http://www.poskota.co.id/redaksi_baca.asp?id=1836&ik=32
TUKANG BAKSO TAK SABARAN Rabu 7 Januari 2009, Jam: 18:57:00 Program kerja Gimboh, 55, apik benar. Dini, 15, ditembung (dilamar) saja dulu, mengingat belum cukup umur. Dia baru mau dinikahi dan ditandangi (baca: digauli) setelah 20 tahun. Tapi dasar tukang bakso, dia tak setahan Syeh Pudji dari Semarang. Baru usia 16 lebih sedikit Dini sudah dilabrak, gegerlah warga Bantul (DIY). Undang-undang perkawinan (UU No. 1/1974) menetapkan, wanita boleh melakukan pernikahan sekurang-kurangnya usia 16 tahun. Kurang dari itu berarti pelanggaran, dan bila dirujuk pada UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pelakunya (lelaki) bisa dituntut di muka hakim. Lagi pula apa sih enaknya makan mangga masih asem belum buntel pelok (ada tempurung)? Kalau gigi sampeyan berlubang, dijamin pasti linu (sakit) karenanya. Si Gimboh tukang bakso dari Desa Sabrang Kecamatan Bambanglipuro, Bantul DI Yogyakarta, agaknya juga tak mau linu-linu giginya. Karenanya ketika naksir Dini gadis tetangga yang baru berusia pupuk bawang, mencoba mengendalikan nafsunya dulu. Artinya, asal pihak orangtua setuju, perkawinan bisa menunggu setelah Dini berusia 20 tahun. Saat itulah dia akan dinikah resmi dan ditandangi (digauli) Gimboh sebagaimana lazimnya seorang istri. Istri Gimboh sendiri, Ngadiyem, 45, menyetujui rencana perkawinan itu. Habis sebagai istri dia betul-betul kuwalahan meladeni gejolak nafsu suami. Nggak ada matinya! Kalau pesawat terbang, minimal musti bermesin dua, sehingga ada untuk cadangan. Lha Ngadiyem, dari dulu hingga kini tetap bermesin satu. Bagaimana dia bisa menandingi kemauan suami yang maunya terbang malam melulu! Karena itulah, kehadiran Dini bukan dianggapnya sebagai maru (madu), tetapi mesin cadangan saja! Niat mengawini Dini diutarakan sebulan lalu. Orangtua sigadis yang terpukau oleh kekayaan Gimboh, langsung setuju saja meski lelaki itu lebih pantas jadi ayahnya. Sebab dengan dia punya mantu pedagang bakso yang kaya, pastilah nasibnya juga ikut terdongkrak. Paling tidak, cari utangan pada Gimboh pastilah gampang. â?oPengin mangan bakso ya mesthi mung kari nyidhuk (mau bakso tinggal ambil),â? begitu pertimbangan sederhana ayah dan ibu Dini. Gadis Dini yang selalu dapat induktrinasi dan santiaji dari ayah bundanya, ternyata juga tak keberatan jadi istrinya Gimboh kelak. Apa lagi kini dia selalu dimanjakan. Minta apa saja pasti dibelikan, asalkan jangan minta bulan dan bintang, karena itu milik MS Kaban. Dan karena dia memang punya bakat cantik, dengan pakaian yang mrabot (lengkap dan bagus) makin nyata saja akan keelokannya. Ibarat kucing, Gimboh jika tidak ingat akan janjinya, pastilah sudah ditubruklah tikus kecil tersebut. Malang tak dapat ditolak, untung tak bisa diraih. Gimboh baru saja pulang dari Semarang setelah meninggalkan istrinya selama 4 hari. Tiba di rumah, Ngadiyem istrinya sedang berhalangan! Cilakakâ?¦..! Kepala mendadak pusing nyut-nyutan. Harus â?ongetap olieâ? di mana gerangan? Lupa akan konsensus, dia segera mendatangi dan melabrak Dini yang belum juga genap usia 16 tahun. Meski pelakunya bakal suami sendiri, gadis ingusan itu langsung teriak kesakitan. Gegerlah warga Desa Sabrang, sehingga sampai polisi turun tangan. â?oDia calon istriku, Pak! Menurut perjanjian, baru akan saya kawini 5 tahun lagi,â? kata Gimboh pada polisi Polsek Bambanglipuro. Ampun deh, masih kurang satu pelita nyosorrrr saja! (KR/Gunarso TS)
