Jawa Pos
[ Selasa, 06 Januari 2009 ] 

Dahlan Iskan: Krisis Sudah Masuk ke Ranah Tuhan 


Krisis keuangan yang amat dahsyat ini akhirnya mampir juga ke ranah Tuhan. 
Yakni, ketika tersiar berita begitu banyak lembaga sosial dan keagamaan Yahudi 
yang menjadi korban investasi model Ponzi yang dilakukan Bernard Madoff 
(Bernie) itu. 

Seperti diatur saja, praktis semua rumah ibadah Yahudi menjadikan kasus 
penipuan terbesar di dunia tersebut sebagai tema khotbah Hari Sabtu (yaumus 
Sabbath) mereka. Ini tidak lain karena yang dituduh sebagai penipu terbesar 
dalam sejarah umat manusia itu adalah tokoh Yahudi dan yang banyak tertipu juga 
umat Yahudi.

Begitu kerasnya kecaman yang disampaikan para khotib di mimbar Sabtuan itu, 
sampai-sampai ada pengkhotbah yang kali ini terpaksa meminta maaf kepada 
jemaatnya. Yakni, karena si pengkhotbah terpaksa harus mencela nama seseorang 
di mimbar yang suci itu. 

''Selama ini kami tidak mau menjadikan soal bisnis dan politik menjadi tema 
khotbah,'' ujar seorang rabi konservatif di New York. ''Tapi, dalam kasus ini 
terlalu banyak korban, sehingga sulit untuk tidak dibicarakan,'' tambahnya.

Dana yang tersedot ke bisnis model piramida yang dilakukan Bernie tersebut 
memang mencapai USD 50 miliar atau sekitar Rp 600 triliun. Beberapa hari 
setelah Bernie ditangkap, ratusan orang Yahudi yang uangnya lenyap di situ 
mendatangi rumah Bernie yang seharga Rp 600 miliar itu di New York. 

Bernie, 70 tahun, memang tokoh terkemuka Yahudi. Dia dikenal sangat dermawan 
dan juga memimpin berbagai lembaga sosial masyarakat Yahudi. Karena itu, kasus 
tersebut dianggap memalukan Yahudi. Baik Yahudi sebagai masyarakat maupun 
Yahudi sebagai agama.

''Inilah hillul hashim yang keterlaluan,'' ujar seorang pengkhotbah sebagaimana 
dikutip penerbitan Yahudi terkemuka di New York. Hillul hashim adalah istilah 
dalam agama Yahudi untuk menyebut perbuatan penistaan kepada Tuhan. 

Istilah-istilah agama terpaksa begitu banyak dipakai kali ini untuk 
mengungkapkan kejengkelan kepada Bernie. ''Dia itu sudah seperti Esau,'' kata 
pengkhotbah yang lain. Orang yang bernama Esau, dalam kitab agama Yahudi, 
adalah lambang kebohongan nomor satu di jagat raya. Di antara semua ciptaan 
Tuhan (termasuk malaikat, manusia, binatang, pohon, dan batu), Esau-lah 
pembohong terbesar.

Kitab Yahudi menceritakan bahwa Esau adalah kakak Yakub. Mereka adalah anak 
Ishak, melalui istrinya Rebekah. Berarti, keduanya adalah cucu Abraham (Rasul 
Ibrahim). Esau dan Yakub sebenarnya anak kembar. Yakub lahir belakangan, tapi 
nyaris beriringan. Begitu dekatnya kelahiran Yakub dari kakaknya, sehingga 
dalam kelahiran itu digambarkan posisi Yakub masih memegangi tumit Esau, 
kakaknya itu. 

Tapi, Tuhan tidak memilih anak sulung tersebut sebagai pewaris sang bapak dan 
sang kakek. Ishak-lah yang jadi rasul. Ishak itu pula yang dipercaya kemudian 
menurunkan umat Yahudi sekarang ini. Golongan masyarakat Yahudi yang baik 
kemudian disebut golongan Yakob (berarti Israel). Sedangkan golongan yang 
''rusak'' disebut golongan Esau.

Digambarkan, bayi Yakub memang berkembang menjadi anak baik, penurut, suka 
belajar, banyak tinggal di rumah, dan seterusnya. Pokoknya, Yakub kemudian 
menjadi lambang kesempurnaan dari seorang anak yang saleh. Sedangkan Esau 
digambarkan tumbuh menjadi ''anak liar'' yang nakal. Kesukaannya begadang, 
berkelahi, memeras, menipu, mencuri, dan seterusnya.

Dalam masyarakat Yahudi, semua anak baik digambarkan sebagai Yakub, sedangkan 
anak nakal seperti Bernard Madoff dicaci seperti Esau. Karena itu, dalam 
masyarakat Yahudi, banyak orang tua yang memberi nama anaknya dengan Yakub, 
tapi tidak satu pun yang memberi nama Esau. 

Tampaknya, di semua agama, ada kisah seperti ini. Bahkan, agama Jawa juga punya 
cerita Pandawa dan Kurawa. Begitu banyaknya orang yang mencela dan memojokkan 
Kurawa, sampai-sampai saya justru bersimpati pada tokoh seperti Dursasana, 
salah satu di antara 100 Kurawa bersaudara. 

Saya kadang merenung bahwa kejahatan Kurawa itu pun sebenarnya juga kehendak 
Tuhan: mengapa Tuhan menakdirkan Dewi Gendari melahirkan anak sampai 100 orang? 
Bagaimana seorang ibu bisa mengasuh dan membesarkan anak sebanyak itu untuk 
bisa jadi anak saleh semua? 

