Refleksi:  Apakah bukan sendirwara dansa-dansi  poco-poco diiringi perrmainan 
yoyo?

http://cetak.kompas.com:80/read/xml/2009/02/02/00281583/drama.politik.pdi-p


Drama Politik PDI-P
M Alfan Alfian

Senin, 2 Februari 2009 | 00:28 WIB 
Meski Rapat Kerja Nasional Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Solo (27-29 
Januari) menyita perhatian, misteri calon wakil presiden belum terjawab tuntas.
Terlalu banyaknya nama yang disebut justru membuat sosok sang pendamping yang 
dikehendaki kian misterius. Rakernas itu juga meninggalkan sindiran khas 
Megawati, sebagai pihak "oposisi", bahwa pemerintah seperti tengah bermain yoyo.

PDI-P amat yakin dapat mencalonkan presidennya sendiri. Megawati diperkirakan 
bakal "berduel seru" berhadapan dengan pesaing "bebuyutan" Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY), jago Partai Demokrat. Bagi Mega dan SBY, Pemilu Presiden 2009 
adalah, meminjam judul novel Ernest Hemingway, A Farewell to Arms, "pertempuran 
penghabisan". Namun, bagaimana jika ada pesaing lain yang menjadi kuda hitam 
dan mampu mewujudkan wacana koalisi alternatif? Tentu persaingan akan menjadi 
lebih kompleks dan itu bukan tak mungkin.

Faktor cawapres

Dalam berebut dukungan, faktor calon wakil presiden (cawapres) tidak dapat 
disepelekan, kalau bukan justru amat menentukan. Maka, berkembanglah asumsi 
utama, cawapres masing- masing akan menentukan kemenangan. Dengan catatan, jika 
mereka saling memperkuat, bukan menegasikan.

Asumsi SBY sebagai sosok yang sudah populer dan "pasti menang" dengan atau 
tanpa Jusuf Kalla bisa terpatahkan oleh kekuatan Megawati seandainya mampu 
berpasangan dengan cawapres yang tepat sehingga lebih diapresiasi lebih positif 
oleh pemilih. Mengingat cawapres amat menentukan, tampaknya ini yang membuat 
"dua pendekar" itu saling menunggu siapa yang bakal digandeng sebagai pasangan.

Pasca-Rakernas Solo, publik dipaksa menunggu lebih lama atas jawaban misteri 
pendamping Megawati. Seperti kisah-kisah wayang, PDI-P memang seolah sedang 
membuka "sayembara memperebutkan pendamping sang putri". Beberapa nama telah 
disebut, manuver demi manuver terjadi. Anas Urbaningrum (Partai Demokrat) 
menyindir sebagai "shopping politik". Bagaimanapun, itulah bagian dari realitas 
proses politik PDI-P.

Hitung-hitungan politik dilakukan secermat mungkin karena kontes politik pemilu 
presiden ditentukan banyak variabel. Pemenangnya tidak serta-merta. Perang 
citra (klaim) sudah pasti untuk memengaruhi persepsi masyarakat agar memberi 
dukungan.

Kontribusi dan pengaruh para elite utama di seputar Megawati akan menentukan 
pilihan akhir, terlepas dari pertimbangan yang berbeda-beda atas jago-jago yang 
hendak dipasangkan. Faktor suara arus bawah yang didengar di Rakernas Solo juga 
penting. namun, faktor Megawati sendirilah yang tetap utama.

Masa depan PDI-P

PDI-P dan partai-partai lain semakin dihadapkan pada tantangan kian berat dalam 
Pemilu 2009. Kompetitor kian beragam dan berimpitan. Kendala PDI-P dan partai 
lain yang semula yakin pada aturan nomor urut adalah telanjurnya komposisi 
calon anggota legislatif (caleg) ditetapkan secara subyektif. Padahal, Mahkamah 
Konstitusi membatalkan ketentuan nomor urut itu dan menegaskan caleg terpilih 
berdasarkan suara terbanyak. PDI-P dihadapkan pada "pasar bebas politik" dan 
amat riskan dengan fenomena banyaknya caleg "salah letak".

Meski demikian, simbol dan ikon khas PDI-P masih bertahan di tengah rumitnya 
medan politik. Moncong putih masih mendengus menggelorakan slogan membela "wong 
cilik", dengan ikon sang ibu bijak Megawati, justru di tengah realitas 
keluarnya sejumlah elite internal partai yang lantas mendirikan Partai 
Demokrasi Pembaruan.

Terlepas dari kesangsian bahwa PDI-P masih moncer, positioning politiknya tidak 
sedilematis Partai Golkar yang belakangan terkesan tertatih-tatih dalam 
menetapkan tema kampanye yang efektif.

PDI-P punya modal histori dan sebagai "partai oposisi" berpeluang menjadi 
alternatif utama bagi yang tidak suka dengan gaya dan kebijakan pemerintah. 
Meski demikian, rakyatlah yang bakal menentukan nasib partai yang dipimpin 
putri Bung karno ini.

M Alfan Alfian Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta

Kirim email ke