Isu Palestina: Solidaritas atau Kampanye politik
9.1.09
.fullpost{display:none;}
Rudi Hartono
Agresi
militer Israel terhadap palestina mengundang kecaman internasional.
Berbagai protes dilancarkan pemimpin-pemimpin dunia, bahkan berbagai
organisasi sosial dari berbagai spectrum politik melancarkan aksi
protes dimana-mana. Protes tidak hanya dijumpai dalam negeri-negeri
islam, tetapi nampak cukup massif dilancarkan di eropa, Amerika latin,
Australia, dan juga beberapa negara asia. masalahnya adalah
kemanusiaan, sehingga penyikapannya pun adalah bentuk solidaritas
kemanusiaan.
Di Indonesia, kecaman datang dari berbagai kelompok
sosial masyarakat. Namun sejak awal, protes dan mobilisasi massa sudah
didominasi oleh ormas-ormas dan partai-partai Islam, terutama PKS.
Dalam mobilisasi ini, mereka bukan saja menunjukkan bentuk-bentuk
keprihatinan dan solidaritas, tetapi yang cukup menonjol adalah
symbol-simbol dan bendera-bendera partai yang kebetulan adalah
kontestan pemilu 2009. Pihak Bawaslu sendiri menilai mobilisasi massa
PKS untuk palestina sudah masuk kategori kampanye politik terbuka,
padahal kampaye pemilu secara terbuka seyogyanya baru dimulai 15 maret
2009.
Baca Selengkapnya!
Barbarisme di Akhir Tahun
31.12.08
.fullpost{display:none;}
Oleh: RUDI HARTONO
Bulan
desember, akhir tahun. Sebagai makhluk berfikir, punya kehendak maju,
serta punya keinginan besar menjadikan hari depan sebagai hari
kemenangan, maka tak henti-hentinya kita melakukan evaluasi,
koreksi-koreksi atas perjalanan setahun kita melalui catatan-catatan
akhir tahun. Dan manusia yang yang tidak punya catatan, tidak punya
koreksi, adalah juga manusia merangkak menuju kemajuan, meminjam Rosa
Luxemburg, adalah tindakan mengulang “Usaha Sisyphus”. Tokoh dalam
mitos yunani yang terpaksa mendorong batu ke puncak bukit, dan ketika
mulai mencapai puncak, maka batu itu kembali jatuh ke bawah.
Demikian
pula dengan catatan barbarisme. Kendati selalu dikutuk dan dinyatakan
sebagai perbuatan yang tak cocok dengan kehidupan modern; yang
demokratis, yang selalu menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia.
Tetapi, tetap saja barbarism di praktekkan oleh masyarakat modern,
bahkan dalam bingkai hukum dan demokrasi.
Kini
menggunakan istilah “barbarisme”, seperti juga diyakini Ian Angus,
terhadap berbagai tindakan atau kondisi sosial yang terlampau tak
berperi-kemanusiaan, perilaku terlampau kejam, dan aksi kekerasan yang
berada diluar toleransi kemanusiaan.
Gelombang Barbarisme
Pertengahan
bulan Desember, polisi memulai gelombang kekerasan terhadap mahasiswa
yang menolak pengesahan UU BHP. Di Makassar, kampus terbesar disana
diserbu aparat kepolisian bersenjata lengkap. Di Jogjakarta, aksi
mahasiswa menolak kedatangan SBY di kota itu direfresi polisi. Seluruh
peserta aksi mendapatkan perlakuan kasar sebelum ditangkapi.
Tidak
cukup rupanya. Dusun Suluk Bongkal yang jauh di pedalaman Bengkalis
sana, tiba-tiba mengemuka di panggung nasional, bahkan internasional.
Siang hari (18/12), Suluk Bongkal diserbu dari darat dan udara oleh
ribuan orang bersenjata lengkap, punya gas air mata, buldoser, ditambah
dua helicopter yang menjatuhkan bom napalm dari atas udara. Akibatnya,
200 warga ditangkap, 2 orang terkena tembakan, 2 orang bocah tewas,
sekitar 700 rumah ludes terbakar, dan lahan pertanian juga mengalami
kerusakan berat. Benar-benar barbar.
Dusun Suluk bongkal bukan
lah basis gerilayawan, bukan pula perkampungan teroris, tetapi diserbu
layaknya musuh yang hendak dimusnahkan. Yang diserbu ini adalah ribuan
keluarga petani yang selama ratusan tahun, tanpa perhatian pemerintah
sedikitpun, mengubah kerasnya hutan menjadi lahan pemukiman, pertanian,
dan sebagainya. Anehnya, pihak penyerbu ini menggunakan seragam
apparatus penegak hukum, katanya.