Banyaknya anak itu juga yang kemudian menimbulkan problem agraria. Soal warisan 
tanah Kurusetra itu, misalnya. Tanah tersebut mestinya dibagi dua untuk Pandawa 
yang hanya lima bersaudara dan untuk Kurawa yang 100 bersaudara. Siapa pun, 
kalau dalam posisi menjadi Kurawa, pasti unjuk rasa: kalau tanah Kurusetra itu 
dibagi dua, bukankah akan melahirkan kesenjangan kaya-miskin: yang separo hanya 
dibagi untuk lima orang Pandawa, sedangkan yang separo lagi harus dibagi untuk 
100 orang Kurawa. 

Ishak yang hanya punya dua anak, yang satu jadi Esau. Bagaimana Dewi Gendari 
bisa mengasuh, mendidik, dan membuat 100 anaknya menjadi Yakub semua? Jangankan 
mendidik, memandikan dan mencuci bajunya saja sudah pasti sulit. Bukankah waktu 
itu belum ada mesin cuci dan PlayStation? Mengapa Tuhan memberinya 100 anak? 
Bahwa kemudian banyak di antara anak itu yang jadi Esau, siapa yang salah?

Ternyata, dalam kasus Yakub-Esau ini pun banyak yang bersimpati pada Esau. 
Mungkin juga karena terlalu banyak kisah kesalehan Yakub yang sekaligus dalam 
satu napas dengan kenakalan Esau. Ada satu kisah bahwa Esau, sebagai anak 
sulung, sebenarnya bisa saja mengambil semua warisan ayahnya. 

Namun, Esau begitu baiknya, sehingga mau mengalah kepada adiknya. Tapi, ada 
saja cerita sebaliknya: Esau itu sebenarnya bukan mengalah. Dia menjual 
hak-haknya sebagai sulung untuk menipu adiknya.

Begitu jeleknya Esau ini sampai-sampai digambarkan, kalau Anda baru saja dicium 
Esau, segeralah periksa apakah ada gigimu yang dicurinya. Dan Bernie, meski 
pernah memberikan laba triliunan rupiah kepada para nasabahnya, jasa itu tidak 
akan dikenang sebagai Yakub. Tetap saja Bernie itu Esau. Bahkan Esau terbesar 
pada abad modern.

''Bernie itu melakukan dua kejahatan sekaligus: mencuri dan menipu,'' bunyi 
salah satu khotbah Sabtu itu. ''Tempat yang paling cocok untuk orang yang 
mencuri harta kaum Yahudi adalah di neraka yang sangat khusus,'' tambahnya. 

Betapa berat dosa Bernie digambarkan dalam cerita itu sebagai berikut: Orang 
Yahudi itu paling pintar dalam berhitung dan paling teliti dalam memeriksa 
angka-angka. Karena itu, tidak mungkin bisa ditipu. Itu baru orang Yahudi 
biasa. Orang Yahudi yang sudah jadi pedagang lebih hebat lagi: sudah mampu 
menggabungkan kehebatan berhitung dan ketelitian memeriksa. Kehebatan tersebut 
akan meningkat lagi kalau seorang pedagang Yahudi sudah bisa jadi bankir, 
pengusaha bank.

Dan seorang Bernie ternyata mampu menipu orang Yahudi yang sudah jadi bankir 
sekalipun! Maka, kalau orang Yahudi memberi gelar dia Esau, rupanya kejengkelan 
mereka memang sudah tidak tertahankan lagi. Bankir Yahudi pun bisa dia tipu!

Di antara kelompok Yahudi yang paling marah kepada Bernie adalah organisasi 
wanita Yahudi bernama Hadassah. Organisasi tersebut kehilangan dana Rp 1 
triliun (USD 90 juta). Hadassah adalah organisasi ibu-ibu Yahudi di Amerika 
yang paling besar. Juga paling terkenal akan proyek-proyek sosialnya.

Hadassah-lah yang membiayai anak-anak Yahudi yang ditinggal mati orang tua 
mereka dalam kasus pembunuhan masal di Eropa. Hadassah pula yang mendirikan 
sekolah Youth Aliyah untuk anak-anak orang Yahudi di Israel. Proyek sosialnya 
di Israel luar biasa banyaknya. Termasuk mendirikan sekolah perawat, 
kedokteran, dan rumah sakit.

Kini, dana itu hilang.

Sedangkan di antara rabi (kiai) Yahudi yang paling marah adalah David J. Wolpe. 
Ini berarti sudah mentok: Rabi Wolpe adalah rabi nomor satu di antara rabi-rabi 
''langitan'' di Amerika Serikat. ''Padahal, saya ini tidak kenal Bernie,'' 
katanya dalam satu khotbah sebagaimana disiarkan penerbitan Yahudi di AS itu. 
Sampai-sampai dikira dia itu ikut jadi salah satu korban Bernie. ''Saya ini 
justru belum pernah dengar namanya sampai dengan semua orang menyebut-nyebut 
nama itu sekarang ini,'' tegasnya.

Rabi Wolpe tergolong kiai mbeling. Pimpinan Kuil Sinai di Los Angeles tersebut 
membuat heboh beberapa tahun lalu, terutama ketika mengungkapkan bahwa kisah 
pengungsian orang Yahudi dari Mesir yang menyeberangi Laut Merah itu sebenarnya 
tidak ada. ''Tidak ditemukan bukti ilmiah sama sekali,'' ungkapnya.

Rabi Wolpe itulah yang dalam khotbahnya sampai mengingatkan agar semua 
pengusaha Yahudi tahu bahwa sebelum menghadap Tuhan kelak, akan ada beberapa 
pertanyaan Tuhan yang harus dijawab sebelum bisa masuk surga. Pertanyaan 
pertama, kata Wolpe, adalah: apakah praktik dagang yang kamu lakukan sudah 
baik? (*)


  

Kirim email ke