Refleksi: Sistem kenegaraan NKRI diabdikan untuk kepentingan kaum feodal, 
kapitalis  dan tukang catut bin bandit, maka oleh karena itu sekali pun  sudah 
berumur lebih dari setengah abad, dnegeri yang berlimpah-limpah dengan kekyaan 
alam tidak ada perbaikan mendasar dalam bidang ekonomi dan sosial termasuk 
distribusi pendapatan yang memada kepada rakyat. Harta alam  yang 
berlimpah-limpah kian hari kian menipis.  Rakyat dihipnotiskan dengan 
jampi-jampi ajaib gurun pasir menjadi penonton  tragedi abadi yang menimpa 
mereka.  Apa jalan keluar dari beban cengkraman lingkaran rantai kemiskinan dan 
keterbelakangan? 

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0901/19/sh06.html

Ketua GMKI Kenly Poluan: 
Elite Parpol Banyak yang Feodal dan Kapitalis



Jakarta - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, 
Kenly Poluan, di Jakarta, Senin, menyatakan, masih banyak kalangan di lingkup 
elite Parpol saat ini yang terkesan feodal dan kapitalis, sehingga menghambat 
demokratisasi.


Pakar politik alumni Program Pascasarjana Studi Ilmu Politik Universitas 
Indonesia (UI) ini mengatakan hal itu, mengamati sifat dan perilaku para elite 
yang sering tak sejalan dengan aspirasi rakyat, serta cenderung memanfaatkan 
mesin politik hanya untuk kepentingan diri serta kelompok elitenya. "Apa 
artinya ini semua? Jelas hal itu mengindikasikan konsolidasi demokrasi masih 
harus melawati dua kali pemilu lagi. Karena salah satu indikasi dari 
keberhasilan konsolidasi demokrasi adalah partai politik dikelola dengan baik," 
ujarnya. 


Kenly Poluan menilai, situasi masih kurang bagus, tak hanya monopoli partai 
politik (Parpol), tetapi institusi politik lainnya, tak terkecuali Komisi 
Pemilihan Umum (KPU). "Menurut pengamatan kami, situasinya sesungguhnya hampir 
sama di mana-mana, demikian pula dengan institusi politik lainnya seperti KPU. 
Jadi sama saja. Manajemen Pemilu KPU kurang bagus," ungkapnya. 


Keadaan ini, menurutnya, semakin memperparah proses demokratisasi politik dan 
bidang lainnya. Sementara itu, mengenai tujuan dari proses demokratisasi itu 
sendiri, Kenly Poluan menganggap bahwa itu tidak boleh menyimpang dari 
idealisme sejak awal negara ini didirikan. "Semua sudah cerdas menerjemahkan 
bahwa demokrasi itu hanyalah alat, atau proses menuju cita-cita kehidupan 
berbangsa dan bernegara yang adil, makmur, sejahtera, beradab dan damai. Bukan 
sebaliknya, demokrasi dan proses demokratisasi dijadikan tujuan merusak dan 
memporak-porandakan segalanya," ujarnya. (ant) 

Kirim email ke