Jawa Pos
[ Jum'at, 30 Januari 2009 ] 

Belajar Mengaku Kalah 


Setiap ada pemilihan pemimpin di negeri kita, sungguh sulit -untuk mengatakan 
tidak ada sama sekali- menemukan calon yang kalah berpidato langsung mengakui 
kekalahannya. Atau, mengucapkan selamat, baik langsung maupun melalui SMS, 
telepon, atau yang lain.

Sepertinya, proses gugat-menggugat -mencari kesalahan pihak lawan dan tidak 
mengkui kekalahannya-sudah mengakar kuat di negeri ini, mulai pemilihan Kades, 
cabup, hingga cagub. Jika sudah seperti itu, konflik antarkubu (baca: 
pendukung) tak dapat dimungkiri. Apalagi sampai terjadi pertumpahan darah.

Ada baiknya, agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pihak yang kalah 
dengan legawa menerima kekalahnnya dan mengucapkan selamat kepada pemenang. 

Setelah itu, pihak yang kalah bersama-sama melakukan rekonsiliasi untuk ikut 
serta mendukung berjalannya program kerja yang sudah dicanangkan.

Darussalam Djohan, PP Annuqayah Daerah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep

Kirim email ke