http://www.sinarharapan.co.id/berita/0901/31/sh01.html

  
Wiranto: SBY Harus Introspeksi  

Oleh
Wishnugroho Akbar



Jakarta - Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto mengaku tidak 
ambil pusing dengan segala spekulasi yang menyelubungi isu ABS ("Asal Bukan 
Capres S"). Isu itu bisa muncul karena rekayasa politik. Namun, bisa juga 
sebagai akibat dari kondisi nyata yang terjadi di lapangan saat ini. 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) seharusnya bisa memanfaatkan isu ABS 
sebagai bahan introspeksi mengevaluasi kinerja selama drinya memerintah. 


"Lebih baik introspeksi. Apakah selama masa pemerintahan, dia berhasil 
meningkatkan kesejahteraan prajurit dan keluarga prajurit. Apalagi dengan 
kebijakannya yang menghapus bisnis TNI. Jelas itu memengaruhi kesejahteraan 
prajurit. Keluarga prajurit kan rakyat biasa juga," kata Wiranto kepada SH di 
Jakarta, Sabtu (31/1), terkait pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
soal isu ABS, meski Presiden sendiri tak mempercayai kebenaran isu itu.
Wiranto menyarankan Presiden tidak membuang waktu mencari siapa dalang yang 
mengembuskan isu itu.  Ketika diminta pendapatnya terkait dengan kebenaran isu 
ABS, Wiranto menolak untuk menjawab sejauh mana kebenaran isu itu. Dia 
mengatakan tidak ingin terlibat jauh dalam isu ABS.


Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan, isu itu sebagai 
strategi Presiden meraih simpati publik. Melalui isu tersebut, Yudhoyono yang 
juga menjadi calon presiden (capres) Partai Demokrat, mencoba membentuk citra 
sebagai sosok yang terzalimi, agar masyarakat bisa mengasihaninya sebagaimana 
pada Pemilu 2004. "Isu ini sangat kental dengan motif pencitraan diri, yakni 
Yudhoyono dizalimi seperti dulu, demi merebut simpati masyarakat," ungkap Fadli 
Zon saat dihubungi SH, Sabtu.

Tak Terlibat Isu
Lebih jauh, Fadli Zon menilai tidak sepatutnya Presiden mempublikasikan isu itu 
ke publik dan TNI dan Polri. Hal itu tidak hanya dapat menimbulkan spekulasi 
dan keresahan, tapi juga bisa memecah belah TNI dan Polri. Seharusnya, Presiden 
menaruh kepercayaan terhadap TNI dan Polri aktif.
Menurutnya, perubahan sistem politik telah membuat institusi TNI dan Polri 
makin profesional dalam menjaga komitmen mereka untuk tidak terlibat dalam 
politik praktis. Namun, Fadli Zon mengingatkan, larangan keterlibatan politik 
praktis tidak lagi berlaku untuk kalangan purnawirawan. Artinya, para 
purnawirawan dibebaskan melakukan manuver politik apa pun sejauh tidak 
melibatkan institusi TNI dan Polri. 


Dia juga menerangkan, bahwa Partai Gerindra sama sekali tidak terlibat dengan 
isu ABS, dan tidak merasa dipojokkan dengan isu tersebut. Fadli Zon berani 
menjamin di dalam tubuh Gerindra tidak akan pernah ditemukan anggota partai 
yang masih aktif terlibat di TNI dan Polri.


Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengatakan, 
pernyataan Presiden soal ABS itu untuk menegaskan bahwa TNI dan Polri harus 
netral pada Pemilu 2009. Hal itu sama sekali bukan bentuk kekhawatiran Presiden 
Yudhoyono bahwa institusi militer akan menelikung dirinya.
"Pak Yudhoyono itu cara berpikirnya tertib. Beliau tidak ingin tentara atau 
polisi ikut dalam permainan politik pemilu," ujar Anas di Blitar, Jawa Tengah, 
ketika dihubungi SH, Jumat (30/1). 


Menurut Anas, sebagai Presiden Yudhoyono sudah berkali-kali menegaskan agar TNI 
dan Polri netral. Dalam hal ini, Presiden bepikir loyalitas tentara dan polisi 
seharusnya untuk kepentingan negara. "Oleh karena itu, TNI dan Polri harus 
menjadi institusi yang netral dan profesional," paparnya.
Mengenai dampak perkataan Presiden yang bisa menimbulkan preseden buruk di 
masyarakat, Anas mengatakan, hal itu juga untuk mengingatkan publik. 
Menurutnya, sesekali publik juga perlu diingatkan dan paham kalau institusi TNI 
dan Polri harus netral. Dengan demikian publik mengetahui posisi kedua 
institusi itu sehingga tidak menarik-narik TNI dan Polri ke dalam kepentingan 
politik. "Publik harus menghormati, kenetralan TNI dan Polri, dan jangan 
berusaha menarik-narik mereka ke dalam kepentingan politik," tuturnya. 

Sementara itu, pengamat militer LIPI Jaleswari Pramodharwardani memandang 
pernyataan Presiden sebagai indikasi masih kuatnya kecenderungan 
ketidaknetralan di tubuh TNI dan Polri. Apalagi dalam konteks politik menjelang 
pemilu, menurutnya, sangat mungkin ada oknum purnawirawan TNI yang berusaha 
menarik institusi TNI ke ranah politik praktis. Menurutnya, hingga saat ini 
masih banyak politisi yang menganggap institusi TNI dan Polri sebagai institusi 
yang penting untuk dilibatkan secara politik. Untuk itu, kemungkinan 
keterlibatan kelompok sipil dan purnawirawan yang saat ini aktif di banyak 
partai politik, tetap terbuka dalam mengembuskan isu ABS. 

Cegah Polarisasi
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Hanura Yus Usman Sumanegara mengatakan, 
wajar bagi seorang Presiden mengingatkan bawahannya untuk tidak berpihak pada 
parpol apa pun. Justru, dengan pernyataan itu, Presiden berusaha mencegah 
terjadinya polarisasi di tubuh TNI dan Polri yang sangat rentan dipengaruhi 
secara politis.


"Memang, seharusnya begitu agar tidak memecah belah, ya TNI dan Polri memang 
harus diingatkan untuk tetap netral," kata Yus.
Mewakili Hanura, Yus juga membantah adanya keterkaitan Partai Hanura dengan isu 
ABS. Partai Hanura, kata Yus, tidak memiliki kedekatan institusional dengan 
kalangan militer dan Polri, meskipun banyak anggota partai yang pernah menjadi 
petinggi TNI dan Polri. 
Sementara itu, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani menyesalkan pernyataan Presiden 
Yudhoyono terkait dengan isu ABS di kalangan militer. Padahal, Presiden sendiri 
tidak dapat memastikan kebenarannya. "Kami menyesalkan Presiden menanggapi isu 
yang dia sendiri tidak tahu kebenarannya," jelas Muzani.


Gerindra menilai pidato yang disampaikan Yudhoyono membuktikan dirinya bukanlah 
sebagai negarawan tapi masih seorang politisi. Gerindra pun mempertanyakan, 
Presiden yang memiliki kewenangan atas Badan Intelijen Negara. Soal tentara dan 
Polri setiap saat bisa dicek kebenarannya, tapi dalam hal ini Presiden 
mengembangkan sendiri, dan lalu dibantah sendiri. "Kalau demikian, Presiden itu 
masih seorang politisi, bukan negarawan," kata Muzani.(ninuk cucu suwanti/vidi 
vici

Kirim email ke