Refleksi: Mega bertahaun-tahun di DPR ORBA. Apakah waktu itu juga kritik 
dominasi asing dalam perekonomian Indonesia? 


http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/05/23/headline/krn.20090523.166019.id.html

Edisi 23 Mei 2009

Megawati Kritik Dominasi Asing
Kontrak gas Tangguh di masa Mega justru dikritik Kalla.
JAKARTA -- Setelah Jusuf Kalla, kemarin giliran Megawati Soekarnoputri yang 
mengkritik dominannya peran asing dalam perekonomian Indonesia. 

"Mengapa potensi kita diberikan kepada orang lain?" ujarnya dalam "Dialog 
Presiden 2009", yang digelar Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), di 
Jakarta kemarin. 

Megawati, yang merupakan calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia 
Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya, menyatakan Indonesia memiliki 
potensi sumber daya alam yang bisa diolah sendiri. 

Bahan tambang dan pertanian, kata dia, merupakan bahan mentah yang mestinya 
tidak diberikan kepada pihak lain. "Kenapa tidak buat kita sendiri?" dia 
menambahkan. 

Dalam dialog tersebut, Megawati didampingi calon wakil presiden Prabowo 
Subianto, Sekretaris Jenderal PDIP Pramono Anung, Ketua PDIP Tjahjo Kumolo, dan 
putrinya, Puan Maharani. 

Dia menuturkan, ketergantungan terhadap pihak asing tidak hanya dalam 
pengelolaan sumber daya alam, tapi juga dalam produk industri. "Kenapa sekrup 
kecil saja buatan Cina?" ujarnya. 

Ia juga menyebut, banyak kontrak kerja sama dengan pihak asing yang merugikan 
Indonesia. "Setelah saya baca sendiri, kita banyak dirugikan, seharusnya 
equal," tuturnya. "Akses pasar terbuka bukan berarti sembarangan (investor) 
bisa masuk." 

Keyakinan Mega itu sebelumnya justru dipertanyakan oleh Jusuf Kalla, calon 
presiden dari gabungan Partai Golkar dan Hanura. Dalam dialog dengan para 
pengusaha, Kalla mengkritik kebijakan penjualan gas alam cair Tangguh di Papua 
pada 2002, yang dilakukan semasa pemerintahan Megawati. 

Kalla menilai harga gas Tangguh merupakan yang termurah di dunia. Itu sebabnya, 
ia telah meminta pemerintah melakukan negosiasi ulang kontrak dengan pemerintah 
Cina. "Sekarang saya tidak tahu hasilnya sampai di mana," ujarnya. 

Saat kontrak Tangguh diteken, Menteri Keuangan dijabat oleh Boediono, sedangkan 
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral diemban oleh Purnomo Yusgiantoro. 

Kalla juga mengklaim dirinya merupakan satu-satunya menteri di era Megawati 
yang anti terhadap lembaga Dana Moneter Internasional (IMF). "Tidak ada menteri 
yang melawan IMF kecuali saya," katanya tiga hari lalu. 

Pernyataan itu bisa bermakna bahwa di mata Kalla, Megawati dan Kwik Kian 
Gie--saat itu menjabat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional--yang kemarin 
menuding Boediono sebagai pendukung neoliberalisme, termasuk yang tunduk kepada 
IMF. 

Dalam dialog dengan para pengusaha, Megawati tak menyebut target pertumbuhan 
ekonomi jika dia menjadi presiden. Alasannya, masih menunggu perkembangan 
ekonomi dalam empat bulan ke depan. Namun, dalam jumpa pers, Prabowo menyatakan 
ekonomi bisa tumbuh 10 persen. "Dua digit bukan suatu hal yang mustahil," 
ujarnya. 

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Erwin Aksa mengatakan Megawati 
belum memberikan gambaran yang jelas tentang program ekonominya kepada para 
pengusaha. "Paparannya sangat makro, masih butuh ketajaman," katanya. 

Wakil Ketua Kadin Benny Sutrisno pun ragu terhadap target pertumbuhan yang 
dipatok Prabowo. "Sepuluh persen terlalu jauh, tidak realistis," ujarnya. 
Dengan kondisi krisis ekonomi global, pertumbuhan ekonomi maksimal 6-7 persen.

ALI NY | DWI RIYANTO AGUSTIAR | VENNIE MELYANIE

Kirim email ke