http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009032123462616
Minggu, 22 Maret 2009
Overdosis Orientasi Kekuasaan Politik!
H. Bambang Eka Wijaya
"KENAPA anak-anak dilarang ikut kampanye pemilu?" tanya cucu. "Apa karena
politik itu kotor dan jahat, hingga seperti penyakit, berbahaya bila sifat
politik yang seperti itu menulari anak-anak?"
"Asumsi politik begitu yang mendasari larangan anak-anak ikut kampanye!"
sambut kakek. "Dan karena politik diasumsikan demikian, sehingga kemungkinan
kacau saat kampanye jadi hal layak dikhawatirkan, anak-anak bisa berbahaya
kalau berada di tengah situasi yang rawan kacau itu!"
"Kalau politik itu kotor, jahat, dan rawan kacau, sehingga harus
dijauhkan dari anak-anak, kenapa dijadikan sarana pengelolaan negara?" kejar
cucu. "Pohon busuk kan sukar diharap berbuah baik?"
"Sebenarnya yang dijauhkan dari anak-anak itu sisi buruknya!" jawab
kakek. "Sedang politik yang diacu sebagai sarana mengelola negara adalah sisi
baiknya, politik yang dijalankan dengan etika dan moral! Sayangnya, batasan
sisi buruk dan baiknya sangat tipis, bahkan dengan formalisme yang buruk bisa
diselubungi hingga terkesan seolah-olah baik! Jadi, karena sekalipun terkesan
baik tapi sebenarnya buruk, anak-anak dijaga tak boleh terkontaminasi!"
"Kenapa politik yang berdasar etika dan moral itu mudah berubah jadi
kotor dan jahat?" kejar cucu.
"Itu hanya terjadi pada parpol yang orientasinya pada kekuasaan
overdosis!" tegas kakek. "Overdosis itu bisa membuat parpol menghalalkan segala
cara dalam meraih kekuasaan! Gejala itu tak terjadi jika orientasi parpol pada
kekuasaan proporsional, sehingga selalu mengutamakan etika dan moral dalam
berpolitik!"
"Kalau begitu bukankah seharusnya anak-anak sejak dini justru harus
menjalani enkulturasi politik yang beretika dan bermoral, agar terjadi proses
internalisasi nilai-nilai etika dan moral politik tersebut dalam diri setiap
anak bangsa, sehingga ketika tiba saatnya bersosialisasi dengan nilai-nilai
tersebut, bisa memosisikan diri dan berperan secara tepat dengan sistem nilai
yang ideal tersebut! Sebaliknya jika sejak kecil tidak pernah menjalani
enkulturasi dan internalisasi nilai-nilai tersebut, saat waktunya tiba harus
bersosialisasi dalam kehidupan politik, mereka cuma seperti segerombolan
serigala liar yang siap saling memangsa di antara sesamanya!"
"Masalahnya karena realitas kehidupan politik kita terlanjur seperti yang
sebaliknya itu, maka kaum pedagog mengkhawatirkan kontaminasinya pada anak-anak
kalau terlibat dalam kegiatan politik!" tegas kakek. "Tapi hal itu memang
membuat enkulturasi dan internalisasi politik beretika dan bermoral itu menjadi
lemah prosesnya, dengan akibat, kehidupan politik saling memangsa bisa larut ke
masa depan!"
<<bening.gif>>
<<buras.jpg>>