Di tingkat Internasional,
Israel juga melancarkan serangan udara dan darat terhadap kota Gaza,
Palestina. Sudah diduga, serangan brutal pasukan militer Israel hanya
menewaskan korban sipil tak berdosa. Dalam sekejap, kota goza menjadi
kota kematian, dimana ribuan mayat bergelimpangan, dan seluruh kota
telah menjadi puing. Dalam bulan desember ini saja. Hanya dalam
hitungan 12 jam saja, Israel telah membunuh 220 orang palestina, dan
lebih dari 700 orang luka-luka. Bayangkan, setiap detiknya mereka
menciptakan kematian kepada orang-orang tak berdosa, hanya untuk
memuluskan profit.
Orang boleh tumpah ruah di jalanan
memberikan dukungan solidaritas terhadap rakyat Palestina, bahkan
bersedia menjadi sukarelawan kesana, tetapi menurut saya, bahwa ada
kenyataan serupa di dalam negeri yang juga menuntut solidaritas dan
sikap kita. Derita rakyat palestina adalah derita kemanusiaan, adalah
derita kita juga, tetapi derita rakyat didalam negeri juga perlu
diangkat, termasuk penyerangan polisi terhadap petani Suluk Bongkal.
Tindakan Israel wajib dikutuk, tetapi kita tidak bisa menerapkan
standar ganda, lantas menafikan kekerasan apparatus di dalam negeri. Ini
kritikan kepada organisasi islam!
Barbarisme dan Krisis
Indonesia
sudah berada dibawah krisis yang sangat parah. Sedemikian parahnya
krisis ini, sehingga berdimensi cukup luas, dan menciptakan ketakutan
kepada semua orang, tidak terkecuali para capres pemilu 2009. Pembuka
tahun depan saja, lembaga survey sudah memprediksikan PHKS missal
terhadap jutaan pekerja di berbagai sektor. Selain itu, pekerja di
berbagai wilayan di Indonesia tidak dapat berharap banyak akan adanya
kenaikan upah, karena sejak pemberlakuan SKB 4 menteri persoalan
besaran pengupahan tidak boleh melebihi pertumbuhan ekonomi.
Di
tingkat internasional, para kapitalis utama sedang mengalami kesulitan
dan kendala dalam meningkatkan profitnya. Keresahan mereka bersumber
pada krisis financial yang mereka ciptakan sendiri, yang sedikit banyak
dilimpahkan bebannya kepundak klas pekerja, tetapi sampai hari ini
belum mereda. Krisis kian menjalar, bukan hanya disektor financial,
kemudian otomotif, tetapi kini merambah ke seluruh cabang produksi
kapitalis. Di sisi lain, mereka menghadapi potensi perlawanan dari klas
pekerja di dalam negeri, terutama sektor-sektor sosial yang selama ini
bergantung pada penjaminan dana pension, asuransi kesehatan, hingga
kredit rumah. Upah dan standar hidup kelas pekerja di belahan eropa
terus merosot tahun ini. banyak keluarga di AS kini hidup di
tenda-tenda atau di dalam mobil mereka, karena rumahnya disita.
Harus
diakui, bahwa agresifitas militer imperialis tidak juga menurun
intensitasnya sejak tahun 1970-an, meskipun banyak pihak yang menilai
fase ini akan melahirkan sedikit perubahan dalam tubuh kapitalisme,
terutama mengenai cara menerapkan imperialisme. Seperti yang pernah
dituliskan István Mészáros, bahwa seolah-olah agresifitas imperialism
dalam pendekatan militer cenderung menurun, dan agresifitas ekonomi
---melalui washintong consensus—semakin meningkat, terutama dengan
menggunakan tema baru “promosi demokrasi”. Tetapi kenyataan berbicara
lain, perluasan aktifitas NATO, kemudian intervensi imperialism dalam
“tragedy balkanisasi”, perang teluk, krisis di timur tengah, invasi
Afghanistan, dan lain-lain. Agresifitas ekonomi berjalan beriringan
dengan agresifitas penggunaan militer, terutama setelah AS menganut
doktrin “pencegahan”, tentu mereka semakin agresif dan advonturir.
Ini
lah yang ditempuh pemerintahan kapitalis AS saat ini, dan diikuti juga
oleh negara bonekanya, Indonesia. Setali tiga uang! Polisi Indonesia
yang cukup banyak belajar dari militer AS, dengan kedok “memerangi
terorisme”, kemudian mengaplikasikan pengetahuan-pengetahuan yang
didapatkannya kepada rakyat, persis seperti yang dilakukan
militer-militer AS terhadap rakyat dunia ketiga di Vietnam, Somalia,
Nikaragua, dll.
Dalam tradisi sosialisme, istilah “barbarisme
sedikit banyak dijelaskan oleh Rosa Luxemburg, dalam artikel Junius
pamphlet, yang dituliskan dalam penjara pada tahun 1915, saat menentang
perang dunia pertama. Mengikuti Rosa Luxemburg, bahwa kapitalisme
berdasarkan perang adalah bisnis yang berdiri atas reruntuhan dan
puing-puing perang, atau profit yang bersemi seperti gulma, pada bidang
yang sudah mati.
Refresi aparat kepolisian Polda Riau,
misalnya, benar-benar merupakan kejahatan barbarian, dari sudut pandang
hukum manapun. Polisi membakar 700 rumah warga, sarana produksi mereka
(lahan pertanian, cangkul, dll), serta menangkap, dan membunuhi
anak-anak, tanpa mengantongi dokumen hukum (surat putusan pengadilan,
surat perintah institusi, dll). Dan setelah itu, polisi memanfaatkan
sejumlah media, untuk memanipulasi fakta berdasarkan
pengakuan-pengakuan warga yang diperas pakai intimidasi, serta dukungan
organisasi-organisasi yang sudah lagi tak punya martabat.
Penjelasan
polisi menyembur kemana saja dengan mudah. Sedangkan pernyataan dan
kesaksian warga begitu sulit tersampaikan. Bahkan hingga mengetuk dari
pintu ke pintu mereka yang punya kuasa pun, hal itu masih terasa sulit.
Ini lah masyarakat kapitalisme yang sakit. Beserta seluruh institusi,
pandangan-pandangan, dan keyakinan politiknya.
Hanya Sosialisme Jalan Keluarnya!
Boris
Kagalitsky menyatakan bahwa sosialisme harus dipahami sebagai sebuah
sistem alternatif yang radikal, bukan hanya berarti dia akan
memperbaiki dan mengembangkan kapitalisme, tetapi dia adalah sebuah
masyarakat baru yang akan menggantikan kapitalisme. Lebih lanjut
Kagarlitsky mengatakan bahwa kebangkitan ideologi sosialis dan
bangkitnya gerakan massa hanya merupakan alternatif bagi barbarisme.
Dalam
Julius Famplet, Rosa mengacu pada Friedrich Engels, bahwa masyarakat
borjuis berada di persimpangan jalan; apakah melakukan transisi ke
sosialisme atau regresi ke barbarisme. Perang yang dikobarkan para
imperialis adalah regresi ke barbarisme dan kejayaan imperialisme
berarti penghapusan peradaban manusia. Sedangkan dalam kata Luxemburg;
“kemanusiaan ini menghadapi pilihan: perceraian atau keruntuhan dalam
alam anarki kapitalisme atau regenerasi melalui revolusi sosial.
Menurut saya, dari perkembangan sistim kapitalisme sekarang perlu di beri
beberapa catatan;
Pertama,
keyakinan bahwa metode pasar bisa mengatasi segala hal dalam sistim
ekonomi semakin terbantahkan. Bukan pada krisis ini saja, ataupun
krisis-krisis periodik yang sudah berlansung berkali-kali, karena
memang Krisis adalah inherent dalam sistim kapitalisme yang berbasiskan
kepemilikan pribadi, tetapi pada pencapaian kerusakan pada
kesejahteraan ratusan juta manusia, kerusakan ekologi, dan kesenjangan
baik antara orang kaya dan orang miskin, maupun antara Negara maju dan
Negara miskin yang terus melebar.
Kedua, kapitalisme telah
merendahkan derajat manusia se-begitu rendahnya, hingga pada taraf
terendah dalam sejarah umat manusia. Di bawah anarki kapitalisme,
solidaritas, kerjasama dan kepekaan sosial telah digantikan dengan
kompetisi yang ganas, dan tragedy kemanusiaan dimana saja sudah
dibiarkan lewat begitu saja, tanpa kutukan dan kecaman dari kita.
