http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/10/LU/mbm.20090810.LU131109.id.html

25/XXXVIII 10 Agustus 2009

Kematian di Kaki Bukit
Dikepung 18 jam, Buron yang diduga Noor Din M. Top tewas dengan timah panas 
menembus dada. Sisa anggota jaringan terserak di mana-mana.

TIGA anggota tim penyergap Detasemen Khusus 88 Antiteror mengendap-endap di 
dekat rumah itu. Sejenak mereka melongok jendela, lalu bergeser ke arah 
belakang. Seorang dari mereka lalu menyepak pintu bagian bawah. Tapi pintu itu 
tak bergerak. Pintu bagian atas lalu dihantam dengan lengan. Terbuka. 
Pelan-pelan polisi itu menarik daun itu ke arah luar. 

Tak segera masuk, mereka mundur lalu mengintai dari jarak enam meter. Tiga 
menit kemudian secara serempak timah panas dimuntahkan. Tar-tar-tar...! Tak 
lama. Semenit kemudian, seorang polisi memerintahkan tembakan disetop. Sunyi. 
Tak ada reaksi dari dalam. Segera mereka masuk rumah. Sekitar lima menit, 
polisi berada di dalam. Sebentar kemudian, mereka keluar. Sang buron dipastikan 
tewas. Beberapa polisi terlihat satu sama lain mengadu telapak tangan. Misi 
selesai. 

Itulah akhir kisah pelarian buron nomor satu negeri ini, Noor Din Mohammad Top. 
Pria kelahiran Kluang, Johor, Malaysia, 11 Agustus 1968 ini meregang nyawa di 
kamar mandi rumah persembunyiannya. Rumah berdinding tembok milik Muhzahri, 70 
tahun, di Dusun Beji, Kecamatan Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu siang 
pekan lalu. "Kami pastikan Noor Din tewas," kata seorang perwira polisi. Namun 
Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri belum resmi mengkonfirmasi, 
"Apakah Noor Din atau bukan, belum bisa kami pastikan." 

Aparat kini telah mengumpulkan DNA anak Noor Din untuk dicocokkan dengan sang 
buron. Sepekan lalu, dikabarkan DNA anak Noor Din dari istri pertama telah pula 
diambil. Kabar bahwa Noor Din telah "dikunci" memang telah beredar di kalangan 
wartawan seminggu lalu. 

Tiga jam sebelum kematian itu, polisi masih berusaha mendobrak pintu depan. Bom 
berdaya ledak rendah mereka gunakan. Pintu terbuka. Robot berkamera segera 
disusupkan masuk rumah. Polisi melakukan itu setelah gagal membujuk si buron 
menyerah. Sejak Jumat petang, polisi mengepung dari sisi kiri, kanan, dan 
depan. 

Sabtu pagi itu, pasukan penyergap dari tim antiteror bergerak naik ke bukit, 
persis di belakang rumah. Sempat pula terjadi dialog antara polisi dan Noor 
Din. Ia tak ingin menyerah. "Dia bilang, harus ada polisi yang mati," kata 
sumber Tempo. Sumber lain menyatakan, dari dalam rumah sempat ada pengakuan, 
"Saya Noor Din." Ada pula cerita, Noor Din sempat merintih. 

Jumat tengah malam, suara tembakan memecah keheningan. Sejak sore, warga 
sekitar berjubel menyaksikan peristiwa ini pada jarak 50-100 meter. Tepat pukul 
24.00, polisi menghalau penduduk hingga jarak satu kilometer. "Areal ini harus 
steril, akan ada penyergapan," kata polisi. 

Sorot lampu mobil polisi mengarah ke suatu titik tak jauh dari rumah. Senapan 
polisi kembali menyalak. Seorang warga Kedu mengungkapkan, dua orang ditangkap 
di kebun jagung sebelah rumah. Mereka terluka. Hingga Sabtu malam, tak jelas 
siapa yang disergap. Polisi belum memberikan informasi. 


l l l
DI bengkel sepeda ontel Pasar Kedu, sebelum pengepungan persembunyian Noor Din, 
polisi menangkap Hendrawan, 32 tahun, dan Arif, 25 tahun. Menurut Syaiful Anam 
alias Brekele, Hendrawan dan Arif adalah saudara sepupu Tatag, Ketua Remaja 
Masjid Beji, sekitar 300 meter dari rumah persembunyian Noor Din. "Mereka sel 
saya," katanya. Brekele adalah narapidana 28 tahun yang ditangkap dua tahun 
lalu karena terlibat konflik Poso. Ia dicokok polisi di rumah kontrakannya di 
Dusun Kebon Salak, Desa Purwosari Kecamatan Kranggan, Temanggung, tak jauh dari 
tempat persembunyian Noor Din (lihat "Saya Heran Kok ke Situ Lagi"). 

