http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=24&id=16715

      Minggu, 12 Juli 2009 | BP 
     
      Mengenal Penyakit Kusta 
      Oleh dr. Irene Tantia Utami

      PERNAHKAH Anda atau orang-orang di sekitar mengalami bercak pada kulit 
yang mati rasa? Waspadalah, itu bukanlah panu atau kurap, melainkan kusta atau 
lepra.

      Penyakit kusta terdengar begitu menakutkan karena cacat tubuh yang 
ditimbulkan tampak menyeramkan. Hal ini memberi efek yang sangat besar pada 
masyarakat sehingga pasien kusta menderita tidak hanya karena penyakitnya saja, 
juga karena dampak sosial yaitu dikucilkan oleh masyarakat. Padahal, dengan 
diagnosis dini dan pengobatan tepat, kusta dapat disembuhkan tanpa cacat, serta 
rantai penularannya dapat diputuskan.

      Kusta telah ada sejak zaman dahulu, bahkan dikatakan merupakan penyakit 
tertua di dunia. Kusta adalah penyakit infeksi kronis, yang disebabkan oleh 
kuman mycobacterium leprae. Yang diserang pertama kali adalah saraf tepi, 
selanjutnya dapat menyerang kulit, selaput lendir mulut, saluran nafas bagian 
atas, dan organ tubuh lain kecuali susunan saraf pusat.

      Penularan dan Gejala

      Penularan penyakit kusta belum diketahui dengan pasti, tetapi sebagian 
besar para ahli mengatakan bahwa penularannya melalui saluran pernafasan dan 
kontak langsung antar-kulit yang lama dan erat, namun gejala klinis dan tingkat 
keparahannya berbeda antar-individu tergantung pada jumlah kuman, keganasannya, 
dan daya tahan tubuh penderita.

      Pada kulit, gejala yang menonjol adalah berupa bercak kemerahan, 
kehitaman, atau bercak keputihan, sehingga sering dianggap panu atau kurap. 
Namun pada kusta, bercak tersebut disertai dengan hilangnya sensasi rasa atau 
mati rasa, yang dapat diuji menggunakan jarum untuk rasa nyeri, kapas untuk 
mengetahui rasa raba, dan tabung reaksi berisi air panas dan dingin untuk 
menguji rasa suhu.

      Gejala pada saraf tepi dapat diperiksa melalui beberapa titik saraf, 
antara lain saraf pada wajah, leher, tangan dan kaki. Dapat dilihat dari 
pembesaran atau penebalan saraf, kekenyalannya, dan apakah terdapat rasa nyeri. 
Gangguan saraf yang terkena dapat berupa gangguan fungsi sensoris, yaitu mati 
rasa, fungsi motoris, yaitu kelemahan atau kelumpuhan anggota gerak tubuh, dan 
gangguan fungsi otonom berupa kulit kering, retak, bengkak, dan pertumbuhan 
rambut yang terganggu. Pada tahap lanjut dapat terjadi penghancuran saraf, 
dimana kelumpuhan akan menetap, dapat terjadi infeksi yang progresif dengan 
kerusakan tulang hingga terjadi mutilasi.

      Kuman penyakit kusta juga dapat menyerang organ lain, di antaranya mata, 
hidung, lidah, pita suara, testis, kelenjar limfe, dan ginjal. Pada mata dapat 
terjadi peradangan pada iris, gangguan penglihatan, sampai kebutaan. Pada 
hidung dapat terjadi perdarahan dari selaput lendir hidung, atau biasa disebut 
mimisan, dan kelainan anatomis berupa hidung pelana. Dapat juga terjadi luka 
pada lidah seperti sariawan dan benjolan pada lidah, suara parau, infeksi 
kelenjar limfe, dan infeksi ginjal.