Manusia semakin terisolasi pada sekat-sekat individualisme, dan
melupakan bahwa kita sedang bermasyarakat.
kapitalisme pun sudah
terseok-seok menjaga keseimbangannya. Krisis sekarang ini hampir-hampir
menjatuhkannya. Meskipun kita mengetahui bahwa masih begitu banyak alat
pengaman yang bisa dipergunakan. Tapi, kami juga yakin bahwa setiap
tindakan penyelamatan itu hanya darurat, hanya menunda, dan menciptakan
pengorbanan besar dari kaum pekerja dan umat manusia. Kemiskinan dan
kelaparan menjadi muka nyata dari imperialisme sekarang ini. lebih dari
250 juta orang, kebanyakan warga sipil, telah tewas dalam peperangan
dan pemusnahan massal selama abad 20 ini. dalam waktu hanya 8 tahun,
lebih dari 3 juta orang tewas dalam perang di Irak, Afghanistan, dan
berbagai perang di dunia ketiga. Setiap jam, 180 anak-anak mati karena
kelaparan, dan 1200 meninggal karena penyakit yang tak tertolong (Ian
Angus, 2008).
Di sisi lain, sebuah proyek menciptakan dunia baru
diluar kapitalisme sedang berlansung di berbagai belahan dunia, baik
oleh Negara maupun komunitas kecil. Di Venezuela, projek sosialisme
telah membuka jalan pada partisipasi orang miskin dalam perencanaan,
pendiskusian, dan pengelolaan ekonomi. Proyek ini memungkinkan
transformasi secara perlahan kepemilikan dan kontrol swasta pada
kepemilikan bersama, seperti melalui koperasi, co-management, dan
memperluas manajemen dan kepemilikan Negara. Dalam mengurangi peran
pasar, proses revolusi mulai memberikan ruang besar kepada mekanisme
produksi, pertukaran, dan distribusi berdasarkan perencanaan komunitas,
solidaritas, dan kepentingan seluruh rakyat. Pemerintah memprioritaskan
pemberian layanan sosial, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan,
layanan publik, subsidi harga kebutuhan pokok, dan lain-lain, melalui
sejumlah program sosial, reformasi agrarian, pembentukan neukleus
komunitas kepada seluruh rakyat.
Hasilnya, revolusi berhasil
mengangkat harkat dan martabat mayoritas rakyat Venezuela; akses
terhadap air bersih telah meningkat dari 70% menjadi 95% dari seluruh
populasi, upah minimum meningkat dan merupakan yang tertinggi di
Amerika latin (sekitar 286US$ per-bulan dan tingkat kemiskinan turun
signifikan. PDB Venezuela tumbuh rata-rata 11,8% dalam empat tahun dan
pengangguran di tekan hingga kurang dari 6,3 %. Menurut UNDP, Indeks
pembangunan manusia Venezuela meningkat dari 0,69 pada tahun 1998
menjadi 0,88 pada tahun 2007.
Cerita sukses Venezuela tentu
berbeda dengan cerita di Indonesia. Di Indonesia, angka kemiskinan
secara nyata terus meningkat dan menjangkau separuh lebih dari
populasi. Belum lagi, jaminan atas pekerjaan dan kondisi kerja yang
layak, akibat Indonesia harus mengikuti resep neoliberalisme. Jika
revolusi di Venezuela telah melindungi hak-hak petani dan
mengimpelementasikan program reformasi agrarian secara konsisten dan
berkelanjutan, maka Petani Indonesia terus menerus menghadapi terror,
kekerasan, dan pengusiran paksa dari tanah-tanah yang mereka duduki
ratusan tahun, hanya karena proposal korporasi.
Di Venezuela,
pemerintah memberikan layanan kredit murah, membangun bank pedesaan,
menjamin pasokan pupuk, dan teknologi pertanian kepada para petaninya,
maka di Indonesia, pajak yang dibayarkan rakyat digunakan untuk membeli
helicopter dan bom napalm, guna mengusir paksa petani dari lahannya.
Dulu
bung karno mengatakan; “Dis, engkau harus bantu usaha rakyat
mendatangkan sosialisme Indonesia yang cukup sandang, cukup pangan,
gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja”. Pesan itu
disepelekan oleh pemimpin-pemimpin nasional sekarang ini, bahkan
melakukan sebaliknya. Maka, menurut saya, tidak ada salahnya, jika
sekarang ini kembali kita merujuk pada cita-cita Bung karno; sosialisme
Indonesia Modern, bukan barbarisme.
Penulis adalah Pengelola Jurnal Arah KIRI dan Redaksi Berdikari Online
Baca Selengkapnya!
"Tugas Manusia adalah Menjadi Manusia" (Multatuli)
Stand up for Democracy! Website http://www.arahkiri2009.blogspot.com