Menurut Brekele, Tatag adalah sulung dari dua anak Muhzahri. Ia sering 
mengundang Brekele mengisi pengajian Ramadan dan pengajian bulanan di Beji. 
Sebelum dan sesudah pengajian, Brekele mampir di rumah Muhzahri, tempat 
persembunyian terakhir Noor Din. Di mata Brekele, Muhzahri adalah orang tua 
yang baik dan tak ada sangkut-paut dengan terorisme. 

Muhzahri pensiunan guru agama sekolah dasar. Kini ia mengajar di SMP 
Muhammadiyah Kedu. Muhzahri juga khatib Jumat di masjid Dusun Beji. Selain 
mengajar, Muhzahri juga berkebun dan menggarap sawah. Istri Muhzahri, Endang 
Istiningsih, 60 tahun, juga dikenal Brekele. "Saya sering disuguhi makan," 
katanya. 

Ketika Brekele bermukim di Beji, Tatag tak tahu bahwa ia terlibat teror Poso. 
"Tatag baru tahu saya teroris setelah saya ditangkap polisi," kata Brekele. 
Sadar akan juga ditangkap, Tatag kabur. Tak lama setelah Brekele ditangkap, 
Tatag diringkus aparat. 


l l l
SEJAK bom Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton menggelegar pada 17 Juli lalu, 
polisi kembali memburu Noor Din.Dalam aksinya Noor Din menggandeng Ibrohim, 
penata bunga yang bekerja di Hotel Ritz-Carlton. Sumber Tempo mengatakan, 
Ibrohim sudah ditangkap di halaman Plaza FX Senayan, Jakarta, beberapa jam 
setelah bom meledak di Marriott dan Ritz-Carlton. Tapi juru bicara Markas Besar 
Kepolisian Nanan Soekarna membantah informasi ini. "Ibrohim belum ditangkap," 
katanya. 

Sumber itu mengatakan, penangkapan Ibrohim memang tak dipublikasikan. Sebab, ia 
pelaku kunci. Melalui Ibrohim ini, kata sumber tadi, polisi mengorek anggota 
jaringan yang terlibat, jalur pelarian, dan titik-titik persembunyian Noor Din. 
Informasi lokasi persembunyian di Temanggung, kata sumber itu, juga berkat 
pengaku-an Ibrohim. Termasuk, penggerebekan rumah di Perumahan Puri Nusaphala, 
Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu pekan lalu (lihat "Gudang Bom di Rumah 
Kontrakan"). 

Kepala Kepolisian Republik Indonesia Bambang Hendarso Danuri mengatakan, 
informasi tentang rumah di Jatiasih didasarkan pada "nyanyian" Amir Ibrahim, 
yang ditangkap di Koja, Jakarta Utara, Rabu pekan lalu. Selain Amir juga 
ditangkap Suryana Surlok alias Yayan, calon pengebom bunuh diri. Amir adalah 
penyewa kamar 1808 JW Marriott. 

Bambang Hendarso mengatakan, setelah Amir ditangkap, polisi memfokuskan aksi 
pada tiga lokasi sekaligus: Temanggung, Solo, dan Jatiasih. "Semuanya mesti 
dikunci," ujarnya. Apalagi Solo dan Temanggung sudah diintai polisi juga sejak 
sepuluh hari sebelum penyergapan. 

Di Solo polisi sudah mendapatkan seorang berinisial SS, perekrut Ibrohim serta 
sang "pengantin"-nama sandi untuk pengebom bunuh diri-yakni Dani Dwi Permana, 
19 tahun, dan Nana Ikhwan Maulana, 28 tahun. Dwi, warga Telaga Kahuripan, 
Parung, Bogor, adalah pengebom bunuh diri Marriott. Sedangkan Nana, warga 
Pandeglang, Banten, pengebom bunuh diri Ritz-Carlton. "Kami sudah tahu sejak 
tanggal 3 Agustus lalu, dan kami simpan dulu sampai ada perkembangan," kata 
seorang polisi. 

Menurut Kapolri, tiga tempat diawasi sekaligus karena polisi tak ingin 
kecolongan. Bila satu daerah saja yang difokuskan, "Yang lain akan terlewat." 


l l l
NOOR Din lulusan Jurusan Teknik Mesin Universiti Teknologi Malaysia di Skudai, 
Johor Malaysia. Saat kuliah, ia mengaji ke Pesantren Luqmanul Hakiem, Ulu 
Tiram, Johor. Menurut Penasihat Senior International Crisis Group Jakarta, 
Sidney Jones, sikap radikal Noor Din dipengaruhi Hambali, yang kini ditahan di 
Guantanamo. Hambali adalah Ketua Mantiqi I Jamaah Islamiyah yang berpusat di 
Johor. Orang Cianjur ini taat pada Usamah bin Ladin, yang pada 1998 memfatwakan 
serangan terhadap Amerika dan negara Barat. 

Noor Din masuk ke Indonesia pada 2002 melalui Riau, setelah Malaysia menangkapi 
aktivis Kumpulan Mujahidin Malaysia. Noor Din lalu menikahi Rahma, adik 
Muhammad Rais, saat di Johor. Rais dan Rahma adalah anak Rusdi, warga Rokan 
Hilir, Riau, yang kemudian hijrah ke Johor. Rais juga santri Luqmanul Hakiem. 
Rais, 35 tahun, sempat dipenjara karena membawa bahan peledak untuk bom 
Marriott 2003. 

Noor Din dan Rais sempat membuka bengkel shock breaker mobil di Bukittinggi, 
Sumatera Barat. Sebelum bom meledak di Bali pada 12 Oktober 2002, perakit bom 
Dr Azahari bergabung. Polisi memburu Noor Din dan Azahari karena terlibat bom 
Bali. Mereka juga merancang bom Marriott setahun kemudian. 

Noor Din dan Azahari sempat bersembunyi di Bandung. Di sana mereka menyiapkan 
bom untuk Kedutaan Besar Australia, Oktober 2004. Noor Din dan Azahari juga 
merancang aksi bom Bali, Oktober 2005. Azahari tewas saat disergap polisi di 
Kota Batu, Jawa Timur, sebulan setelah bom Bali II. "Sejak itu Noor Din terus 
berpindah. Tapi masih di Jawa, terutama Jawa Tengah," kata Sidney. 


l l l
NOOR Din tewas meninggalkan anggota jaringan yang masih berserak. Ada Taufiq 
Buraga atau Upik Lawanga. Ia peracik bom Marriott dan Ritz-Carlton. Upik 
menjadi jaringan Noor Din melalui Maruto Jati Sulistyono dan Tedi alias Reno. 
Dua orang ini berada di bawah Noor Din dalam struktur kelompok. Maruto, 30 
tahun, kata Sidney, mulai diketahui ada dalam jaringan Noor Din setelah polisi 
menggerebek rumah persembunyian di Wonosobo, Jawa Tengah. 

Maruto sempat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung, 
Semarang. Ia berasal dari Cawas, Klaten, Jawa Tengah. Tedi, 35 tahun, lulusan 
Ma'had Aly Solo. Ia belajar membuat bom pada Azahari. Tedi, kata Nasir, 
membantu menyiapkan bom Bali II. Ketika polisi memberondong Azahari di Batu 
pada November empat tahun lalu, Tedi juga di sana tapi lolos. Tedi, kata 
Sidney, besar kemungkinan adalah Aji, guru pembuat bom dalam kelompok 
Palembang. 

Sumber di kalangan tentara menyebutkan, selain Upik, ada tiga perakit bom lain: 
Gun Gun, Imadudin, dan Muchliyansyah. Gun Gun punya hubungan dengan Ali 
Mughorobi di Kediri, Jamal di Klaten, Mutawakil di Bali, dan Daryanto di 
Temanggung. 

Selain mereka, ada sejumlah anggota jaringan Jamaah Islamiyah yang diyakini 
berkeliaran di Indonesia. Dalam daftar International Crisis Group Mei lalu, 
selain Upik Lawanga, ada tujuh buron lain yang terlibat rusuh Poso: Aris 
Sumarsono alias Zulkarnaen, Taqwimbillah, Ustad Rifqi, Ustad Munsip, Ustad 
Kholiq, Ustad Yahya, dan Enal Ta'o. 

