Mari Bantu Tangkap Hidup Atau Mati Noordin M Top !!!
Noordin M Top adalah orang kedua setelah gembong Dr. Azhwari yang sudah
tertembak mati. Keduanya mereka ini terbukti sebagai gembong terrorist AlQaida
untuk cabang Asia Tenggara.
Informasi tentang kedua orang ini tersedia di Interpol yang menetapkan keduanya
sebagai buronan Internasional yang harus ditangkap hidup atau mati. Jadi
masalah mereka berdua dan jaringannya sudah terungkap atau diungkapkan oleh
gembong2 terrorist yang lebih tinggi kedudukannya dalam AlQaida.
Kalo Noordin M Top mau menyerahkan diri kepada PolRI, maka dia akan tertangkap
hidup2 dan akan menjalani prosedur pengadilan hingga vonis hukumannya antara
hukuman seumur hidup atau hukuman mati.
Tapi kalo Noordin M Top tidak mau menyerah dan terus dalam pelariannya, maka
besar kemungkinannya dia akan tertembak mati karena polisi dalam hal ini
Densus88 tidak akan berjudi dengan resiko dalam menangkap dia. Siapapun yang
membantu melindunginya, membantu pelariannya, membantu tindakan2 terrornya,
akan menghadapi resiko yang sama yaitu tertembak mati.
> "utusan.allah" <utusan.al...@...> wrote:
> Saya tidak membaca berita ada usaha
> untuk melakukan negosiasi yang didampingi
> oleh psikolog; dan sekali lagi: rumah
> yang terpencil itu benernya sih gampang
> dibombardir dengan granat gas air mata.
> Jelas ada yang aneh...
>
jangan disamakan polisi RI dengan Polisi negara maju seperti Amerika. Granat
gas airmata harganya lebih mahal dari pelor, jadi belum tentu polisi RI
memiliki persediaannya. Kalopun ada persediaannya juga harus hemat
penggunaannya hanya untuk hal2 yang ada hubungannya dengan penyelamatan sandera
bukan penyelamatan terrorist.
Granat gas airmata tidak digunakan untuk menggerebek terrorist atau rampok,
umumnya gas airmata hanya digunakan untuk mengatasi demonstrasi bukan kriminal.
Jadi kalo polisi sudah yakin berhasil mengevakuasi masyarakat sekelilingnya
seperti yang sudah dilakukannya dalam penyergapan disini, dan sudah dipastikan
tidak adanya sandra, maka gas air mata tidak perlu lagi digunakan, yang
dibunakan cuma mikrofon meminta pelaku terrorist keluar dengan per-lahan2
dengan kedua tangan diangkat keatas. Gagal memaksa si terrorist menyerah, maka
rumahnya diberondong dari segala arah untuk memayungi kelompok polisi yang
menyusup masuk kedalam.
Keberhasilan polisi menembak mati pelaku disebabkan karena sipelaku membalas
tembakan polisi dari jendela kamar mandinya.
Ny. Muslim binti Muskitawati.