Jawa Pos
[ Kamis, 08 Januari 2009 ] 

Perlombaan Bohong Para Caleg 
Oleh: Djoko Susilo * 

Meski pemilu masih tiga bulan lagi, para caleg (calon legislator) sudah 
berlomba memasang poster, spanduk, baliho, dan banner di mana-mana. Kota pun 
menjadi semrawut dan kotor karena kampanye tidak resmi para calon politikus 
itu. 

Yang luput dari para pengamatan masyarakat, sesungguhnya perlombaan pemasangan 
peraga kampanye itu adalah awal perlombaan kebohongan calon politisi. Semuanya 
menunjukkan bahwa dirinya "siap mengabdi bagi ibu pertiwi" atau kepentingan 
masyarakat luas. Tidak ada yang menyatakan mereka berminat menjadi caleg karena 
ingin meningkatkan kesejahteraan keluarga, bukan rakyat. Selain itu, jika sudah 
duduk sebagai anggota dewan, mereka malas bekerja sebagaimana sebagian kolega 
saya sekarang ini. 

Kebohongan calon anggota legislatif ini seakan-akan mengepung warga Kota 
Surabaya dan kota-kota lain di Indonesia. Ada banner besar ?di sebuah sudut 
jalan di Surabaya Timur dengan tulisan besar "saatnya mengabdi untuk negeri". 
Ada lagi caleg yang menuliskan semua janji kampanyenya di baliho yang dipasang 
besar-besaran di sebuah jalan di Surabaya Selatan. Yang juga menonjol, ada 
caleg yang memasang janjinya "berbuat untuk memberi manfaat" di sejumlah 
tempat. Padahal, manfaat yang akan didapat untuk rakyat jika dia duduk di DPR 
tidak jelas benar. 

Bahkan, yang lebih tidak masuk akal ialah janji seorang caleg yang akan 
memberikan "100 % gaji untuk rakyat". 

Terus terang, saya berani mengatakan bahwa semua janji yang disampaikan itu 
bohong belaka. Mayoritas rakyat sebenarnya juga tidak akan percaya. 

Manipulasi dan Pembodohan 

?Sebagai anggota DPR yang sudah dua kali menjabat di Senayan dan pernah lama 
menjadi wartawan, saya sangat tahu persis bahwa dalam komunikasi politik modern 
sangat mudah untuk menipu, membohongi, dan membodohi masyarakat. 

Manipulasi tersebut ditunjang oleh sikap tidak bermoral sejumlah pengelola 
media massa yang membiarkan lembaganya digunakan sebagai sarana penyebaran 
pesan kebohongan dan manipulasi rakyat itu sepanjang para pembohong tersebut 
membayar biaya iklan dan ongkos yang terkait dengannya. 

Bahkan, kini banyak lembaga survei dan public relations (PR) yang siap membantu 
para caleg membohongi masyarakat dengan canggih. Repotnya, pers yang bebas 
tidak mampu menjadi watchdog (pengawas yang galak) terhadap politisi pembohong. 

Kegagalan pers itu meliputi ketidakmampuan memberikan informasi yang jelas 
mengenai rekam jejak dan prestasi para caleg yang akan bersaing itu. Akibatnya, 
calon pemilih ibaratnya orang buta yang harus memilih tanpa petunjuk yang baik. 
Sikap apatisme pun akan meluas. 

Mereka yang mempunyai kesadaran politik akan memilih golput dengan alasan calon 
yang dipilih tidak akan banyak memberikan manfaat untuk kehidupannya. 

Sedangkan yang datang memilih mungkin hanya tertarik pada popularitas seorang 
calon, tanpa mengetahui visi dan misinya. Padahal, sebuah demokrasi akan 
berkembang baik jika masyarakat pemilih mendapatkan informasi yang bebas dan 
memadai yang diperoleh melalui media massa. 

Kondisi seperti itu sangat mengkhawatirkan. Sebab, bisa jadi masyarakat yang 
muak dengan janji palsu dan kebohongan para calon legislator tersebut menjadi 
antipati terhadap demokrasi. 

Kondisi itu mulai muncul dan ditandai dengan adanya keluhan bahwa hidup di 
zaman orde baru di bawah Soeharto yang otoriter lebih enak dan lebih baik 
dibandingkan zaman reformasi yang demokratis. 

Demokrasi hanya menguntungkan segelintir elite dan tidak membawa manfaat untuk 
rakyat. Sebagian keluhan tersebut benar. Sebab, kebohongan selama proses pemilu 
seperti sekarang ini tidak mendapat kritik dari media massa. 

Misalnya, janji seorang caleg yang akan memberikan 100 persen gajinya untuk 
rakyat dan janji itu disebarluaskan melalui banner, spanduk, dan poster-poster 
di sebagian kaca bemo di Surabaya. Terhadap hal itu, saya belum pernah melihat 
ada wartawan dan koran di Surabaya yang mempertanyakannya. 

Contoh lainnya, slogan "berbuat untuk memberi manfaat" dan "siap mengabdi untuk 
ibu pertiwi".?Tidak ada pengujian terhadap caleg yang membuat pernyataan 
tersebut. Misalnya, apakah caleg itu sudah bermbuat memberi manfaat untuk 
masyarakat di sekitarnya? 

Jangan-jangan kerja bakti di lingkup RT/RW saja dia tidak pernah hadir. Jadi, 
manfaat apa yang akan ditawarkan untuk rakyat? 

Caleg Prasejahtera 

Kecurigaan rakyat bahwa sebagian besar caleg itu hanya akan mementingkan diri 
dan keluarganya cukup beralasan. Sebab, berdasar data di lapangan, saya 
menemukan cukup banyak caleg di semua tingkatan kehidupannya masih dalam 
tahapan prasejahtera. 

Kalau demikian, apakah yang boleh jadi caleg hanya terbatas orang kaya? Jelas 
tidak. Namun, sesungguhnya setiap calon legislatif harus tahu dan sadar bahwa 
biaya kampanye sangat mahal yang bisa menghabiskan ratusan juta, bahkan 
miliaran rupiah. 

Di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa seperti Inggris, ada aturan jelas 
bahwa kondisi keuangan seorang caleg tidak boleh bangkrut. Yakni, antara aset 
dan utangnya, lebih besar kewajiban bayar utangnya. Di dapil I, dalam pemilu 
yang lalu, saya menemukan ada caleg yang modalnya hanya satu rim kertas yang 
dicetak gambar partainya. Ternyata, dia lolos menjadi anggota legislatif berkat 
nomor peci yang dimilikinya. 

Alhasil, bisa ditebak bahwa yang bersangkutan tidak banyak berbuat untuk 
masyarakat yang diwakilinya. 

*. Djoko Susilo, anggota Komisi I DPR

Kirim email ke