Juli saya 
tidak ada di tempat kejadian, tapi tetap dijadikan kambing hitam. Pada saat PDI 
pecah antara Mega dan Soeryadi, kami memilih ke kubu Mega (Megawati Soekarno 
Putri-red) sehingga tahun 1997 tidak ikut pemilu. Tapi begitu Mega menjadi 
presiden, juga mengecewakan buruh. Pertama, dia berkolaborasi dengan kekuatan 
Orde Baru (Orba) untuk menggulingkan Gus Dur dan juga mau memberikan grasi 
kepada mantan Presiden Soeharto. Saya sendiri diadili melakukan tindakan 
subversif juga karena banyak mengutip pemikiran Soekarno. 
Kedua, R&D (release and discharge). Sebanyak 200 konglomerat dibebaskan, tapi 
rakyat disuruh bayar utang. Ketiga, tahun 1999 saya mengusulkan tujuh RUU 
hubungan industrial yang meniru Jepang. Di negeri itu buruh paling makmur, tak 
ada yang mogok, tapi begitu diserahkan ke DPR, yang jadi malah UU No 13/2003. 

Visinya sendiri bagaimana?
Kita mau mendirikan welfare state (negara sejahtera), seperti cita-cita 
Soekarno pada 1930. Ini sudah diungkap SBSI 1992. Tapi dengan welfare state, 
saya dianggap komunis oleh Soeharto, padahal cita-cita itu merupakan cita-cita 
gerakan para buruh sedunia, cita-citanya sosial demokrat di mana-mana, dan itu 
cita-cita Soekarno 1930, dan itulah UUD kita sebenarnya. 
Dengan welfare state semua warga negara bisa sekolah gratis sampai SLTA. 
Pendidikanlah yang mencerdaskan orang, dan akan ada banyak solusi. Selain itu, 
penganggur jadi tanggung jawab negara. Kalau di Eropa ada pengangguran, negara 
harus bayar gaji, sehingga presidennya putar otak untuk menciptakan lapangan 
kerja. Presiden kita EGP (emang gue pikirin). Rakyat juga tidak paham bahwa 
negara punya tanggung jawab buka lapangan kerja. Di Eropa kalau ada penganggur, 
rakyat marah. Kalau kita ada penganggur, rakyatnya berdoa. 

Di Eropa kalau ada pengangguran rakyat berontak, sementara di Indonesia berdoa. 
Apa ini sengaja diciptakan sehingga seperti apa yang pernah dibilang oleh Karl 
Marx, agama adalah candu?
Ini welfare state yang ketujuh. Negara tidak mengurus agama. Di welfare state 
tidak ada menteri agama, karena kenyataannya menteri agama kita justru lebih 
banyak menimbulkan masalah keagamaan dari pada menyelesaikan. Catatan saya 
selama 35 tahun, masalah agama di Indonesia ditimbulkan oleh penguasa, baik 
penguasa keamanan maupun penguasa hukum. 

Penguasa keamanan itu siapa?
Tentara. Yang bikin ribut umat Kristen HKBP itu tentara. Yang bikin ribut umat 
Islam dan Kristen di Sumatera Utara itu tentara tahun 1968, waktu Pangdamnya 
Sarwo Edie. Yang bikin ribut NU antara Gus Dur dan Abu Hassan itu Jenderal 
Soeharto. Lalu, yang membuat pam swakarsa berhadapan dengan kami pakai jubah 
putih tahun 1998-1999 itu tentara, juga Wiranto dan SBY (Susilo Bambang 
Yudhoyono-red). 
Saat mahasiswa dan buruh berdemo di DPR, mereka didatangi orang berjubah yang 
dikawal tentara. Ketika mau dibuat UU Pernyataan Keadaan Bahaya (PKB), lahirlah 
peristriwa Semanggi Dua, juga karena tentara. Terakhir, ada satu organisasi 
yang punya kewenangan menutup gereja kalau tidak suka, walaupun gereja itu 
punya izin, apalagi bila tidak punya izin. Dan kalau mereka merusak gereja itu 
selalu ada polisi yang jaga. Negara apa kita ini kalau seperti itu? Itu 
bertentangan dengan welfare state. 

Anda selalu menyebut welfare state. Bagaimana mewujudkan welfare state di 
Indonesia, ketika semuanya dikuasai asing?
Kita saat ini memang negara yang dikuasai oleh neoliberalisme dan 
neokapitalisme. Kita harus berdaulat, tidak tunduk kepada siapa pun. Welfare 
state, good governance, dan serikat buruh yang kuat. Kita harus keluar dari 
neolib yang didatangkan ke Indonesia sejak Soeharto mengkudeta Soekarno. Oleh 
karena itu, perlu ada pelurusan sejarah. Kalau tidak, pikiran kita akan salah 
terus. Yang mengajukan Soekarno untuk menjadi presiden seumur hidup itu 
tentara, bukan PKI, karena para jenderal waktu itu khawatir kalau ada pemilu 
PKI pasti menang. Makanya, Soekarno didorong menjadi presiden seumur hidup. 

Cara untuk menuju welfare state seperti apa? 
Dengan cara mereformasi ekonomi kita dan kembali ke dasar UUD 1945, ekonomi 
kerakyatan, bukan ekonomi pasar. Kembali pada agro industri dan agro bisnis, 
karena 60 persen lebih secara riil masyarakat kita petani. Buat kebun kelapa 
sawit, sekaligus industri pengolahnya. Ubah hutan menjadi seperti Finlandia, 
menjadi pemasok kertas dunia. Ada land reform di seluruh daerah. Selain itu, 
penciptaan infrastruktur massal yang murah, seperti kereta api. 


Prinsip ekonomi kita harus diubah dari ekonomi pasar yang mendewakan 
pertumbuhan ekonomi menjadi pertumbuhan lapangan kerja. Kalau lapangan kerja 
tumbuh pasti ekonomi tumbuh. BUMN mestinya menjadi percontohan hubungan 
industrial, tapi sekarang malah jadi contoh yang buruk. BUMN harus berhenti 
menggunakan tenaga kerja out sourcing, sebab BUMN saja begitu, apalagi swasta

Kirim email ke