=================================================  
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center] 
Seri : "Membangun spirit, demokrasi, konservasi sumber daya, 
           nasionalisme, kebangsaan dan pruralisme Indonesia."  
================================================= 
[Spiritualism, Nationalism, Resources, Democration & Pruralism Indonesia 
Quotient] 
Menyambut Pesta Demokrasi 5 Tahunan - PEMILU 2009.  
"Belajar menyelamatkan sumberdaya negara untuk kebaikan rakyat Indonesia." 
  
Cegah Negara Salah 
Kebebasan Pers Dijamin 
Selasa, 10 Februari 2009 | 02:56 WIB 
Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan, paham dan 
pendirian umum mengenai ”benar atau salah negara saya” (right or wrong it is my 
country) yang dianut seluruh rakyat harus membuat seluruh rakyat, terutama 
pers, tidak membiarkan negara berbuat salah. 
”Karena benar atau salah adalah negara kita, mari kita buat negara kita berbuat 
benar. Jangan biarkan berbuat salah, bikin benar,” ujar Presiden dalam 
peringatan Hari Pers Nasional di Jakarta, Senin (9/2). 
Ungkapan itu diambil Presiden dari tulisannya yang diterbitkan pada September 
1999 tentang masalah Timor Timur. Menurut dia, dalam posisi dilematis yang 
kerap dihadapi, seperti ketika menghadapi masalah Timor Timur, right or wrong 
it is my country dan right is right, wrong is wrong tak perlu didikotomikan. 
Sebelum sampai pada pesan agar jangan membiarkan negara berbuat salah, Presiden 
menceritakan empat kisah mulai dari zaman Konfusius sampai kisah rekaan dalam 
film Rambo (First Blood). Pesan moralnya ditujukan untuk pers, demokrasi, dan 
pemilihan umum, yaitu tentang kebenaran kecil, kebenaran besar, dan kecintaan 
pada negara. 
Bagi Presiden, siapa pun anggota legislatif dan presiden yang terpilih dalam 
Pemilu 2009 adalah kebenaran kecil. Kebenaran besarnya adalah Pemilu 2009 
berjalan aman, tertib, jujur, adil, bebas, dan demokratis. Hasil Pemilu 2009 
hanya tujuan antara, sementara tujuan utamanya adalah yang terpilih dapat 
menjalankan kewajibannya memajukan Indonesia. 
Sebelum Presiden tampil, Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh 
memberi sambutan soal jaminan tidak akan adanya pembredelan terhadap media. 
Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Margiono menegaskan, 
wartawan adalah warga negara biasa yang harus taat hukum dan tidak kebal 
terhadap tindakan hukum. Penegasan itu disampaikan karena dalam aksi kekerasan 
di DPRD Sumatera Utara ada tiga wartawan anggota PWI yang terlibat di dalamnya 
dan saat ini tengah diperiksa polisi. 
Medali emas 
Dalam peringatan Hari Pers Nasional itu, penghargaan Adinegoro diberikan kepada 
Muhammad Nur, Spirit Jurnalisme kepada Dahlan Iskan, dan medali emas kepada 
Tentara Nasional Indonesia serta Yudhoyono. 
TNI dan Yudhoyono dinilai sebagai instansi dan tokoh berpengaruh sangat luas 
untuk bangsa dan negara dan selalu menggunakan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 
1999 tentang Pers ketika bermasalah dengan pemberitaan. TNI sepanjang 2008 
dinilai sebagai instansi yang paling banyak menggunakan hak jawab. 
Terhadap medali emas yang diberikan oleh Jakob Oetama ini, Yudhoyono 
mengucapkan terima kasih. ”Saya ingin menjadi bagian dari makin kuatnya 
kebebasan pers. Saya akan terus menjadi student of democracy yang baik,” 
ujarnya. (INU) 
-------- 
  
