Jawa Pos

Minggu, 17 Mei 2009 ] 


JK Sindir 23 Parpol Pro-SBY, Sebut Hanya Permainan Politik Elite Partai 


JAKARTA - Hawa saling sindir di antara capres yang akan bertarung dalam 
pemilihan presiden (pilpres) Juli mendatang mulai bisa dirasakan. Kemarin Jusuf 
Kalla (JK), capres yang diberangkatkan Golkar dan Hanura, melontarkan 
pernyataan yang diarahkan kepada parpol-parpol pendukung capres dari Demokrat, 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

JK mengatakan tidak khawatir terhadap 23 parpol yang mendukung pasangan 
SBY-Boediono di pilpres. Sebab, dia yakin dukungan parpol-parpol tersebut hanya 
permainan politik elite partai. Para pendukungnya, lanjut JK, akan bebas 
menentukan capres-cawapres pada pemilu presiden.

Kalla mengibaratkan 23 parpol yang berdesak-desakan mendukung SBY-Boediono 
adalah bus kota yang ngetem di satu tempat, sedangkan para penumpangnya berada 
di tempat lain. "Tidak apa-apa busnya parkir di tempat lain, membuat padat, 
asal penumpangnya berada di sini," kata JK pada acara silaturahmi dengan tim 
pendukungnya di Hotel Four Seasons, Jakarta, kemarin (16/5). Acara itu digelar 
sebelum pasangan tersebut mendaftar ke KPU. 

JK menegaskan, dirinya dan Wiranto adalah pasangan harmonis yang memenuhi 
syarat ideal koalisi politik, yakni pasangan Jawa-luar Jawa, 
nasionalis-religius, didukung partai nasionalis-religius terbuka, dan kombinasi 
unik karakter sipil-militer. "Kami bukan pasangan pilkada, tapi pasangan 
pilpres," katanya. Pernyataan "bukan pasangan pilkada" itu bisa dimaknai bahwa 
JK menyindir pasangan SBY-Boediono yang sama-sama dari Jawa Timur. 

Sebelumnya, tepatnya pada acara deklarasi SBY-Boediono di Bandung Jumat malam 
lalu (15/5), sambutan kedua tokoh itu juga bisa dimaknai sedang menyindir JK. 
Misalnya, saat itu SBY menyebut alasannya memilih Boediono karena tidak berasal 
dari parpol dan bukan pengusaha. Inilah yang dimaknai menyindir JK. Sebab, 
ketika menjadi cawapres SBY, JK dikenal sebagai politikus dan pengusaha. 

Pada kesempatan itu, Wiranto menambahkan, meski berstatus underdog, tim 
kampanye nasional JK-Wiranto tidak perlu khawatir. Sebab, pada putaran kedua 
nanti, pasangan JK-Wiranto atau Megawati-Prabowo akan saling mendukung. "Karena 
itu, kami akan tetap berkomunikasi dengan Megawati-Prabowo," terang Wiranto.

Dia meminta tim kampanye nasional JK-Wiranto memahami kekuatan dan kelemahan 
musuh serta kekuatan dan kelemahan diri sendiri dalam melaksanakan strategi 
teknis pemenangan pemilu. "Dalam perang, kekuatan bukan yang terpenting. Yang 
paling penting dalam pertempuran adalah penguasaan cuaca, medan pertempuran, 
kekuatan lawan, dan lainnya," terang mantan Panglima ABRI itu.

Setelah acara silaturahmi di Hotel Four Seasons, pasangan JK-Wiranto langsung 
mendaftar pilpres ke KPU. Pasangan ini menjadi yang pertama mendaftar ke 
lembaga tersebut. 

JK-Wiranto didukung Golkar dan Hanura yang memperoleh 125 kursi DPR dan sekitar 
18 persen suara pemilu. Dengan demikian, pasangan ini memenuhi ketentuan UU 
yang mensyaratkan pasangan capres-cawapres didukung partai yang memiliki 20 
persen total kursi DPR atau 25 persen total suara nasional.

Yang menarik, di antara pendukung pasangan itu tampak politikus PAN Drajad 
Wibowo dan politikus Partai Bulan Bintang yang juga Ketua Umum Brigade Pemuda 
dan Remaja Masjid Indonesia Ali Mochtar Ngabalin, serta Ketua Majelis Ulama 
Indonesia KH Amidhan. Kedatangan Drajad dan Ali Mochtar menarik karena partai 
mereka secara resmi mendukung SBY-Boediono. 

Drajad menyatakan, alasan PAN bergabung dengan JK-Wiranto karena peryataan 
Ketua MPP PAN Amien Rais. JK selama ini dikenal sebagai Wapres yang gampang 
diajak berkomunikasi. "Kami memiliki perbedaan yang mendasar jika harus 
mendukung Boediono," kata Drajad.

Ali Mochtar menyatakan, hingga kini sejatinya PBB belum menentukan arah 
koalisi. Di tingkat elite PBB, memang dukungan condong ke Demokrat. "Namun, di 
grass root dukungan kepada JK-Wiranto," ujarnya bersemangat. Menurut dia, PBB 
baru menentukan arah dukungan pada pertemuan petinggi parpol malam kemarin.

Selain didampingi para elite Partai Golkar dan Hanura, iring-iringan JK-Wiranto 
juga didampingi Ketua Umum PK NU Choirul Anam. 

Mencoba berbeda dengan dua pasangan lain, JK-Wiranto kemarin datang ke KPU 
dengan berjalan kaki dari Masjid Sunda Kelapa di Menteng, Jakarta. Mereka 
terlebih dahulu melakukan salah Duha bersama istri masing-masing.

Perjalanan yang panjangnya kira-kira 1 km itu juga diiringi puluhan simpatisan 
Golkar. Nuansa kuning khas Golkar dan Hanura mengiringi seremoni jalan kaki 
tersebut. Alunan rebana menyertai perjalanan JK-Wiranto bersama puluhan tim 
sukses dan simpatisan Golkar dan Hanura.

Pasangan JK-Wiranto tiba di kantor KPU sekitar pukul 11.00 WIB. Selanjutnya, 
sekitar pukul 13.00, pasangan berikutnya yang datang adalah Megawati 
Soekarnoputri dan Prabowo (Mega-Pro) yang diberangkatkan PDIP dan Gerindra 
(rincian masing-masing pasangan ketika datang ke KPU baca grafis). 

Kedatangan Mega dan Prabowo layaknya seorang pejabat. Mega dan Prabowo datang 
dengan satu mobil Lexus bernomor polisi B 8471 BS. Menyusul di belakangnya, 
mobil para petinggi PDIP dan Gerindra. Mereka bersama-sama berangkat dari 
kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta.

Beberapa petinggi dua partai yang tampak adalah Sekjen PDIP Pramono Anung, 
Ketua Umum Gerindra Suhardi, Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, Sekjen 
Gerindra Ahmad Muzani, dan beberapa petinggi PDIP yang lain. Tampak pula adik 
Megawati yang juga Ketua Umum PNI Marhaenisme Sukmawati Soekarno dan Guruh 
Soekarno Putra, serta Ketua Umum Partai Buruh Muchtar Pakpahan.

Saat pendaftaran, Megawati dan Prabowo terkesan kikuk. Sambutan yang diberikan 
pun terkesan masih menonjolkan visi partai masing-masing. Saat sesi tanya jawab 
pun, Megawati tidak bersedia melayani wartawan dan sesi itu pun langsung 
ditutup.

Hanya sekitar 30 menit proses pendaftaran itu berlangsung. Setelah itu, ratusan 
pendukung Mega-Pro ternyata sudah memenuhi halaman luar gedung KPU. Mereka 
membawa bendera dan atribut PDIP dan Gerindra. Dengan berjalan kaki, mereka 
menyusul iring-iringan mobil petinggi PDIP dan Gerindra kembali menuju ke Teuku 
Umar.

Dua jam kemudian giliran pasangan SBY-Boediono (SBY Berboedi) mendaftar ke KPU. 
Kali ini ''pasukan'' dari pasangan yang sama-sama asal Jawa tersebut lebih 
banyak. Itu wajar, mengingat mereka didukung lima parpol peraih kursi Senayan 
dan 17 parpol kecil. Para petinggi parpol pendukung SBY Berboedi juga datang ke 
KPU. Termasuk Ketua Umum PBB M.S. Kaban dan Sekjen PAN Zulkifli Hasan. 
Kedatangan SBY Berboedi itu dilakukan setelah deklarasi koalisi yang dilakukan 
di kediaman SBY di Cikeas, Bogor. SBY dan Boediono datang dengan mengenakan 
batik biru. 

Batik SBY terlihat lebih gelap daripada yang dikenakan Boediono. Saat 
memberikan sambutan, semua diberikan kepada SBY. Boediono hanya berdiri satu 
langkah di belakang SBY, mendengarkan pernyataan SBY. Tidak ada sesi tanya 
jawab yang ditawarkan kepada wartawan saat pendaftaran SBY Berboedi.

Sekjen PAN Zulkifli Hasan menyatakan, dukungan partainya terhadap SBY Berboedi 
sudah bulat. Kesepakatan itu merupakan hasil Rapimnas di Jogja beberapa waktu 
lalu. Namun, dia mengakui bahwa deklarasi koalisi di Cikeas itu belum ada tanda 
tangan Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir. ''Ya (belum). Namun, insya Allah, sudah 
beres,'' ujarnya. (bay/noe/iw/kum)

Kirim email ke