http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=kategoriminggu&kid=24&id=Kesehatan

      Minggu, 12 Juli 2009  
     
      Mengenali dan Mencegah Toxoplasmosis pada Kehamilan 
      Oleh dr. I Made Arya Subadiyasa

      ANDA merencanakan hamil atau sedang hamil? Lebih baik Anda waspada 
terhadap parasit yang satu ini. Parasit ini bernama toxoplasma gondii dan 
menimbulkan penyakit yang diberi nama toxoplasmosis. Penyakit ini dapat 
menyerang siapa saja, pria maupun wanita -- termasuk wanita hamil ataupun tidak.

      Parasit ini biasanya menggunakan hewan kucing sebagai inang utamanya di 
samping hewan-hewan herbivora, karnivora, omnivara termasuk mamalia dan burung 
yang mungkin juga terinfeksi. Secara geografis, umumnya infeksi terjadi pada 
daerah beriklim hangat dan jarang-jarang pada beriklim dingin atau pegunungan.

      Hasil penelitian Sayoga melaporkan, dari 288 ibu hamil yang diperiksa, 
angka kejadian ibu hamil yang di dalam darahnya positif terinfeksi toxoplasma 
adalah 14,25%. Dari ibu-ibu yang terinveksi itu didapatkan, 4 persalinan 
prematur dan 1 kasus dengan kelainan saat lahir. Hasil survei kesehatan rumah 
tangga yang dilakukan Hartono pada 1995 menemukan angka prevalensi zat anti 
terhadap toxoplasma pada wanita-wanita hamil sebesar 60,01%. "Sedangkan jumlah 
penderita penyakit pada hewan-hewan yang hidupnya dekat dengan manusia 
dagingnya dikonsumsi manusia menunjukkan angka prevalensi yang cukup tinggi 
yakni 15-75 %," urai Koesharyono.

      Toxoplasma gondii adalah adalah parasit protozoa intraselluler. Bentuk 
parasit toxoplasma gondii seperti batang melengkung dengan ukuran lebih kecil 
dari sel darah merah (3-6 um), dapat menembus sel secara aktif dan masuk ke 
berbagai jaringan seperti obat, otak, mata, dan usus.

      Parasit ini memiliki 3 bentuk dalam siklus hidup -- takizoit, kista 
(bradizoit) dan ookista. Ookista berukuran 10-12 um, mempunyai hospes 
definitive yaitu kucing. Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus seksual 
yang kemudian menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama feses kucing.

      Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam fesesnya mengandung jutaan 
ookista. Ookista dapat bertahan di lingkungan untuk beberapa bulan dan tahan 
terhadap desinfektan, pembekuan dan tempat yang kering, namun dapat mati dengan 
pemanasan 70øC selama 10 menit.

      Jika ookista tertelan oleh hospes perantara seperti manusia, sapi, 
kambing atau tikus, maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan dibentuk 
kelompok-kelompok takizoit yang membelah aktif secara aseksual. Pada hospes 
perantara, tidak dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat 
yaitu kista (pseudokista).

      Mengenal Gejala

      Toxoplasma dapat masuk ke dalam tubuh manusia dalam berbagai cara. 
Pertama, secara tidak sengaja menelan tinja kucing yang di dalamnya terdapat 
telur toxoplasma. Cara ini banyak tidak disadari, misalnya menyentuh mulut 
dengan tangan yang telah berkontaminasi seperti sehabis berkebun, membersihkan 
tempat makan kucing atau barang-barang lain yang sudah terkontaminasi.

      Kedua, parasit ini juga dapat masuk jika mengkonsumsi daging hewan yang 
telah terkontaminasi dan tidak dimasak secara matang. Bentuk kista dari parasit 
ini dapat masuk bersama daging hewan tadi. Ketiga, masuk lewat air yang telah 
terkontaminasi. Dan yang jarang, jika Anda menerima transparansi organ atau 
transfusi darah dari donor yang telah terkontaminasi.

      Jika dalam keadaan sehat, umumnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala 
apa-apa atau menyerupai sakit influenza biasanya disertai pembesaran kelenjar 
getah bening regional yang nyeri. Gejala yang berat mungkin terjadi seperti 
kerusakan otak dan mata yang terutama terjadi pada penderita kekurangan daya 
tahan tubuh seperti HIV/AIDS atau penyakit keganasan.

      Berbagai penelitian mengungkapkan, wanita yang dalam kurun reproduksinya 
terjangkit toxoplasmosis dapat menghadapi risiko gangguan imunitas yang bisa 
mempengaruhi kesuburannya. Hal ini terjadi karena parasit ini menyerang setiap 
sel berinti, termasuk sel gamet yang akan menimbulkan kegagalan pembuahan atau 
hancurnya zigot (bakal janin).

      Janin yang terserang toxoplasma kemungkinan akan mengalami keguguran, 
janin mati, pertumbuhan janin terhambat, bayi lahir prematur, hidrosefalus, 
mikro-oftalmia (ukuran mata yang kecil), choriorenitis (radang pada retina 
mata), kebutaan, tuli, lesi otak, serta kerusakan organ yag luas.

      Berat ringannya gejala tergantung dari kapan ibu hamil terinfeksi. Jika 
terjadi pada trisemester pertama, kemungkinannya 15-20%, pada trisemester kedua 
kemungkinannya 25-30%, sedangkan pada trisemester ketiga kemungkinannya 60% 
bayi akan ikut terinfeksi bersamaan dengan ibunya.

      Namun, makin muda usia kehamilan, makin berat gejala yang akan dialami 
janin karena pada awal kehamilan terjadi pembentukan organ yang dilanjutkan 
dengan pematangan organ sampai bayi itu lahir.

      Namun, 90% dari bayi yang terinfeksi tidak menimbulkan gejala apa-apa 
(asimptomatik) pada saat bayi itu dilahirkan. Gejala baru timbul beberapa bulan 
bahkan tahun setelah bayi dilahirkan. Toxoplasmosis merupakan sindroma TORCH 
(toxoplasma, rubella, cytamegalovirus/CMV dan herpes simplex) yang terberat.

      Diagnosis dan Pengobatan

      Diagnosis toxoplasmosis pada orang dewasa sangat sulit karena penyakit 
itu biasanya tidak disertai gejala yang berarti. Kecurigaan baru timbul setelah 
anak lahir dengan kelainan dan hal itu sudah terlambat. Pemeriksaan yang dapat 
dilakukan antara lain pemeriksaan serologis (serum darah).

      Pemeriksaan sering dilakukan bersama dengan rubella, cytomegalovirus, dan 
herpes simplex, sehingga sering disebut sebagai pemeriksaan TORCH. Seseorang 
dinyatakan terinfeksi toxoplasmosis jika dalam darahnya terdeteksi 
(imunoglobulin M) IgM antibodi dan IgG antibodi positif.

      Tes ini berguna karena jika hasilnya mencurigakan, ahli kesehatan dapat 
melaksanakan pemeriksaan lanjutan yang menunjang seperti USG, amniocentesis 
(pengambilan contoh air ketuban) sehingga tindakan serta medikasi yang 
diberikan dapat sesuai. Tentunya hal ini akan mencegah hal-hal yang lebih buruk 
akan terjadi. Metode diagnosis lain yang sering digunakan adalah dengan 
menggunakan indirect haemglutination (IHA), immuniflourescence (IFAT) ataupun 
dengan enzym immunoassay (elisa). Skrining awal sangat dianjurkan, khususnya 
pada ibu hamil resiko tinggi.

      Toxoplasmosis pada ibu hamil dengan daya tahan tubuh yang baik, biasanya 
tidak membutuhkan penanganan khusus. Ia tidak perlu diisolasi dari 
lingkungannya. Pengobatan yang ditujukan bertujuan menurunkan risiko terhadap 
janin.

      Obat yang diberikan adalah pirimetamin oral 25 mg sehari bersama dengan 
sulfadiazine oral 1 gram sehari selama 28 hari. Bersama itu diberikan pula asam 
folat 6 mg intramuscular atau oral 3 kali seminggu. Selama pengobatan dilakukan 
pemeriksaan darah tepi 2 kali seminggu. Pemberian pirimetamin tidak dianjurkan 
pada kehamilan trimester pertama, sedangkan sulfadiazine tidak boleh diberikan 
pada bayi cukup bulan.

      Dapat juga diberikan spiramisin dengan dosis 3 gram sehari selama 3 
minggu, diulangi dengan interval 2 minggu sampai kehamilan cukup bulan. Kadang 
diberikan kortikosteroid, contohnya prednisone 1-2 mg/kg/berat badan/hari oral, 
diberikan 2 kali sehari selama proses peradangan kemudian dosis diturunkan. 
Wanita yang sudah pernah terinfeksi toxoplasma boleh hamil kembali bila 
diyakini tidak sedang terinfeksi toxoplasma. (*)


      Pencegahan Toxoplasmosis pada Kehamilan

      Pencegahan merupakan langkah terbaik untuk menurunkan kesakitan dan 
kematian akibat penyakit ini. Secara umum pencegahan dapat dilakukan sbb.;

      1. Hindari mengkonsumsi daging mentah atau setengah matang, serta buah 
dan sayuran yang belum dicuci.

      2. Sedapat mungkin kendalikan serangga-serangga yang dapat menyebarkan 
kotoran kucing seperti lalat dan kecoak.

      3. Jika Anda memiliki hewan peliharaan kucing, jangan biarkan berkeliaran 
di luar rumah yang memperbesar kemungkinan kontak dengan toxoplasma.

      4. Mintalah anggota keluarga lain membantu membersihkan kucing Anda 
termasuk memandikannya, mencuci kandang dan tempat makannya.

      5. Beri makan kucing Anda dengan makanan yang sudah dimasak dengan baik.

      6. Lakukan pemeriksaan berkala terhadap kesehatan kucing Anda.

      7. Gunakan sarung tangan plastik ketika Anda harus membersihkan kotoran 
kucing.

      8. Cuci tangan sebelum makan dan setelah berkontak dengan daging mentah, 
tanah atau kucing.



      * Penulis adalah alumnus Universitas Padjadjaran Bandung
     

Kirim email ke