http://202.169.46.231/spnews/News/2009/01/31/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Perpecahan Duet SBY-JK Tak Ada Teman Abadi dalam Politik [MEDAN] Saling mengklaim keberhasilan pembangunan, seperti yang terlihat antara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Muhammad Jusuf Kalla (JK) bisa menimbulkan perpecahan di tubuh pemimpin negara. Hal itu merupakan bukti bahwa dalam dunia perpolitikan tidak ada teman yang abadi. "Peluang munculnya perpecahan antara kedua pemimpin bangsa yang saling mengklaim itu sangat besar kemungkinan terjadi. Perpecahan akibat saling klaim itu pun, bila memang sudah terjadi, juga sangat lumrah," ujar pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Wara Sinuhaji kepada SP di Medan, Sumatera Utara (Sumut), Jumat (30/1). Dia menganggap hal yang wajar bila SBY menyatakan dalam iklan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) sebanyak tiga kali merupakan hasil kerja Partai Demokrat, dan JK menyebutkan ekspor beras adalah hasil kerja keras Partai Golkar. Tujuan kedua pemimpin bangsa tersebut untuk membesarkan nama partai yang mendukung mereka. "Kedua pemimpin bangsa ini belum tentu berpasangan kembali. Tentunya, mereka melihat dulu hasil pemilihan anggota legislatif mendatang. Keduanya pasti tidak mau dirugikan saat pemilihan presiden nanti," ujarnya. Apalagi, katanya, koalisi yang mulai terlihat saat ini belum bersifat permanen. Koalisi yang permanen baru akan dilakukan setelah melihat hasil suara pemilihan legislatif. Sinuhaji memastikan, saling mengklaim keberhasilan pembangunan tidak hanya muncul di antara kedua pemimpin bangsa ini. Sebaliknya, para menteri yang tergabung dalam susunan Kabinet Indonesia Bersatu juga dipastikan mengklaim keberhasilan dalam pembangunan ini berkat kerja keras dari partai masing-masing. Pengamat politik dari Universitas Indonesia Ibramsyah mengingatkan para elite politik untuk beriklan dengan benar. Iklan politik yang muncul menjelang pemilu dianggap sekadar sebagai gurauan dan mengarah ke penjungkirbalikan fakta tanpa menyertakan fakta empiris. Menurutnya, iklan politik seperti itu dapat menciptakan kebohongan publik. "Sudah saatnya muncul kritik yang cerdas terhadap iklan seperti itu. Kampanye politik hendaknya jangan berwacana di awan," ujarnya dalam diskusi bertema Mengukur Peluang Capres Non-Incumbent di Jakarta, kemarin. Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Effendi Simbolon membantah kesan bahwa terjadi pengeroyokan terhadap SBY saat ini. Yang terjadi, ujarnya, adalah kekecewaan orang-orang yang sebelumnya mendukung dan kini ditinggalkan SBY. Orang-orang yang meninggalkan SBY, ujarnya, ada yang membuat parpol baru atau lari ke kubu Megawati Soekarnoputri. Ketua Fraksi Partai Demokrat Syarif Hasan mengaku tidak terpengaruh dan tidak mau menggubris tudingan miring yang ditujukan ke partainya. Namun, Partai Demokrat merasa perlu memberikan tanggapan bila bentuk kampanye yang muncul adalah kampanye hitam. "Polemik yang terjadi sekarang tidak mendidik dan lari dari substansi," ujarnya. Sedangkan, Ketua DPP PKS Zulkiflimansyah menyatakan, akar rumput menginginkan ada calon presiden baru yang muncul ke permukaan, di tengah masih kuatnya sosok Megawati dan SBY. Meski demikian, dia mengakui kalau koalisi PKS dan PDI-P akan serius untuk dipertimbangkan. Sementara itu, pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendi Gazali, di Jakarta, Jumat siang mengatakan, masyarakat akan menganggap klaim Partai Demokrat dan Partai Golkar atas kinerja pemerintah sebagai bentuk dikotomi dalam tubuh penguasa. Secara psikologis, klaim itu juga berpengaruh terhadap performa pemerintah dalam sisa waktu sembilan bulan ke depan. "Masyarakat bisa tertawakan ini, karena mereka sebetulnya berkoalisi," ujar Effendi. Ia mengakui, upaya klaim adalah sindrom partai-partai penguasa. Bisa saja, ke depan muncul iklan-iklan politik serupa dari sejumlah partai penguasa lain. [AHS/ASR/NCW/O-1] -------------------------------------------------------------------------------- Last modified: 31/1/09