Catatan Penting Untuk Negara Indonesia 
Menjelang pesta demokrasi pemilu 2009, rakyat Indonesia merasakan beberapa 
peristiwa penting terkait erat dengan eksistensi negara, yang harus terus 
dipikirkan, dan dicarikan jalan keluarnya, beberapa diantaranya; 
Bagaimana dengan peristiwa mobokrasi – yakni kekuasaan yang dikendalikan oleh 
kerumunan, masih berkeliaran di pojok ruangan kita, kekuatan kotor kerumunan 
massa di Medan mengorbankan ketua DPRD Sumatera Utara Abdul Aziz gugur sebagai 
pahlawan demokrasi yang baru. 
Bagaimana dengan Stimulus BLBI 1998 yang seharusnya bisa ditelusuri namun 
selalu saja mampat, sehingga diperlukan semacam mobil penyedot.... 
Bagaimana dengan pendekar hukum yang tak kapok menjual-belikan keadilan. 
Bagaimana pilkada gubernur Jawa Timur bisa berlangsung sukses dan baik, namun 
tidak harus menghambur-hamburkan uang Negara ber-puluh2 milyar. 
Bagaimana dengan bandara Ahmad Yani di semarang dan beberapa tanggul sungai 
jebol akibat banjir bisa segera ditanggulangi. 
Bagaimana agar menuju bandara Soekarno Hatta segera dihubungkan dengan jalan 
lanyang dari Jakarta, agar lepas dari banjir. 
Bagaimana Jakarta segera memiliki poros kanal Timur, Utara, Selatan dan Barat, 
sehingga Jakarta 5 tahun lagi lebih nyaman, lepas dari banjir. 
Bagaimana masalah Lumpur lapindo tidak juga segera tuntas, sehingga tertimbun 
lumpur polemik Pilkadagub Jatim dan pemilu menjelang. 
Bagaimana infrastuktur yang rusak di penjuru kota, desa, tanah air dan di 
penjuru Negara bisa segera dipermulus dengan dorongan gelontor dana stimulus 
fiskal saat ini. 
Bagaimana dengan PHK ribuan karyawan pabrik akibat perusahaan dilanda krisis 
keuangan nasional dan global. 
Bagaimana rakyat dapat menyumbangkan suara terbaiknya kepada Negara, dengan 
cara meilih calon legislatif yang jujur, berkualitas, dan mau bekerja keras 
untuk kemajuan dan kepentingan rakyat. 
Bagaimana penggusuran rakyat kecil dapat dilakukan dengan konpensasi yang 
pantas dan lebih manusiawi. 
Bagaimana dengan praktik korup para birokrat dan di banyak institusi yang sudah 
‘melembaga’ selama ini, yang akhirnya tidak sadar telah merusak mental, 
integritas, semangat perjuangan kehidupan satu dua generasi bangsa dan Negara 
Indonesia. 
Bagaimana dengan kemiskinan sebagian besar rakyat Indonesia selama ini. Sebagai 
korban kebijakan Negara, terpinggirkan dan tidak dalam jangkauan tangan 
pembangunan Negara. 
Bagaimana dengan pendidikan, kesehatan dan perumahan masyarakat di sebagian 
pelosok negeri ini. 
Bagaimana dengan limpahan energi matahari Indonesia yang tak habis2nya, namun 
setiap hari pun banyak terbuang sia-sia? 
Bagaimana dengan bukit-bukit yang terus digerogati penambang, pengelola hutan, 
digerus erosi sehingga saat hujan seperti ini, longsor menimpa sebagaian 
penghuninya. 
Bagaimana dengan mekanisasi energi angin dapat segera dimanfaatkan 
sebesar-besarnya di segala penjuru pantai, yang sambung menjambung Indonesia 
menjadi satu. 
Bagaimana dengan ribuan hektar lahan produktif yang menganggur, oleh karena 
mental masyarakat Indonesia yang sudah biasa instan/jalan pintas – mendapat 
hasil tanpa mau berkeringat – hanya digarap yang ada mineral dan tambangnya – 
itupun dilego kepada pihak asing. Itulah kesalahan mendidik mental diri dalam 
setiap pribadi insan Indonesia. 
Bagaimana perusahaan-perusahaan negara/swasta di jual kepada pihak asing hanya 
untuk memperoleh secuil dana instan, syukur2 bagi rakyat. 
Bagimana mengubah mental manusia Indonesia, bahwa bekerja dan kinerja itu 
merupakan budaya dan spirit bangsa Indonesia. Dan salah besar bila selama ini 
bahwa bisa berleha-leha – itu dianggapnya adalah prestise! 
Lembaga DPR, jangan lagi ditempati oleh para legislatif pembolos, korup, suka 
mangkir dan tidur di saat sidang…. Karena semua itu akan menusuki hati nurani 
rakyat! Tidak beradab, memalukan dan menyakitkan! 
DPR juga bukan untuk tempat dan sarana untuk berleha-leha, tetapi merupakan 
wahana untuk bekerja keras memikirkan nasib rakyat dan negara Indonesia saat 
ini dan ke depan, dengan waktu yang sangat terbatas, 5 tahun. 
  
Itulah sebagian lintas peristiwa yang telah memilukan masyarakat Indonesia 
selama ini, khususnya teringat kembali menjelang pemilu saat ini. 
Maka jangan sampai hasil pemilu 2009 nantinya benar-benar akan memilukan rakyat 
Indonesia. Namun hendaklah justru akan memilukan para pemimpin dan negarawan 
terpilih. Karena apabila hati dan pikiran mereka sudah pilu maka merekapun 
benar-benar terpanggil untuk memimpin, membina, dan melakukan yang terbaik bagi 
rakyat dan Negara Indonesia sekarang dan ke depan. 
Memang pemilu kali ini tentu akan memilukan hati bagi calon yang tidak 
terpilih…oleh karena berbagai hal… 
Maka kepada yang terpilih pun jangan terus berubah ke bentuk aslinya, menjadi 
pemalu… [maksudnya:tukang palu], karena Anda sudah dipilih rakyat untuk 
mengemban amanah rakyat, bukan untuk mengemban palu bagi hati nurani rakyat…. 
sehingga dalam praktiknya justru lebih sering memilukan rakyat. 
Nah kalau kita mengikuti prestasi Obama, eh maksud saya kiprah Muhammad Ponari 
bocah 9 tahun, yang sekarang sedang berpraktik di kediaman orang tuanya di 
Kedungsari, Jombang… seperti itulah yang semestinya dilakukan oleh wakil rakyat 
di parlemen. Walaupun berbeda bidang, namun pada prinsipnya sama; menyembuhkan, 
menguatkan, membuat jalan keluar dari kemiskinan menuju kesejahteraan dengan 
prestasi, semangat untuk memajukan rakyat disekitarnya. Mungkin ia memang sudah 
digariskan dari yang di atas untuk mengemban amanah mesianis. Karena Yang Maha 
Kuasa memang masih mengasihi dan menyangi masyarakat di Indonesia, dimana pun 
kita berada.   
Semua catatan itu, marilah kita gumuli, gulati, cermati dan sadari, .... bahwa 
semua itu memang perlu perhatian dan jalan keluarnya, yang akhirnya tidak lain 
hanya lah untuk kebaikan rakyat dan Negara Indonesia, saat ini dan di masa 
depan. 

Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat! 
Best Regards, 
Retno Kintoko 
  
The Flag 
Air minum COLDA - Higienis n Fresh ! 
ERDBEBEN Alarm 



 
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3 
 


      

Kirim email ke