Refleksi : Kalau di Jakrta tak jauh istana merdeka, untuk  anak keluarga  
miskin  dibuat  "sekolah" dibawah kolong jembatan (tol) oelah tenaga relevan, 
maka tidak mengherankan jika keadaan pendidikan di pedalaman Papua suram.   
Lagu  untuk  menghibur : http://www.youtube.com/watch?v=6aRuqozNMmQ



http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/06/nus02.html

Potret Suram Pendidikan di Pedalaman Papua

Oleh
odeodata h julia



WAMENA - Sekelompok bocah bertelanjang kaki menyambut kedatangan kami dengan 
riang dan senyum polos. Pakaian yang dikenakan pun seadanya. 

"Sudah pulang sekolah kha," tanya kami. "Sudah," jawab mereka kompak. Umur 
mereka sekitar lima enam tahun. Di antara bocah-bocah prasekolah itu ada juga 
anak-anak usia bangku sekolah dasar. Kemudian dengan bangganya mereka mengantar 
kami naik ke sebuah bukit kecil untuk melihat tempat belajar mereka. 
Namanya Sekolah Belajar Anak (SBA). Kalau di kota besar menyebutnya play group. 
Bentuknya mirip sebuah honay (rumah adat Wamena). Namun, tidak seperti play 
group di perkotaan yang lengkap dengan sarana permainan plus alat-alat kegiatan 
belajar-mengajarnya.


Tetapi, di SBA semuanya serbaminim. Selusin spidol satu per satu dibagikan oleh 
sang guru untuk dipakai bersama-sama. Kertas tulisnya pun hanya sebuah karton 
manila yang digunting. Tidak ada buku tulis yang dipakai untuk mereka. 
Sebenarnya ada sebuah white board hasil pembagian, tetapi sudah hilang entah ke 
mana. Sarana bermain pun hanya sebuah prosotan sederhana yang terbuat dari 
kayu. 


Terletak di Kampung Wetlangko Distrik Kurulu, SBA ini memang diperuntukkan 
anak-anak usia 5 tahun. Uniknya sekolah yang didirikan Wahana Visi Indonesia 
(WVI) ADP (Area Development Program) Kurulu sejak 2007 itu juga sering dipenuhi 
anak-anak SD kelas I dan II. "Mereka anak-anak kelas I dan II. Tetapi karena 
sekolah mereka di SD Inpres Wedangku jauh dari kampung, jadi mereka sering 
datang belajar di sini. Guru mereka juga jarang masuk mengajar," ujar Hengky 
Kombo, satu-satunya guru di SBA ini. Hengky sebenarnya bukanlah seorang guru. 
Ia tamatan sekolah Alkitab. Tetapi, karena didorong rasa ingin memajukan 
pendidikan di daerahnya, ia sukarela ikut membantu. 


Lain lagi cerita ini. Saat berada di Kota Wamena, ibu kota Kabupaten 
Jayawijaya, kami bertemu dengan sekelompok anak-anak usia sekolah yang 
keluyuran saat jam sekolah. Kepada kami mereka mengaku masih SD. Tetapi saat 
ditanya kenapa tidak sekolah, jawabannya sungguh mengagetkan. "Untuk apa 
sekolah, bu guru saja tra pernah masuk," ujar mereka dengan nada santai bahkan 
seolah-olah menertawakan pertanyaan saya. Lain kisah Otinus Komba dan Peres 
Asso asal Kampung Anggruk, Kabupaten Yahukimo Papua. Moto kejarlah ilmu sampai 
ke negeri China, sepertinya cocok buat keduanya. 


Kedua anak usia 11 tahun ini rela berjalan kaki selama tiga hari tiga malam 
untuk sampai ke Kampung Maima, Distrik Kurima Kabupaten Jayawijaya sekadar 
dapat bersekolah di Elementary School Advent atau SD Advent Maima. "Kita dengan 
bapak misionaris jalan kaki. Kitong (kita) ada tujuh orang jalan kaki semua. 
Kalau malam, kita tidur di gua-gua. Trus makannya sudah bawa dari rumah. Tapi 
tong (kami) juga masak di jalan," cerita keduanya. Otinus dan Peres mengaku 
sebenarnya di tempat mereka ada sebuah SD, tetapi lagi-lagi gurunya yang tidak 
pernah ada. "Ibu guru ke Wamena, jadi di sekolah tidak ada guru," ujarnya.


Karena sekolah mereka jauh dari rumah, kedua bocah lugu ini tinggal di asrama 
yang disediakan sekolah. Itulah potret suram pendidikan di pedalaman Papua. 
Hampir semua muridnya mengadu kalau guru mereka tak pernah masuk sekolah. Para 
guru lebih memilih ke kota daripada mengajar di pedalaman terpencil. 

Butuh Pengabdian
Sebuah sumber yang sering bergaul dengan masyarakat juga ikut berbicara. Ia 
menuturkan kehidupan para guru di pedalaman selalu bergelut dengan utang di 
atas utang. "Mereka itu sering kredit-kredit. Jadi begitu akhir bulan 
penghasilan yang diterima sangat minim. Bahkan, ada yang terima hanya Rp 17.000 
per bulan. Bayangkan hidup di pedalaman dengan biaya tinggi hanya gaji segitu 
saja.. Hal ini mungkin menjadi penyebab para guru ini jadi malas mengajar," 
ujarnya. 
Ada lagi cerita, kalau ada siswa yang tak pernah masuk sekolah. Begitu 
mendekati saat penerimaan rapor, ada yang mulai menghadap guru dengan memanggul 
seekor anak babi. "Otomatis langsung naik kelas. Karena sudah dapat babi. Di 
sini harga seekor babi ukuran sedang tinggi," ungkap sumber SH ini. 


Tetapi, di antara itu masih ada juga guru yang punya kepedulian terhadap dunia 
pendidikan di pedalaman, seperti guru Ramses Repasi dan Fred M. Kedua guru ini 
mengaku sudah mengabdi selama puluhan tahun di Kampung Maima, sebuah kampung 
yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. SD Advent Maima, di situlah 
keduanya menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka mengajar di sekolah Otinus 
dan Peres. Kalau Ramses tinggal di dekat sekolah, sedangkan Fred, rumahnya di 
Wamena Kota. Setiap hari Pak guru Fred harus bangun pagi-pagi untuk tepat waktu 
tiba di sekolah yang jaraknya 30 km dari rumahnya. Sehari Rp 25.000 untuk naik 
angkot. Sampai di area longsor, Pak Fred harus berjalan kaki sejauh 5 km dengan 
jalan mendaki dan berlumpur menuju tempatnya mengajar. "Sarana perumahan guru 
yang disediakan sekolah terbatas. Jadi, saya tinggal di Wamena Kota," kisahnya. 


Diusik pertanyaan soal banyaknya rekan guru mereka yang tak pernah mau mengajar 
di pedalaman, keduanya berkata kompak bahwa jangan melulu guru yang selalu 
disalahkan. "Kita harus lihat alasannya kenapa sampai mereka tidak mengajar. 
Apakah karena tunjangan kurang ataukah ada faktor lain,"ujar mereka. 
Kedua guru ini mengaku bekerja sebagai guru di pedalaman membutuhkan sebuah 
pengabdian yang tulus. "Bila kita mau ikuti ego dan kata hati, berat memang 
menjadi guru di pedalaman. Tetapi itu semua kami lakukan untuk memajukan 
pendidikan di pedalaman. Karena kami yakin anak-anak pedalaman sebenarnya 
pintar-pintar, tetapi karena kurang ilmu jadi terlihat mereka tertinggal," 
tuturnya. n

Kirim email ke