http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009041506064115

      Rabu, 15 April 2009 
     
      BURAS 
     
     
     
'Wong Solo Menyang Oslo!' 

       
      H. Bambang Eka Wijaya

      "WONG Solo menyang Oslo, oleh-olehe tandok kebo. Nang Oslo celola celolo, 
arep takon ra-ono calo!" begitu sajian Temon saat peserta lokakarya teater 
rakyat kontemporer digilir ke depan di sesi pendalaman tema kontekstual. Lalu 
ia jelaskan, "Itu nyanyian dolanan--bermain--anak Jawa dalam konteks 
globalisasi! Indonesianya, 'Orang Solo pergi ke Oslo, oleh-olehnya tanduk 
kerbau, di Oslo tak tentu arah, mau tanya tak ada calo!"

      "Apa tautan kontekstual Solo dengan Oslo, tanduk kerbau, dan calo?" kejar 
peserta lain.

      "Budaya Timur dimulai dari Solo dengan homo erectus soloensis, sedang 
Barat dari Skandinavia, Oslo sekitarnya, dengan petualangan orang Viking 
bertopi tanduk kerbau!" jawab Temon, "Solo pusat seni budaya dari pujangga 
Ronggowarsito sampai Gesang, sedang Oslo dan Skandinavia pusat seni 
politik--konflik Aceh yang di negeri sendiri buntu dibuat damai di sana! Dalam 
politik pula, di sana lahir juru damai, sedang di sini cuma politisi kelas 
calo! Semua itu kontekstual!"

      "Tepuk tangan buat Temon!" sela fasilitator. "Seni rakyat sajian Temon, 
Mbah Kromo menyang Solo, aslinya masih hidup! Seni jadi denyut kehidupan rakyat 
Jawa sehari-hari, sambil mencangkul orang uro-uro, menyanyikan karya pujangga, 
ekspresi suasana hati yang tenteram!"

      "Tapi dalam berpolitik tidak mengaktualisasikan jiwa seninya itu!" potong 
Temon.

      "Para politisi lebih menonjolkan jiwa calonya, suka curang, berakibat 
pemilu jadi ruwet nyaris di seantero negeri! Sebaliknya orang Oslo berakar 
budaya Viking petualang, seni politiknya malah jauh lebih tinggi! Maka itu, 
lewat teater rakyat kontemporer kita ajak rakyat becermin ke sana!"

      "Bagaimana caranya?" kejar fasilitator.

      "Dalam berbagai teater rakyat Jawa, wayang, ketoprak, ludruk, selalu ada 
kritik sosial lewat dagelan!" ujar Temon. "Dalang atau pemain menyajikan adegan 
konyol tentang para politisi calo yang digiring KPK masuk bui!"

      "Tak semua politisi bermental calo!" sela peserta lain. "Dari ruwetnya 
pemilu legislatif sebagai cermin dominasi politisi calo, pembedaan bukan 
politisi calo atau bukan calo, melainkan lebih tepat politisi yang telah 
tertangkap dan belum tertangkap KPK!" tegas Temon. "Jadi, masalahnya cuma soal 
waktu! Trendnya cukup kuat, meski sudah banyak politisi terjebak, politisi tak 
jera hingga selalu ada yang menyusul terjebak! Pokoknya, siapa menyusul?"

      "Dengan semua itu sajian Temon Wong Solo Menyang Oslo relevansi 
kontekstualnya kuat!" tegas fasilitator. "Apalagi dengan kecenderungan politisi 
yang tak mau belajar dari realitas, bahkan realitas di lingkungannya 
sendiri--sudah banyak yang terjebak KPK tapi masih selalu ada yang 
menyusul--tekanan untuk belajar seni politik yang indah seperti di Skandinavia 
relevan! Cuma, apa mental calo yang telanjur berkarat bisa diganti dengan seni 
politik beretika-moral tinggi? Tanyalah rumput yang bergoyang!" *
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke