http://www.sinarharapan.co.id/berita/0901/31/kesra03.html
Selasa Sore di Kolong Jembatan Ampera PALEMBANG-Salah satu faktor yang menyebabkan H Alex Nurdin memenangkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumatera Selatan (Sumsel) adalah keberhasilannya menggratiskan sekolah sampai SMU dan pengobatan gratis bagi warga Kabupaten Musi Banyu Asin (Muba) yang dipimpinnya. Setelah ia menjadi Gubernur Sumsel dengan mengalahkan gubernur sebelumnya, Syahrial Oesman, Alex meningkatkan programnya menjadi berobat gratis untuk warga Sumsel sejak 21 Januari 2009 dan diresmikan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pada 27 Januari. "Mulai Juni, kami akan meresmikan program sekolah gratis sampai SMU se-Sumsel. Saat ini, petunjuk pelaksanaannya tengah digodok," janji Alex Nurdin saat menjamu makan malam sejumlah wartawan Jakarta di Restoran Liberty, Palembang. Pria kelahiran Palembang, 9 September 1950 itu memang telah menjadi tokoh yang populer. Ide-idenya untuk membantu meringankan beban rakyat kecil telah terdengar hingga seluruh pelosok Nusantara. Namun sesungguhnya, untuk mewujudkan ide tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sejak terpilih menjadi Gubernur Sumsel, 81 hari lalu, ia melakukan safari untuk meyakinkan 15 bupati dan DPRD tentang pentingnya berobat gratis bagi seluruh rakyat. Hasilnya, semua setuju. Padahal, jika ada satu saja yang menolak, ide itu gagal atau tak akan terwujud. Ia sempat berjanji akan mengundurkan diri jika gagal mengegolkan program berobat gratis di Sumsel dalam tempo tiga bulan atau 90 hari. Namun ternyata, baru dalam tempo 81 hari, semua bupati dan DPRD telah menyetujuinya. "Apa boleh buat, risiko harus saya ambil. Kalau tidak begitu, kita akan statis, tidak dinamis, yang miskin tetap miskin dan tidak mendapatkan perhatian," ujar pria jebolan Universitas Atmajaya Jakarta dan Universitas Trisakti Jakarta itu. Berobat Gratis Peresmian program berobat gratis se-Sumsel dilakukan di kolong Jembatan Ampera, Selasa (27/1) sore lalu oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang telah diundang Alex Nurdin ke sana. Kolong jembatan identik dengan tempat tinggal kaum papa. "Seharusnya pemimpin memang begitu. Mereka yang mendatangi kami, bukan kami yang mendatangi mereka. Kalau kami yang mendatangi pemimpin, pasti repot, pasti kami dihalau oleh pengawalnya. Lebih mudah, pemimpin yang mendatangi kami," kata Mimin (45), warga 19 Ilir, yang datang ke tempat peresmian sekaligus untuk berobat batuk dan pilek yang dideritanya. Mimin mengaku sebenarnya ia bisa saja berobat di Puskesmas dengan membayar Rp 2.000. Namun, bagi rakyat kecil seperti dirinya, uang Rp 2.000 besar artinya. "Dengan berobat gratis ini, uang itu bisa saya gunakan untuk keperluan lain," ujar Mimin. Komentar serupa dilontarkan Upik (64). Nenek dari empat cucu warga 14 Ilir ini mengaku senang dengan adanya program berobat gratis. "Kalau bisa, jangan cuma berobat gratis, tapi juga sembako gratis. Pasalnya, kami sudah tua dan tidak mampu lagi mencari uang," kata Upik, disambut anggukan rekan sebayanya, beberapa janda tua yang tidak memiliki penghasilan cukup. Tapi nanti kan ada program sekolah gratis? "Betul. Tapi walaupun sekolah gratis, kami harus menyediakan seragam dan ongkos untuk anak-anak. Setelah lulus, apakah mereka pasti mendapat pekerjaan?" kata nenek yang termasuk cerdas itu. Ucapan Upik dibenarkan Juriah (44 tahun), warga 10 Ulu, yang juga datang ke situ sebagai salah satu dari 5.000-an warga yang serentak ingin berobat gratis. "Saya bukannya tidak bersyukur dengan adanya berobat gratis ini, tapi perut harus dikenyangkan dulu," katanya. Belum Terlindungi Alex Nurdin mengakui, 60 persen warga Sumsel belum dilindungi dengan program kesehatan pemerintah dan perusahaan swasta. Baru 40 persen warga yang terlindungi program asuransi kesehatan. "Makanya, target kita adalah melayani 60 persen warga Sumsel miskin itu dengan jaringan kesehatan," tuturnya. Anggaran dana untuk Dinas Kesehatan Sumsel pada RAPBD tahun 2009 nanti sebesar Rp 350 miliar lebih, yang diprioritaskan bagi pelayanan berobat gratis. "Khusus pelayanan berobat gratis masyarakat Sumsel semesta kita cadangkan sebesar Rp 240 miliar," kata Ketua Komisi IV DPRD Sumsel, Sartimin. Sumsel berpenduduk 7,6 juta jiwa dan sebagian besar hidup dalam kemiskinan. Padahal, Sumsel merupakan provinsi yang kaya akan sumber daya alam, termasuk minyak, gas, dan batu bara yang belum digarap secara maksimal. "Insya Allah, tiga tahun ke depan, jumlah rakyat miskin di Sumsel akan berkurang," kata Alex yang tugasnya makin banyak setelah menjadi gubernur. (isyanto