      Untuk menegakkan diagnosis penyakit kusta, selain terdapat satu di antara 
gejala klinis pada kulit dan saraf tepi, juga harus dilakukan pemeriksaan 
penunjang untuk menentukan ada tidaknya kuman mycobacterium leprae, yaitu 
berupa pemeriksaan bakterioskopik. Sediaan dapat diambil dari kerokan atau 
hapusan pada kulit yang paling aktif, di antaranya cuping telinga, lengan, 
punggung, bokong, dan paha, dimana minimal dilakukan pada tiga tempat, yaitu 
cuping telinga kanan, kiri, dan bercak yang paling aktif, kemudian setelah 
dilakukan pengecatan dengan bahan tertentu, sediaan tersebut diperiksa di bawah 
mikroskop. Dari hasil pemeriksaan dapat dibedakan mana kuman yang solid atau 
masih aktif dan mana yang sudah tidak aktif.

      Untuk kepentingan pengobatan, WHO membagi penyakit kusta menjdi dua tipe, 
yaitu tipe Pausibasiler (PB), dan tipe Multibasiler (MB). Pada kusta tipe PB 
terdapat 1-5 buah bercak pada kulit dengan distribusi yang tidak simetris, 
hilangnya sensasi rasa yang jelas dan hanya mengenai satu cabang saraf, namun 
memberi hasil pemeriksaan bakterioskopik yang negatif. Sedangkan pada kusta 
tipe MB ditandai dengan adanya bercak atau kelainan pada kulit lebih dari lima 
buah, dengan distribusi yang lebih simetris, hilangnya sensasi rasa kurang 
jelas namun mengenai banyak cabang saraf, serta ditemukan hasil yang positif 
pada pemeriksaan bakterioskopik.

      Upaya Penanganan

      Pengobatan penyakit kusta di Indonesia ditanggung oleh pemerintah, jadi 
penderita yang telah didiagnosa menderita kusta tidak perlu mengeluarkan biaya 
untuk memperoleh pengobatan di instansi yang telah ditunjuk oleh pemerintah. 
Tersedia paket pengobatan yang dikenal dengan nama MDT (Multi Drug Treatment) 
yang terdiri dari tiga macam obat, yaitu DDS, klofazimin, dan rifampisin. 
Pengobatan disesuaikan dengan klasifikasi kusta, jika tergolong PB penderita 
mendapatkan 6 paket MDT-PB yang harus dihabiskan dalam jangka waktu 6-9 bulan. 
Sedangkan bagi penderita yang tergolong MB akan mendapatkan 12 paket MDT-MB 
yang harus habis dalam waktu 12-18 bulan.

      Dengan pengobatan yang tepat dan adekuat, diharapkan penderita dapat 
terhindari dari risiko terjadinya kecacatan, dan untuk penderita yang sudah 
mengalami kecacatan dapat dicegah agar cacat yang terjadi tidak menjadi lebih 
berat dan tidak kambuh lagi. Beberapa upaya untuk mencegah terjadinya cacat 
sekunder antara lain perawatan diri sendiri untuk mencegah luka, perawatan luka 
yang benar, fisioterapi pada otot yang mengalami kelumpuhan, tindakan 
pembedahan untuk mengurangi perluasan infeksi dan rekontruksi untuk otot yang 
lumpuh, dan perawatan pada mata, tangan, atau kaki yang mengalami mati rasa 
atau kelumpuhan.

      Sangat diperlukan kesadaran dari tiap lapisan masyarakat untuk dapat ikut 
serta dalam menanggulangi kusta bukan dengan cara menjauhi mereka, melainkan 
mengarahkan mereka untuk mendapatkan pengobatan. Untuk penderita kusta agar 
tidak rendah diri, segeralah memeriksakan diri ke tempat pelayanan kesehatan 
terdekat, jangan menunggu hingga terjadi kecacatan. Ingatlah, penyakit kusta 
dapat disembuhkan dengan penanganan yang tepat. (*)
     

     

Kirim email ke