Refleksi:  Pertanyaannya ialah :  apakah rakyat  memperoleh porsi besar?

http://www.kaltengpos.com/berita/index.asp?Berita=utama&id=51376

Selasa, 20 Januari 2009


RI Segera Jadi Produsen Gas Terbesar



JAKARTA - Masa oil boom bagi Indonesia sudah berlalu dua dekade silam. Namun, 
zaman keemasan itu diperkirakan bisa terulang. Wakil Presiden Jusuf Kalla 
optimistis Indonesia segera kembali menjadi kekuatan ekonomi berbasis energi di 
dunia. Tapi, komoditasnya bukan minyak bumi seperti era 1980-an, namun gas. 
''Saya optimistis Indonesia berjaya sebagai produsen gas alam cair terbesar di 
dunia. Satu dekade ke depan adalah masa Indonesia mengekspor gas. Saya yakinkan 
itu pada Anda,'' ujar Jusuf Kalla ketika membuka konferensi dan pameran 
internasional Forum Indogas 2009 di Jakarta Convention Center kemarin (19/1). 

Hadir dalam kesempatan itu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 
Purnomo Yusgiantoro, Wakil Direktur Utama PT Pertamina Iin Arifin Takhyan, 
serta sejumlah pebisnis migas nasional dan internasional. 

Kalla menegaskan, lapangan gas yang potensial untuk menjadikan Indonesia 
sebagai negara surplus energi, antara lain, Tangguh, Natuna, Selat Makassar, 
Masela, dan Senoro. Sejauh ini, lapangan gas yang telah dieksplorasi adalah 
Sumatera (Aceh, Jambi, Riau), Kalimantan (Bontang), dan Jawa (Cepu dan Laut 
Jawa). 

Menurut data Departemen ESDM, potensi cadangan gas Indonesia tercatat 190 
triliun kaki kubik (TCF). Sekitar 140 TCF merupakan cadangan terbukti dan baru 
90 TCF terikat komitmen kontrak. 

Eksploitasi ladang gas sudah dilakukan sejumlah perusahaan multinasional hampir 
separo abad. Dari Lapangan Arun dan Bontang, Indonesia bisa mengekspor gas ke 
Jepang dan Korea. Meski demikian, kedua lapangan itu diakui sudah menua 
sehingga tak bisa digenjot sebanyak dulu. ''Tanpa investasi baru, kita tidak 
bisa memproduksi dan mengekspor gas," katanya. 

Pada era 1970 sampai 1980-an yang dikenal dengan era oil boom, minyak bumi 
pernah menyumbang 90 persen pendapatan ekspor. Dengan kebutuhan energi dunia 
yang terus meningkat, posisi tawar Indonesia akan kembali meningkat. 

''Bila industri asing menggunakan gas Indonesia, industrinya harus dibawa 
mendekat ke sumber gas. Jadi, mereka harus datang untuk berinvestasi di 
Indonesia. Bukan seperti sekarang, kita yang kirim gas ke luar negeri," 
jelasnya. 

Selain mengekspor gas alam cair, Indonesia menggunakan sebanyak-banyaknya gas 
untuk industri dalam negeri. ''Selain devisa dari penjualan ekspor, bangkitnya 
industri dalam negeri akan menyerap tenaga kerja lebih banyak," katanya. 

Di dalam negeri sendiri, kebutuhan pupuk yang mencapai tujuh juta ton per tahun 
memerlukan kontinuitas pasokan gas. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan gas 
alam dengan program konversi bahan bakar minyak untuk retail dan pembangkit 
listrik. ''Kebutuhan gas untuk domestik dan ekspor cukup tinggi,'' ujarnya. 

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif, baik fiskal maupun kebijakan 
pendukung investasi lain, kepada investor. ''Saya yakinkan Anda, kebijakan di 
Indonesia akan menguntungkan negara dan Anda sebagai operator. Kita punya 
kebijakan yang bagus. Jangan ragu untuk investasi di sini,'' bujuk Kalla. 
(noe/owi/oki

Kirim email ke