http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009072701353516

      Senin, 27 Juli 2009 
     
      BURAS 
     
     
     
Bocah Memegangi Tali Kambingnya! 

       
      H. Bambang Eka Wijaya



      PELINTAS dari kota menghampiri seorang bocah desa yang memegangi tali 
kambingnya. "Kenapa talinya tidak kau ikat di tengah padang itu, lantas kau 
bisa bermain?" tanya pelintas. "Kalau diikat di tengah padang dia ribut! Karena 
panas, kedua anaknya ini bermain jauh di tempat yang teduh!" jawab bocah. "Maka 
itu kubawa ke tempat teduh, supaya dia dan anak-anaknya bisa tetap berkumpul 
dan lebih tenang makan!" "Kalau begitu, di tempat teduh ini kan bisa kau ikat, 
sehingga kau tak perlu memegangi talinya terus?" kejar pelintas.

      "Kalau di terik panas begini diikat di tempat teduh, dia bukannya makan, 
tapi malah tiduran sambil memamah biak! Akibatnya, petang nanti perutnya tidak 
betul-betul kenyang!" jelas bocah. "Maka itu kupegangi terus, setiap dia mau 
tiduran langsung kutarik talinya agar dia kembali makan!" "Kenapa kau lebih 
mementingkan kenyangnya kambingmu, ketimbang bermain?" tanya pelintas.

      "Karena ini kambingku, hadiah naik kelas empat dari ayahku! Waktu itu 
belum beranak, karena setiap hari makan kenyang, jadi cepat beranak!" jawab 
bocah. "Maka itu, kuusahakan setiap hari kenyang, agar cepat jadi banyak! Jika 
banyak, aku bisa sekolah sampai jadi sarjana! Kalau kutinggal bermain, 
serbasalah. Kuikat, jadi tidak kenyang! Jika kulepas talinya, dia masuk kebun 
orang!"

      "Teruskan pelihara baik-baik kambingmu!" tegas pelintas. "Setelah besar 
nanti kau bisa menjadi politisi yang baik!"

      "Politisi itu apa?" tanya bocah.

      "Politisi itu pemimpin, fungsinya seperti gembala juga. Tapi yang 
digembalakan umat atau rakyat!" jelas pelintas. "Politisi yang baik akan 
berusaha seperti kau, agar umat atau rakyat gembalaannya selalu kenyang! Dia 
berusaha agar umat atau rakyat gembalaannya tidak teriak-teriak protes 
kepanasan, serta tenteram dalam keteduhan hati bersama anak-anaknya!"

      "Jadi politisi yang baik tidak asyik bermain sendiri meninggalkan 
gembalaannya?" kejar bocah. "Betul!" jawab pelintas. "Sebaliknya politisi 
kurang baik, pikirannya selalu tercekam untuk studi banding, pergi bermain 
meninggalkan jauh-jauh gembalaannya, tanpa peduli entah makan atau tidak 
gembalaannya itu!"

      "Politisi seperti itu tak menyayangi gembalaannya seperti aku menyayangi 
kambingku!" tukas bocah. "Kalau begitu tak cepat bertambah banyak!" "Justru 
bisa semakin habis gembalaannya!" tegas pelintas. "Apalagi karena mereka lepas 
talinya, gembalaannya banyak yang masuk ke kebun orang! Anehnya politisi itu 
berteriak, menuding pemilik kebun yang dimasuki gembalaannya itu curang!"

      "Huahaha!" bocah terbahak. "Gembalaannya yang tidak diurus masuk kebun 
orang, malah orang lain yang dituduh curang!"
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke