Jawa Pos
Kamis, 23 Juli 2009 ] 

Negara Ikut Lahirkan Terorisme 
Oleh: Toto Suparto

PELEDAKAN bom di Mega Kuningan, Jakarta, belum lama ini melahirkan opini publik 
bahwa pelakunya adalah kelompok fanatik agama tertentu. Opini ini dibangun 
secara sistematis sehingga muncul kesan hanya orang-orang fanatik yang rela 
menjadi martir bom bunuh diri. Pelaku dianggap lebih memburu surgawi ketimbang 
duniawi. Janji surga menggerakkan pelaku untuk menerima tantangan mematikan.

Kalau mau memperhatikan secara lebih jernih akar teror itu, akan tampak bahwa 
bukan melulu janji surga yang menggerakkan para teroris. Bukan pula hanya soal 
ideologi. Tetap saja ada pengukur materi. Filsafat teror melihat terorisme di 
sini mengandung ekspresi kaum marginal terhadap kemapanan, entah itu kemapanan 
yang dinikmati elite politis maupun birokrat. Yang paling mencolok adalah 
ekspresi ketidaksetaraan antarbelahan dunia yang ditunjukkan oleh ketimpangan 
ekonomi.

Terorisme Global 

Kita mulai dulu dari skala luas. Dalam tatanan dunia, terorisme tumbuh akibat 
ketimpangan belahan dunia. Entah itu di Bali atau di Mega Kuningan, sasaran 
teror adalah simbol-simbol Barat. Kapitalisme Barat sangat nyata mengalir ke 
negeri ini dan celakanya malah memperlebar ketimpangan. Karena itu, Barat 
menjadi metafor keserakahan yang harus dihentikan. Inilah yang acap disebut 
terorisme global. 

Terorisme global adalah menebar ketakutan kepada dunia atas penolakan 
ketimpangan globalisasi. Secara eksplisit para teroris itu ingin menunjukkan 
penolakan terhadap jenis modernitas dan sekularisasi. Simbol modernitas dan 
sekularisasi adalah Barat.

Teroris itu menyerang akses Barat di Indonesia, sebagai wujud perlawanan 
terhadap kecongkakan globalisasi. Sudah lama diingatkan oleh para pemikir 
sosial bahwa globalisasi telah membagi masyarakat dunia ke dalam 
kelompok-kelompok pemenang, penerima keuntungan, dan para pecundang. Terorisme 
global adalah perlawanan para pecundang terhadap pemenang. 

Para pecundang punya dalih bahwa globalisasi merupakan "pencabutan cara-cara 
hidup tradisional dengan jalan kekerasan". Si pencabut itu justru Barat lewat 
modernisasi. Mereka yang kalah lebih rapuh terhadap modernisasi yang kejam, 
yang justru dibawa oleh pasar global dan celakanya, didominasi oleh sejumlah 
kecil korporasi internasional.

Kalau kita pinjam pandangan filsuf Jurgen Habermas, terorisme merupakan efek 
trauma modernisasi yang telah menyebar ke seantero dunia dengan suatu kecepatan 
patologis. Sementara Jacques Derrida melihat terorisme sebagai suatu gejala 
elemen traumatis yang intrinsik terhadap pengalaman modern. Fokusnya selalu 
pada hari depan yang acapkali dipahami sebagai janji, harapan, dan penegasan 
diri. Karena itu, momok terorisme global menghantui cita rasa kita akan masa 
depan karena ia membunuh harapan.

Marginalitas Terorisme 

Bicara soal harapan, kita akan berhadapan dengan fakta bahwa banyak anggota 
masyarakat hidup tanpa harapan. Ketika berharap untuk menumbuhkan keluarga 
sehat, mereka berhadapan dengan adagium kapitalisme "sehat itu mahal". Karena 
itu, senantiasa dipelesetkan, "Orang miskin jangan sakit". Begitupun manakala 
berkeinginan menyekolahkan anaknya, mereka terbentur sebuah fakta semu dari 
"sekolah gratis". Kenyataannya sekolah masih saja membutuhkan biaya tinggi.

Ketimbang berpengharapan tanpa terwujudkan, masyarakat pun memilih hidup tanpa 
harapan. Orang hidup tanpa harapan sesungguhnya ketiadaan akses. Mereka yang 
punya akses lebih mudah mewujudkan segala harapan tersebut. Inilah kondisi 
mengkhawatirkan, yakni ketika ada orang tanpa harapan dan orang berpengharapan 
dan ini acap dinamakan ketimpangan. 

Di mana pun kita duduk, apakah itu di birokrasi atau kancah politik, tetap 
harus menjaga agar tidak terlalu njomplang ketidaksetaraan. Memang sebuah 
konsekuensi, ada yang tersisih dalam sebuah proses mewujudkan itu. Namun, kalau 
membiarkan kian banyak yang tersisih, sama artinya menyimpan bom waktu yang 
suatu saat meledak dahsyat. 

Tanggung Jawab Negara 

Agar bom waktu tidak meledak, negara punya peran. Hakikatnya, kesenjangan dan 
ketidaksetaraan bisa ditekan jika negara secara maksimal mewujudkan 
kesejahteraan rakyat. Ketimpangan global bisa pula dimanipulasi bila negara 
bisa memfilter kapitalisme Barat. Namun, apa lacur, negara lebih berfungsi bagi 
segelintir orang ketimbang rakyat kebanyakan. Akibatnya, ekspresi kesenjangan, 
ketidaksetaraan maupun ketimpangan global itu terus terjadi. Bentuk ekspresi 
yang paling nyata adalah terorisme. Ini berarti tatkala negara membiarkan 
kesenjangan maupun ketimpangan, sama artinya ikut melahirkan terorisme.

Jadi, sekali lagi, teror tidak sekadar berkedok agama. Masih sangat 
memungkinkan teror disebabkan oleh warna ekonomi dan budaya. Wajar jika 
senantiasa diingatkan oleh para pengamat, tak selayaknya buru-buru melihat 
agama demi memberangus terorisme. Pada dasarnya agama sekadar penguatan 
sekaligus percepatan. Cukup memakai dalil agama, seorang penggerak akan mudah 
merekrut operator lapangan. Janji-janji surga memudahkan untuk membangun 
jaringan ketimbang janji-janji materiil.

Namun, sesungguhnya upaya menekan terorisme adalah bagaimana negara bisa 
menjalankan fungsinya bagi masyarakat. Jika negara secara sungguh-sungguh mau 
menyejahterakan rakyatnya, pelan-pelan terorisme bisa ditekan. Inilah pekerjaan 
besar bagi aparat negara, terutama para pemimpin baru di negeri ini. (*)

*). Toto Suparto , peneliti di Pusat Kajian Agama dan Budaya (Puskab) 
Jogjakarta.

Kirim email ke