Zulkarnaen adalah angkatan pertama pelatihan perang di Afganistan pada 1985. 
Lahir di Sragen, Jawa Tengah, 1963, ia pemasok logistik aksi bom. Zulkarnaen 
komandan Jamaah Islamiyah untuk bidang militer. "Ia terlibat sejumlah peledakan 
bom, termasuk bom Bali I," kata Sidney Jones. 

Buron lain, Taqwimbillah, pernah hampir ditangkap polisi di Sukoharjo, Jawa 
Tengah, dua tahun lalu. Ia kelompok Abu Dujana. Adapun Ustad Rifqi berumur 33 
tahun. Setelah mendapat pelatihan militer di Mindanao, ia mengajar di Pesantren 
Al-Amanah, Poso, Sulawesi Tengah, pada 2003. Ia mengajar kemiliteran pada 
orang-orang Poso yang ia rekrut. Rifqi kemudian lari ke Jawa bersama Ustad 
Kholiq dan Ustad Yahya. 

Seperti Rifqi, Kholiq juga lulusan kamp pelatihan militer di Mindanao yang 
kemudian mengajar di Pesantren Al Amanah. Sedangkan Yahya membantu membawa ke 
Jawa sejumlah ustad yang mengajar di Poso pada Januari 2007. Yahya dipercaya 
dibantu Abu Fatih, pimpinan Jamaah Islamiyah untuk Sulawesi. 

Rifqi dan Yahya, bersama Ustad Munsip, terlibat perampokan toko emas. Munsip 
anggota senior Jamaah Islamiyah di Poso. Munsip pernah berlatih di Mindanao dan 
mengajar di Pesantren Al Amanah Poso. Ia kabur dari Poso ke Parepare setelah 
polisi menyapu pesantren itu pada Januari 2007. Dari Parepare, Munsip balik ke 
Jawa. 

Masih dalam jaringan Poso, ada Enal Ta'o. Ia anggota Jamaah Islamiyah asal 
Malaysia keturunan suku Tausug, Filipina. Pria 31 tahun ini juga terlibat 
sejumlah pembunuhan dan perampokan di Poso. Ia juga pernah menyerang kantor 
polisi Poso. 

Sumber di kalangan tentara juga mencatat nama Ustad Sanusi dalam daftar 
jaringan Poso. Sanusi, berasal dari Jawa, terlibat perencanaan pembunuhan tiga 
siswa SMA Kristen yang dipenggal kepalanya pada Oktober empat tahun lalu. 

Anggota Jamaah Islamiyah lain yang hingga kini buron adalah Tukiadi alias Ilyas 
dan Asep bin Abubakar alias Darwin. Tukiadi berasal dari Kudus, Jawa Tengah. Ia 
pelatih di kamp militer Jamaah Islamiyah di Mindanao. Tukiadi belajar merakit 
bom pada Azahari pada 2004. 

Asep ambil bagian dalam bom malam Natal tahun 2000 dan pengeboman Atrium Senen 
tahun berikutnya. Setelah peristiwa itu, ia diyakini terbang ke Mindanao. "Tapi 
sejumlah laporan menyatakan Asep tinggal di Kalimantan Timur," kata Sidney. 

Selain itu, ada lagi enam pengebom yang pernah beraksi di Indonesia tapi kini 
diduga kuat melarikan diri ke Mindanao. Mereka Umar Patek, Joko Pitono alias 
Dulmatin, Hari Kuncoro alias Bahar, Muawiyah alias Manobo, Zulkifli bin Hir 
alias Marwan, dan Ustad Sanusi alias Ishak. 

Sumber di kalangan Jamaah Islamiyah mengungkapkan, masih banyak pembuat bom dan 
eksekutor bunuh diri yang berkeliaran. Mereka disebut pasukan khos, berjumlah 
paling tidak seratus orang. "Mereka siap dipanggil untuk aksi bom bunuh diri," 
katanya. 

Sunudyantoro, Yophiandi, Munawwaroh (Jakarta), M. Syaifullah dan Sohirin 
(Temanggung), M. Darlis (Palu)

<<head1225.jpg>>

Kirim email ke